Putri Tangguh

Putri Tangguh
Akhir dari Pertarungan


__ADS_3

Eren berlari menghampiri Zico dan Roxy ketika melihat Roxy mengeluarkan sebuah belatih kecil. Dia tidak mau sampai belatih itu menusuk kulit suaminya. Dengan cekatan Eren mengangkat senjata apinya ingin menembak tangan Roxy.


Namun tiba-tiba saja sebuah pukulan mendarat di punggung Eren hingga membuatnya terjatuh. Wanita itu terlalu khawatir dengan keselamatan Zico sampai-sampai tidak sadar dengan keberadaan musuh yang terus saja mengintainya.


Zico memandang ke samping. Pria itu menjadi tidak fokus ketika melihat Eren tergeletak di atas rerumputan. Kesempatan itu tentu saja tidak disia-siakan oleh Roxy. Pria itu segera menusukkan belati yang ia pegang ke perut Zico.


Zico menahan sakit yang begitu luar biasa di sana. Namun pria itu tidak mudah dikalahkan. Ia justru mengenggam senjata tajam itu tanpa peduli dengan telapak tangannya yang berdarah.


Roxy melebarkan kedua matanya melihat keberanian Zico. Pria itu mundur untuk memikirkan rencana selanjutnya. Dia juga melirik perut Zico yang sudah dipenuhi darah.


"Kenapa dia sama sekali tidak kesakitan?" batin Roxy mulai khawatir.

__ADS_1


Zico mengepal kuat tangannya sebelum memukul wajah Roxy dengan begitu keras. Ketika Roxy terjatuh, Zico segera naik ke atas tubuh pria itu dan menghajarnya hingga puas. Tidak berhenti sampai di situ. Zico juga mengeluarkan belatih miliknya sebelum memamerkannya di depan Roxy.


"Berhenti! Kita bisa bernegosiasi. Kita bisa bicara baik-baik!" ucap Roxy ketakutan. Pria itu tidak mau mati dengan cara yang mengenaskan. Dia tahu pasti Zico akan membalas perbuatannya dengan cara menusukkan belatih itu ke perutnya.


"Kau pikir aku pria yang pemaaf?" Sorot mata Zico semakin tajam. Pria itu segera melayangkan belatihnya di udara sebelum menusukkan benda berbahaya itu ke dada Roxy. Roxy melebarkan kedua matanya merasakan rasa sakit yang begitu mematikan. Tidak cukup sekali. Zico menusuk pria itu hingga berulang kali.


Saat sedang asyik menyiksa Roxy, tiba-tiba sebuah bola meluncur mendekati Zico. Zico tahu kalau benda itu adalah bom. Dengan santainya Zico menendang bola mini itu ke kerumunan musuh yang masih bertarung. Dia tahu perbuatannya sangat beresiko karena anak buahnya juga bisa celaka. Tetapi semua pasukan Zico terlatih. Mereka segera menghindar. Bahkan sebagian juga menendang bola itu ke arah musuh sebelum akhirnya meledak.


"Bos, Nona Eren," ucap salah satu bawahan Zico.


"Semua sudah berakhir, Bos. Dia sudah tewas!" ujar salah satu pasukan Zico. "Bawa Nona Eren pulang. Dia butuh istirahat."

__ADS_1


Zico mulai merasa sakit atas tusukan yang ia terima. Pria itu terduduk di rumput sembari memegang perutnya. Jelas saja hal itu membuat panik semua orang. Pasalnya ketika Roxy menusuk Zico, tidak ada yang melihatnya kecuali Eren. Sebelum wanita itu tidak sadarkan diri, dia sempat melihat suaminya di tusuk melatih.


Tetapi sebelum anak buah Roxy mencelakai Eren lebih jauh, pasukan milik Eren segera melindungi Eren dan mengalahkan orang yang berniat jahat terhadap Eren.


"Bos, apa yang terjadi? Kenapa perut anda berdarah?" tanya pria itu khawatir.


Zico menggeleng. Pria itu memaksakan diri berdiri. Dia berjalan menghampiri Eren. Pria itu sudah pucat karena kehidupan banyak darah. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia berusaha menggendong istrinya untuk membawanya pulang.


"Tidak, Tuan. Anda sedang terluka. Biar kami yang membawa Bos Eren," tolak pasukan milik Eren.


Zico menggeleng. Pria itu tetap bersih keras untuk menggendong Eren. Sejenak dia memandang wajah istrinya sebelum tersenyum.

__ADS_1


"Bos!"


Tiba-tiba saja semua terasa gelap. Zico terjatuh bersama dengan Eren digendongnya. Pria itu tidak sadarkan diri karena luka tusuk yang ia terima.


__ADS_2