Putri Tangguh

Putri Tangguh
Hukuman untuk Luis


__ADS_3

"Kondisi Nona Eren sudah jauh lebih baik sekarang, Tuan. Anda tidak perlu mengkhawatirkannya. Obat yang diminum oleh Nona Eren juga dosis rendah Jadi sangat mudah untuk diatasi. Tetapi saran saya Nana Eren jangan sering-sering mengkonsumsi obat seperti itu karena tidak baik untuk kesehatannya juga," jelas Dokter yang kini berdiri di depan Zico. Zico diam sunzena sambil memikirkan kira-kira hukuman apa yang pantas untuk Luis. Pria itu marah besar sekarang. Baginya, hal seperti ini tidak pantas untuk dijadikan lelucon.


"Kalau begitu, Saya permisi dulu, Tuan," ucap dokter itu pada akhirnya ketika Zico tidak juga memberikan respon.


"Terima kasih," jawab Zico singkat sebelum pria itu masuk ke dalam kamar. Bahkan pria itu tidak lagi peduli dengan dokter yang baru saja memeriksa Eren.


Hembusan napas Eren sudah terlihat kembali tenang. Wanita itu tidur di atas tempat tidur yang ada di kamar bawah. Zico membawa Eren pulang.


Dalam perjalanan menuju ke rumah, pria itu menghubungi Dokter yang pernah memeriksa Eren agar segera datang ke rumah.


Di saat Zico tiba, Dokter itu juga tiba. Dengan obat yang dimiliki Dokter, akhirnya Eren bisa melupakan hasrat yang sempat memuncak dan membuatnya tersiksa.


Zico duduk di pinggir tempat tidur. Pria itu membenarkan selimut yang menutupi tubuh Eren sebelum memandang wajah wanita itu. Secara perlahan Zico mengangkat tangannya lalu mengusap pipi air yang lembut. tiba-tiba saja seula senyum terlihat di wajah Zico. Pria itu kembali membayangkan ketika Eren menciumnya tadi. Entah kenapa, dia tidak memiliki kemampuan untuk menolaknya.


"Eren, sebenarnya sampai detik ini aku masih tidak percaya kalau aku sudah menikah dengan wanita sepertimu. Kau memang wanita yang spesial. Benar kata Elma, tidak seharusnya aku mengabaikanmu seperti ini. Tetapi, aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita."


Zico beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke arah pintu. Pria itu tahu kalau Luis sudah tiba dan berdiri di sana. Sebelum Luis mengetuk pintu, Zico sudah membuka pintu dan menatap pria itu dengan tajam.


"Maafkan saya, Bos." Karena merasa bersalah, akhirnya Luis menunduk. Bahkan pria itu tidak mau mengangkat tubuhnya sebelum Zico memaafkannya.


"Bagaimana dengan Lusi?"

__ADS_1


"Saya sudah membawanya pulang, Bos. Dia mendapatkan beberapa jahitan di tangannya."


"Roger?"


"Dia menghilang tanpa jejak. Tetapi sepertinya dia masih ada di kota ini," jawab Luis apa adanya.


Zico mengangguk. "Sekarang sudah malam. Pergilah tidur."


Luis memandang wajah Zico dengan tatapan bingung. Biasanya setiap kali melakukan kesalahan, pria itu selalu memberi hukuman. Tetapi sekarang justru Zico terlihat tenang menghadapi Luis.


"Anda tidak menghukum saya, Bos?"


"Kau mau hukuman?" tanya Zico sembari menaikan satu alisnya.


"Baiklah, jika kau memaksa." Zico diam sejenak. Pria itu kembali berpikir kira-kira hukuman apa yang cocok untuk Luis. "Aku ingin besok pagi kau masak sarapan pagi untukku. Kau harus bisa menjamin kalau rasanya sesuai dengan lidahku!"


Luis melebarkan kedua matanya. Pria itu langsung berlutut dihadapan Zico. "Tolong, Bos. Jangan beri saya hukuman seperti itu. Saya rela di kurung di gudang atau dipukul hingga babak belur. Tapi jangan hukum saya untuk memasak di dapur besok pagi."


Selain menurunkan harga dirinya, Luis tidak yakin masakan yang ia buat enak rasanya. Namun, dilihat dari ekspresi Zico, justru pria itu senang bisa berhasil menemukan hukuman yang cocok untuk Luis.


"Tidurlah. Besok lagi kau harus bangun untuk masak!" Zico kembali masuk ke dalam kamar. Pria itu bahkan tidak peduli lagi dengan Luis yang masih berlutut di lantai.

__ADS_1


Luis menghela napas kasar. "Kenapa dia bisa memiliki pemikiran seperti ini!"


...***...


Eren membuka kedua matanya secara perlahan ketika dia merasakan seseorang tidur di sampingnya. Kedua mata wanita itu langsung melebar ketika dia melihat Zico sedang terlelap di tempat tidur yang sama dengannya.


"Apa yang terjadi?" Eren segera memeriksa pakaian yang ia kenakan. Wanita itu terlihat lega ketika melihat pakaiannya belum terganti. Samar-samar Eren kembali mengingat kejadian tadi malam.


"Yola muncul untuk menghalangi jalan kami. Lalu setelah itu apa lagi yang terjadi? Kenapa aku tidak ingat?" Eren memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Wanita itu memandang ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Karena tidur terlalu cepat akhirnya Eren cepat bangun juga. "Kenapa aku tiba-tiba ada di kamar ini? Oh ya, Lusi. Dimana dia? Dia harus menceritakan yang sebenarnya terjadi."


Eren menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu dia ingin menurunkan kakinya ke lantai. Namun tiba-tiba saja tangan Zico menggenggam tangan kirinya. Pria itu menarik tangan Eren agar Eren kembali tertidur.


"Apa yang kau lakukan?" protes Eren tidak suka.


"Kau butuh banyak istirahat. Jadi jangan banyak bergerak dulu," sahut Zico masih dengan mata terpejam.


"Apa kau sedang bermimpi?" tanya Eren untuk kembali memastikan. Karena baginya sikap Zico yang seperti ini tidak sama seperti Zico yang biasa ia temui.


Bukan menjawab pertanyaan Eren, justru Zico mengangkat kakinya dan meletakkannya di atas kaki Eran agar wanita itu tidak bisa bergerak lagi.


"Hei, apa yang kau lakukan? Menyingkirlah dari tubuhku!" ketus Eren semakin kesal.

__ADS_1


"Aku bilang tidur!" kata Zico lagi masih dengan mata yang terpejam


"Sebenarnya dia ini kenapa? Apa dia salah minum obat?" gumam Eren di dalam hati. Namun pada akhirnya wanita itu memutuskan untuk kembali memejamkan mata. Tubuhnya terasa lemas hingga ia tidak memiliki kekuatan untuk bertarung dengan Zico pagi ini.


__ADS_2