
Elma membuka matanya secara perlahan. Ia memandang Rivan yang masih tertidur dengan pulas. Wanita itu baru sadar kalau dirinya dan Rivan tertidur sambil bersandar di sebuah pohon besar. Kedua mata Elma melebar ketika melihat jurang yang begitu curam ada di depan mereka.
Sedikit saja mereka salah bergerak mereka akan masuk ke dalam jurang tersebut. Ketika ingin berdiri Elma memandang jas yang kini menutupi tubuhnya. Ternyata tanpa disadari, Rivan telah membuka jasnya dan menjadikannya sebagai selimut untuk Elma.
Karena melihat Rivan masih tidur dengan lelap Elma tidak berani membangunkan pria itu. Dia meletakkan jas Rivan di bawah lalu berjalan ke tepian jurang untuk melihat kondisi di bawah sana.
Bersamaan dengan itu Rivan terbangun. Pria itu segera berlari mengejar ketika melihat Elma berjalan menuju ke arah jurang.
"Apa yang kau lakukan? Jangan bunuh diri! Kita pasti bisa untuk keluar dari tempat ini!" teriak Rivan sambil berlari.
Elma memandang ke belakang. "Siapa juga yang mau bunuh diri? Aku hanya ingin melihat pemandangan di bawah. Lihatlah ke bawah. Jika kita bisa turun dan menelusuri sungai di bawah,aku yakin kita pasti akan tiba di sebuah Desa," ucap Elma dengan penuh keyakinan.
"Belum tentu. Bagaimana kalau di ujung sungai ternyata hanya ada air terjun? Sungai-sungai besar seperti ini akan berakhir dengan air terjun yang mengerikan. Kalau dipikir-pikir lagi, jurang ini juga sangat dalam. Sulit sekali untuk turun ke bawah. Di tambah lagi kau ini seorang wanita," ucap Rivan tanpa memandang.
"Saat ini aku justru mengkhawatirkanmu! Meskipun kau ini bukan seorang wanita, tetapi kau tidak memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di hutan?" ketus Elma gantian. "Terlihat jelas dari sikapmu sejak tadi malam. Bukan aku ingin menghinamu. Tetapi dari apa yang aku lihat, aku bisa menyimpulkan kalau kau ini pria yang payah! Hanya bisa mengandalkan uang saja."
Rivan tidak mau menyangkal karena apa yang dikatakan Elma memang benar. "Ya kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya aku pun takut turun ke bawah. Kenapa kita tidak kembali ke mobil saja? Siapa tahu kita bisa menemukan jalan keluar dari sana. Aku yakin orang-orang yang mengejar kita pasti sudah pergi dari hutan ini karena semalam mereka tidak berhasil menemukan kita." Rivan tersenyum penuh percaya diri.
"Tidak! Aku yakin mereka masih ada di sekitar hutan ini."
__ADS_1
Rivan memandang ke kanan ke kiri. Lagi-lagi ia merasa yakin kalau orang yang ingin menangkap mereka sudah pergi dari hutan. Elma berjalan mendekati Rivan. Wanita itu menyingkirkan sesuatu yang sejak tadi ada di atas rambut Rivan.
"Ada apa?" tanya Arifan bingung. Pria itu memandang wajah cantik Elma dari jarak yang begitu dekat. Rivan menjadi kagum. Bahkan dia tidak berkedip untuk beberapa detik. "Kenapa aku harus bertemu dengan wanita secantik ini di tempat seperti sekarang? Kalau saja kami bertemu di tempat yang bagus, pasti tidak akan jadi seperti sekarang. Aku yakin dia akan langsung kagum melihat kemampuanku dalam berbisnis," gumam Rivan di dalam hati.
"Ada ulat di atas kepalamu. Jika sampai menyentuh kulitmu akan terasa gatal," ucap Elma. Setelah ia berhasil menyingkirkan ulat tersebut dari kepala Rivan, Elma segera menjauh dari tubuh Rivan.
Rivan memandang ulat yang masih hidup di tanah. Tanpa belas kasih pria itu menginjaknya hingga mati. "Terima kasih."
"Apa yang sudah menyebabkanmu bisa sampai berada di hutan ini. Kau bilang seseorang menculikmu. Apa kau tahu kira-kira siapa yang sudah merencanakan penculikan ini?" Tiba-tiba saja Elma menjadi penasaran dan ingin tahu banyak soal kehidupan Rivan.
"Seharusnya semalam aku menikah dengan seorang wanita. Mungkin Wanita itu sudah memiliki kekasih. Hingga akhirnya kekasih wanita itu menyuruh orang untuk menculikku agar pernikahan kami gagal. Tapi aku tidak merasa sedih karena gagal menikah dengan wanita itu. Sekarang aku sudah menemukan wanita yang sesuai dengan kriteriaku." Rivan memandang Elma dengan senyuman penuh arti.
"Sekarang bagaimana? Apa keluargamu tidak mencarimu? Bukankah kau ini seorang wanita. Mereka pasti khawatir ketika tahu kau hilang."
"Mereka pasti akan mencariku tapi tidak tahu kapan. Sekarang lokasi yang bisa dijadikan tempat bertemu adalah rumah itu. Tapi kita tidak mungkin ke sana karena pasti musuh juga berjaga-jaga di sekitar rumah tersebut. Mereka pasti merasa yakin kalau Aku akan kembali ke rumah itu."
"Kau kenal dengan orang-orang yang ingin menangkapmu?"
"Aku tidak kenal. Tetapi aku tahu kalau mereka adalah orang suruhan musuh Daddy. Sudah lama mereka mengincarku untuk dijadikan sandera. Ketika mereka berhasil menangkapku mereka akan menjadikanku kelemahan untuk mengalahkan adikku. Aku tidak mau sampai tertangkap karena itu hanya akan menyusahkan adikku saja." Elma mengatur napasnya. Dia berharap kali ini tidak merepotkan Eren karena adiknya itu baru saja menikah.
__ADS_1
"Kita harus memikirkan cara untuk selalu bersembunyi dari mereka. Jangan sampai tertangkap!" ujar Rivan penuh semangat.
Elma mengangguk. Tiba-tiba saja mereka dikagetkan dengan sebuah suara. Tiba-tiba ada sebuah jarum yang menancap di tangan Elma. Begitu juga dengan Rivan. Elma memandang jarum yang menancap di tubuhnya itu dengan kaget.
"Gawat! Mereka ada di sini!" Wanita itu berusaha untuk mencabut jarumnya. Tetapi para musuh sudah mengepung mereka. Tidak mau sampai celaka, Elma menarik jarum itu lalu membuangnya.
"Kali ini kalian tidak akan bisa kabur lagi," ucap salah satu pria. Rivan yang tidak segera mencabut jarum itu dari kulitnya segera pingsan. Dengan mudahnya musuh menangkap pria itu. Elma memandang sungai yang ada di bawah. Bisa saja ia lompat untuk menyelamatkan diri karena Elma jago renang. Tetapi wanita itu merasa kasihan dan tidak tega untuk meninggalkan Rivan. Bagaimanapun juga musuh mereka tidak bisa ditebak. Bisa saja mereka membunuh Rivan dan Elma akan merasa berdosa karena sudah membiarkan pria itu sengsara karena ulahnya sendiri.
"Ikut dengan kami maka kau tidak akan celaka," ucap salah satu pria yang ada di sana.
"Baiklah. Tapi ada satu syarat. Lepaskan pria itu dan antar dia kembali ke kota," ucap Elma dengan tatapan menantang. Tidak terlihat jelas dari mata wanita itu kalau dia ketakutan.
Para musuh terlihat memikirkan permintaan Elma. Namun memang permintaan Elma sangat tidak sulit hingga akhirnya mereka setuju.
"Baiklah. Sekarang kami harus mengikat tanganmu agar kau tidak kabur lagi. Setelah kau ikut bersama kami kami akan segera membawa pria ini dan mengantarkannya ke kota," jawab salah satu pria.
Elma menyerahkan kedua tangannya. Kali ini dia tidak memiliki pilihan lagi. "Aku akan memikirkan caranya untuk kabur. Yang penting sekarang pria ini baik-baik saja. Semoga saja kita tidak bertemu lagi karena kau akan selalu mendapat masalah jika dekat-dekat denganku," gumam Elma di dalam hati.
Rivan yang sudah tidak sadarkan diri segera dibawa menuju ke mobil bersama dengan Elma. Para musuh terlihat sangat bahagia karena pada akhirnya mereka berhasil menangkap Elma hidup-hidup.
__ADS_1