
Beberapa hari kemudian.
Cuaca sore itu terasa begitu tenang. Setelah kejadian di Jepang, Eren lebih banyak diam. Bahkan Lusi sendiri terlihat kebingungan. Mereka semua penasaran dan ingin tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi saat Eren bertemu dengan Roger. Namun sampai detik ini Eren tidak mau menceritakan apapun. Bisa dibilang hanya Eren dan Black Crystal yang mengetahuinya.
Sore itu Zico baru saja melatih anak buahnya. Pria itu menahan langkah kakinya melihat Eren duduk sendirian di depan kolam ikan. Luis yang berdiri di samping Zico mengerti dengan apa yang dipikirkan Tuannya.
“Bos, sebaiknya anda lebih mendekatkan diri dengan Nona Eren. Bagaimanapun juga, sekarang dia istri anda. Meskipun saya tahu anda masih marah karena masalah penculikan waktu itu. Tetapi tidak sepantasnya anda bersikap dingin seperti ini di depan Nona Eren.” Luis tidak tahu ini berhasil atau tidak. Namun pria itu ingin melihat Zico membuka hatinya untuk Eren. Luis ingin melihat Zico jatuh cinta.
“Apa yang harus aku katakan? Dia sendiri yang terlihat menghindariku beberapa hari ini.” Zico memandang kolam renang yang tidak jauh dari posisinya berdiri. Wajah pria itu terlihat marah. Selama beberapa hari ini dia belum ada melewati kolam renang. Hari ini justru dia dibuat kaget melihat kolam renang yang sudah diisi air.
“Siapa yang melakukan semua ini?” ketus Zico.
Luis memandang ke depan. Pria itu juga kaget. Namun, dia tahu siapa yang sudah melakukan semua ini.
“PELAYAN!” teriak Zico hingga membuat beberapa pekerja yang ada di sana ketakutan. Teriakan Zico sampai ke telinga Eren. Wanita itu memperhatikan Zico dan Luis dengan wajah penuh tanya.
“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” tanya salah satu pelayan yang kebetulan ada di sana dan mendengar teriakan Zico sore itu.
“Siapa yang sudah lancang mengisi kolam renang ini!” tanya Zico dengan rahang yang sudah keras. Rasanya pria itu sudah tidak sabar untuk memukul orang yang sudah berani mengusik kediamannya.
“Saya!”
Zico dan Luis memandang ke samping. Begitu juga dengan para pelayan yang kini berbaris rapi di hadapan Zico. Eren berdiri di sana dengan tangan terlipat di depan dada. Wanita itu melangkah mendekat. Ia melirik ke arah kolam renang yang sudah dipenuhi air. Memang sejak memberi perintah agar kolam renang itu diisi air, Eren belum memiliki kesempatan untuk melihatnya. Bahkan dia tidak memiliki waktu untuk mencicipi kolam renang tersebut.
“Kau?” Zico berusaha menahan emosinya. “Lancang sekali! Jangan kau pikir karena kau istriku, kau bisa sesuka hatimu merubah aturan yang sudah ada di rumah ini. Kolam renang ini tidak boleh di isi air!” ketus Zico hingga membuat Luis tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Padahal tadinya dia berharap Zico dan Eren bisa berdamai. Namun yang di dapat justru pemandangan seperti ini.
“Ini juga rumahku. Aku memiliki hak untuk mengaturnya.” Eren tahu dia salah. Namun bukan Eren namanya jika dia mau mengakui kesalahan yang sudah dia perbuat.
Zico malas berdebat dengan Eren. Pada akhirnya pria itu memandang pelayan yang ada di hadapannya. “Kosongkan kolam ini sekarang juga. Jika besok pagi aku masih melihat genangan air ini, aku akan memecat kalian semua!” ancam Zico.
“TIDAK!” Eren angkat bicara. “Tidak ada yang boleh mengosongkan kolam renang ini. Kolam ini akan tetap seperti ini!”
“EREN!”
“ZICO!” teriak Eren tidak mau kalah.
Lusi yang baru saja tiba hanya berdiri di tempatnya. Wanita itu sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Sama halnya dengan Luis.
“Aku tidak suka ada kolam renang. Besok aku akan menyuruh orang untuk menghilangkan kolam renang ini dari hadapanku. Bukan hanya sekedar menghilangkan airnya saja.” Zico memandang ke arah Luis. “Pastikan besok kola mini hilang. Aku tidak mau ada kolam renang di rumahku!”
__ADS_1
“Baik, Bos,” jawab Luis cepat.
“Kau memang menyebalkan!” umpat Eren kesal. Wanita itu segera memutar tubuhnya dan pergi dalam keadaan marah. Lusi segera mengejar Eren karena mengkhawatirkan keadaannya.
“Bos, apa tidak sebaiknya anda mengalah saja. Biarkan kola mini tetap seperti ini. Nona Eren sepertinya menyukai kolam ini,” bujuk Luis berharap Zico setuju.
“Kau tahu betapa bencinya aku dengan kolam renang. Jadi, jangan paksa aku untuk melihatnya!” Zico juga memutuskan pergi. Pria itu tahu jika terlalu lama berdiri di sana, Luis akan terus membujuknya agar mau menuruti permintaan Eren.
“Bos, anda mau kemana?” teriak Lusi. Wanita itu terus saja mengejar Eren yang kini berjalan cepat menuju ke mobil.
“Biarkan aku sendiri. Jangan ikuti aku!” ketus Eren sebelum masuk ke dalam mobil. Wanita itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Lusi begitu saja.
“Dia mau kemana?” lirih Lusi dengan wajah sedih.
“Saat masih kecil Bos Zico kehilangan adik kandungnya di kolam renang. Nona Lyn tewas karena tenggelam. Sejak saat itu Bos Zico tidak bisa menggerakan tubuhnya setiap kali dia masuk ke dalam air. Bukan hanya kolam renang saja. Tetapi laut, danau bahkan sungai. Aku harap kau bisa menyampaikan cerita ini kepada Nona Eren agar dia tidak salah paham terhadap Bos Zico.”
Lusi menghela napas panjang. “Sekarang masalahnya Bos Eren sudah pergi dan aku tidak tahu dia pergi kemana.”
Luis memandang ke gerbang sejenak. Ponsel pria itu berdering hingga dia lebih memilih untuk menjauh dari Lusi.
“Ada apa?”
“Bos, Roger tiba di kota ini!”
“Dia memang pria yang paling menyebalkan. Kenapa Daddy menikahiku dengannya? Kami tidak cocok. Sama sekali tidak cocok!” ujar Eren sambil melempar batu krikil ke arah laut yang ada di hadapannya.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya terhadap Zico, Eren pergi ke sebuah tebing untuk menikmati pemandangan laut di sana. Wanita itu bahkan rela mendaki tebing dan meninggalkan mobilnya begitu saja. Dia duduk di sebuah batu berukuran besar. Angin di sana sangat kencang di tambah lagi pemandanan sore yang sangat indah. Cocok sekali untuk menenangkan diri.
Eren memutuskan pulang jika dia sudah berhasil melihat matahari tenggelam. Wanita itu sebenarnya masih malas bertemu dengan Zico. Apa lagi mereka masih tidur di kamar yang sama. Meskipun terpisah lantai atas dan bawah. Tapi tetap saja mereka masih terhitung satu kamar.
“Beby.”
Eren mengernyitkan dahi mendengar suara pria yang sangat tidak asing di telinganya. Wanita itu memandang ke belakang. Betapa kagetnya Eren melihat Roger dan anak buahnya berdiri di sana. Mereka memegang senjata api dan siap menyerang Eren kapan saja.
“Sial! Tadi aku berdebat dengan Zico di rumah. Sekarang aku harus bertemu dengan pria mesum ini,” batin Eren dengan wajah frustasi. Wanita itu mengeluarkan senjata apinya. “Apa yang kau inginkan? Kau ingin balas dendam?”
Roger menggeleng kepalanya. Untuk sejenak pria itu juga menikmati pemandangan indah yang ada di sana sebelum memandang Eren. “Aku tidak menyangka kalau malam itu aku telah bertemu dengan istri dari musuhku. Selama ini aku sangat penasaran dan berniat untuk mencelakaimu. Aku berpikir kalau kau mati, Zico akan frustasi. Pria itu akan menjadi pria paling menderita di dunia ini. Tetapi keadaan tidak sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Ternyata kalian menikah karena dijodohkan. Baik kau maupun Zico tidak saling mencintai. Aku sangat senang mendengarnya.” Roger mengulurkan tangannya. “Cantik, jadilah istriku. Tinggalkan pria itu. Aku janji akan memberimu kebahagiaan yang tiada tara. Aku memiliki yakuza yang bisa melindungimu dari bahaya. Aku memiliki bisnis yang bisa menyenangkanmu.”
Eren tertawa mendengar tawaran Roger sore itu. “Anda gila?”
__ADS_1
Roger mengangkat kedua bahunya. “Anggap saja seperti itu. Kau harus tahu, Eren. Sore ini aku muncul di sini bukan lagi untuk mengincar nyawa Zico tetapi aku ingin menjemputmu. Aku akan mengajakmu pulang ke Jepang. Kita akan hidup bahagia di sana.”
Ternyata Roger telah jatuh cinta pada Eren sejak pertemuan pertama mereka wantu itu. Awalnya memang Roger mengumpat dirinya sendiri. Karena kebodohannya, dia kehilangan Zico. Bahkan lebih parahnya lagi, wanita yang pernah ia anggap lemah dan bodoh ternyata begitu menarik dan membuatnya tertantang untuk memilikinya.
“Maaf, Tuan. Anda sudah salah paham. Saya dan Zico memang tidak saling mencintai. Kami menikah karena dijodohkan. Tetapi bukan berarti saya mau menikah dengan anda. Seburuk apapun dia, saya tetap istrinya. Jadi, jika tidak ada lagi yang ingin anda bicarakan. Sebaiknya anda tinggalkan tempat ini karena saya butuh ketenangan.” Eren melirik lautan yang tidak jauh dari posisinya berdiri. Wanita itu akan melompat jika keadaan mendesak. Toh dia bisa berenang. Berenang di lautan lepas seperti itu sudah menjadi makanan Eren sehari-hari. Dia sama sekali tidak takut karena Eren merasa yakin kalau dia akan baik-baik saja.
“Kau tidak akan bisa menolak. Karena apapun caranya akan saya lakukan asalkan saya berhasil membawamu pulang ke Jepang!” Wajah Roger mulai serius. Pria itu sudah memberi perintah kepada bawahannya untuk menangkap Eren.
Eren mencari posisi yang aman. Wanita itu siap untuk menyerang orang-orang Roger satu persatu. “Kalian tidak akan bisa mengalahkanku!” ujar Eren.
Roger memandang Eren dengan begitu serius. Pria itu semakin jatuh cinta ketika melihat kemampuan bela diri Eren yang begitu hebat. Di waktu yang bersamaan, Zico dan yang lainnya muncul. Lusi dan Luis segera berlari untuk menolong Eren. Sedangkan Roger dan Zico saling berhadapan. Dua pria yang memang sejak dulu bermusuhan itu kini saling menatap dengan penuh dendam.
“Kebetulan sekali kau ada di sini. Sudah sejak kemarin aku ingin membalas perbuatanmu!” ujar Zico. Pria itu mengepal kuat tangannya karena sudah tidak sabar memukul Roger.
“Tapi saya datang ke sini bukan ingin mencari ribut dengan anda. Saya ke sini untuk menjemput wanita saya!” Roger menunjuk ke arah Eren.
“Dia istriku!” Zico semakin emosi melihat Roger.
“Benarkah? Tetapi kenapa anda tidak pernah menganggapnya sebagai istri? Tuan Zico Roriques, apa anda tahu kalau istri anda belum pernah bersentuhan dengan pria manapun? Bahkan tidak belum pernah berciuman. Anda mau tahu siapa pria pertama yang berani untuk menyentuh dan menciumnya?”
Zico yang sudah emosi segera berlari untuk menghajar Roger. Roger segera membalas pukulan Zico. Dua pria itu akhirnya juga berkelahi untuk mengalahkan satu sama lain. Begitu juga dengan Eren dan yang lainnya. Mereka semua saling mengalahkan.
“Bos, apa anda baik-baik saja?” tanya Lusi. Wanita itu memeriksa tubuh Eren.
Eren tidak langsung menjawab. Wanita itu memandang Zico dan Roger yang kini sedang bertarung. Tanpa bicara dia segera berlari menghampiri dua pria itu. Eren akan membantu Zico untuk mengalahkan Roger.
Sedangkan Lusi tidak bisa mengejar Eren. Wanita itu juga kasihan dengan Luis yang kini bertarung dengan sekuat tenaga untuk mengalahkan pasukan tangguh yang dibawa oleh Roger.
Roger berhenti menyerang Zico ketika melihat Eren muncul. Sama halnya dengan Zico. Pria itu memandang sinis ke arah Eren sebelum memegang tangan Eren dengan erat. Zico tidak mau sampai istrinya di rebut oleh Roger.
Eren memandang tangan Zico dengan alis saling bertaut. Dia datang ke situ untuk menolongnya bertarung. Bukan untuk memamerkan kemesraan di depan Roger.
“Kenapa kau memegang tanganku? Biarkan aku menyerang pria ini,” bisik Eren.
“Diamlah!” sahut Zico. Pria itu memandang Roger dengan tatapan yang begitu tajam. “Dia milikku. Sampai kapanpun akan menjadi milikku! Kau tidak bisa mengambilnya karena selama aku masih bernapas, aku akan berdiri di sampingnya!”
Eren langsung memandang ke arah Zico. Wanita itu tersentuh mendengarnya. Bahkan ada rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan oleh Eren. Wanita itu semakin bersemangat untuk mengalahkan Roger.
“Tuan, anda sudah dengar sendiri bukan? Kami ini sudah menikah jadi jangan berharap untuk menikah denganku!” ucap Eren apa adanya.
__ADS_1
Zico mengernyitkan dahi mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau Roger ingin merebut Eren dari sisinya bukan karena ingin balas dendam, Tetapi karena ingin menikahinya.
“SIAL! Kenapa jadi seperti ini? Aku harus pergi dari tempat ini. Jika kau tetap melawan Zico, itu hanya akan membuat Eren ikut celaka. Aku tidak mau dia sampai terluka,” gumam Roger di dalam hati.