Putri Tangguh

Putri Tangguh
Usaha Suami


__ADS_3

Eren membuka kedua matanya ketika dia melihat Zico yang kini berusaha untuk memberi kehangatan kepada Eren. Pria itu tidak memakai jaket. Jaket tebal yang sebelumnya ia kenakan kini ia gunakan untuk menyelimuti tubuh Eren.


Usaha Zico tidak sampai di situ saja. Kini tangan Eren berada di dalam genggaman tangan Zico. Pria itu berusaha memberi kehangatan dari sana dengan cara menggesekkan tangan mereka berdua.


"Kita ada di mana?" tanya Eren dengan bibir yang sudah pucat. "Apa mereka tidak menyerang kita lagi? Lalu kenapa kau bisa ada di sini?" Eren masih ingat betul ketika dia melompat, wanita itu hanya melompat sendirian. Sedangkan Zico masih berdiri di posisinya berada.


"Bertahanlah. Tadi aku sempat mendapatkan sinyal dan aku meminta Luis untuk segera mencari keberadaan kita. Aku ingin kau bertahan sampai mereka tiba." Zico memperhatikan wajah Eren dengan saksama. Kekhawatirannya semakin bertambah. Pria itu tidak mau sampai Eren kenapa-kenapa.


Eren memejamkan mata sejenak lalu mengatur napasnya. Meskipun sudah menggunakan jaket tebal dan selimut, tetap saja wanita itu merasa kedinginan. "Aku haus," ucap Eren. Bibirnya benar-benar kering. Wanita itu memasang sangat kehausan.


Zico segera mengambil botol yang ada di sampingnya. Pria itu terlihat sedih ketika di dalam botol itu hanya ada air yang jumlahnya sangat sedikit. "Minumlah. Setidaknya air ini bisa membasahi tenggorokanmu." Tanpa menunggu lagi Eren segera membuka mulutnya hingga akhirnya air minum itu masuk ke dalam mulut dan membasahi tenggorokannya.


"Kenapa dingin sekali?" Eren terus saja mengeluh.


Ini pertama kalinya bagi Eren berada di gunung salju. Wanita itu sama sekali tidak menyangka kalau ketika tubuhnya merasa kedinginan justru sekujur tubuhnya itu seperti ditusuk-tusuk sebuah jarum. Eren bener-bener tidak sanggup lagi.


Zico melekatkan tangannya di dahi Eren. Wajahnya semakin khawatir ketika tahu kalau Eren kini demam. Zico memandang keadaan sekitar. Sejauh mata memandang mereka tidak menemukan kehidupan di sana. Kini posisi mereka benar-benar terjebak. Zico sendiri sebenarnya merasa kedinginan. Namun dia berusaha kuat agar bisa menjaga Eren dengan baik.


"Dingin," rintih Eren lagi. Wanita itu bahkan mulai menggigil karena tidak sanggup menahan rasa dingin tersebut. "Aku butuh tempat berteduh. Semakin anginnya bertiup, aku semakin kedinginan."


"Kemarilah." Zico menarik tubuh Eren dan berusaha untuk memeluknya. "Bagaimana sekarang? Apa kau masih merasa kedinginan?"


Eren membuka matanya lalu memandang wajah Zico yang kini jaraknya sangat dekat. "Bagaimana denganmu? Bahkan kau tidak menggunakan pakaian yang tebal. Kau bisa membeku jika terus-terusan seperti ini." Eren berusaha untuk menyingkirkan jaket Zico yang kini ia gunakan sebagai selimut.


"Apa yang mau kau lakukan? Biarkan jaket ini menyelimutimu. Aku tidak mau kau mati kedinginan," tolak Zico. Mau seperti apapun rayuan Eren, Zico tetap tidak akan memakai jaket itu. Karena dia tidak mau sampai Eren kedinginan.


"Aku masih kuat. Justru kini aku sangat mengkhawatirkan keselamatanmu. Pakailah jaket ini agar kau tidak kedinginan." Eren memandang keadaan sekitar juga. Wanita itu hanya bisa menghela napas.


Zico memegang tangan Eren agar wanita itu tidak menyingkirkan jaket yang digunakan sebagai selimut. Pria itu menatap Eren dengan begitu tajam. "Aku baik-baik saja. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku ini seorang pria. Aku masih merasa jauh lebih baik sekarang. Berbeda denganmu. Kau bahkan sudah tidak sanggup lagi jika terlalu lama berada di sini," ucap Pria itu dengan nada yang lembut.


Tiba-tiba saja pandangan Zico


turun ke bibir Eren yang kering dan pucat. Pria itu semakin merasa bersalah. Disentuhnya bibir itu dan di usapnya dengan menggunakan jari.


Tiba-tiba saja Eren memajukan kepalanya hingga akhirnya bibir mereka bersentuhan. Eren bisa menemukan kehangatan di sana. Wanita itu berusaha untuk mencium bibir suaminya agar bibirnya tidak kering lagi.

__ADS_1


Zico masih dia mematung ketika lagi-lagi Eren mencuri ciumannya. Namun berbeda dengan sebelumnya. Kali ini secara perlahan Zico justru mulai membalas kecupan yang diberikan oleh Eren.


Setelah cukup lama mereka berdua bercumbu, akhirnya Eren menjauhkan wajahnya dan menatap Zico sambil malu-malu. "Kenapa kau berubah menjadi pria mesum sekarang. Cukup predikat menyebalkan saja yang boleh melekat pada dirimu itu."


Meskipun kini Eren merasakan pusing yang luar biasa, tetapi wanita itu masih berusaha untuk mengajak Zico bercanda. Sekarang Eren tidak merasa kedinginan lagi. Ciuman itu membuat tubuhnya terasa panas.


Zico beranjak lalu berjongkok di depan Eren. "Naiklah. Aku akan menggendongmu dan membawamu pergi dari sini. Kita tidak bisa bertahan di tempat ini lebih lama lagi. Langit sudah semakin gelap. Jika kita tidak menemukan tempat untuk bernaung maka kita akan mati membeku di gunung salju ini." Zico sebenarnya tidak tahu harus kemana. Namun bertahan di situ juga bukan pilihan yang tepat.


Eren segera berdiri lalu memeluk tubuh Zico dari belakang. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher Zico sebelum memejamkan mata. Kali ini memang Eren tidak banyak bicara karena tubuhnya benar-benar lemah.


"Kau harus percaya padaku kalau aku pasti bisa menyelamatkanmu dan membawamu pergi dari tempat ini," ucap Zico sebelum berdiri.


"Aku percaya padamu," sahut Eren.


"Berpeganganlah yang kuat!" Zico mulai melangkah ke depan. Meskipun Zico sendiri tidak tahu apakah di depan sana mereka akan menemukan tempat untuk istirahat, tetapi setidaknya Zico sudah berusaha untuk mencarinya.


"Apa aku berat sekali?" tanya Eren malu-malu.


"Tidak. Kau kurus sekali sampai-sampai aku tidak terasa saat menggendongmu," jawab Zico. Dia sengaja mengatakan kalimat seperti itu agar Eren tidak merasa bersalah.


...***...


Luis dan Lusi tiba di lokasi yang menjadi tempat menginapnya Zico dan Eren malam ini. Setelah memastikan kalau memang benar Zico yang menyewa villa tersebut, Luis langsung memberi perintah kepada pasukannya untuk berpencar dan mencari keberadaan Zico.


Zico memang sempat menghubungi Luis. Namun saat itu jaringan juga tidak bagus hingga Luis tidak bisa mendengar dengan jelas ketika Zico memberitahu keberadaannya. yang Luis tahu kini Zico membutuhkan bantuannya.


Pesawat yang ditumpangi Luis dan Lusi tiba di bandara, 1 jam setelah pesawat yang ditumpangi Eren dan Zico tiba. Meskipun mereka tidak diizinkan untuk mengikuti, tetapi dua pengawal setia itu tidak mau menuruti perintah Bos mereka. Mereka berdua merasa tidak tenang jika harus menjaga rumah. Dan kini sesuai dengan apa yang mereka pikirkan sebelumnya, kedua Bos mereka berada dalam bahaya. Eren dan Zico hilang tanpa kabar hingga membuat Luis dan Lusi khawatir.


"Aku akan bertanya pada pengunjung yang ada di sekitar sini. Semoga saja mereka bisa memberi petunjuk," ucap Lusi sebelum pergi. Sedangkan Luis masih berusaha untuk mendapatkan jaringan agar bisa menghubungi Zico ataupun Eren.


Lusi menahan langkah kakinya ketika dia melihat ada banyak polisi yang berkumpul di depan sana. Setelah diperhatikan lebih jelih lagi, ternyata sudah banyak tumpukan kantong jenazah yang tergeletak di atas salju. Perasaan Lusi semakin tidak tenang.


Wanita itu semakin mengkhawatirkan keberadaan Eren saat ini.


"Bos, anda dimana? Kenapa anda tidak meninggalkan jejak sedikitpun," batin Lusi dengan wajah frustasi.

__ADS_1


Ketika pria paruh baya lewat di hadapan Lusi, wanita itu berinisiatif untuk menanyakan masalah yang baru saja terjadi. Dia berharap pria itu bisa membantunya mendapatkan informasi.


"Tuan, Kenapa ada banyak polisi? Apa baru saja terjadi kecelakaan di sekitar sini?" Lusi memasang wajah polosnya agar pria paruh baya itu mau menjelaskan yang terjadi.


"Mereka semua korban pembunuhan yang baru saja di ambil dari atas gunung. Beberapa jam yang lalu, keadaan di atas sana sangat kacau. Para gangster dan Yakuza berkumpul. Mereka bertarung.Saling membunuh satu sama lain. Bahkan beberapa pengunjung yang tidak bersalah menjadi korban."


Tiba-tiba saja Lusi berinisiatif untuk menunjukkan foto Eren di depan pria paruh baya itu. "Apa Anda pernah melihat wanita ini? Sekarang saya sedang mencari keberadaannya. Dia adalah kakak saya."


Pria itu mengambil foto Eren dan memperhatikannya dengan saksama sebelum akhirnya dia mengangguk. "Ya, saya ingat betul kalau wanita ini tergelincir ke dalam jurang. Saya rasa nasibnya akan sama seperti pengunjung yang lain. Dia dan pria itu tidak mungkin akan selamat karena jurang itu sangat curam. Sebentar lagi juga akan ada badai salju. Pihak kepolisian juga tidak akan mungkin mengevakuasi mereka malam ini juga," jelas pria paruh baya itu apa adanya.


"Pria? Apa mungkin pria yang dimaksud oleh bapak tua ini adalah Tuan Zico?" batin Lusi. "Tuan, apa tidak ada cara lain untuk bisa menemukan mereka. Mereka adalah kakak dan kakak ipar saya. Saya tidak mau terjadi sesuatu kepada mereka. Apapun caranya akan saya lakukan agar bisa menolong mereka dan membawa mereka keluar dari dalam jurang itu."


"Jika mereka berhasil selamat ketika terjun tadi, seharusnya sekarang mereka berada di balik gunung itu." Pria paruh baya itu menunjuk salah satu gunung yang ada di hadapan mereka. "Tidak jauh dari kaki gunung itu ada sebuah desa yang sudah tidak berpenghuni lagi. Jika kini mereka mau menelusuri jalan yang ada, mungkin mereka akan berhasil tiba di desa tersebut. Tetapi jika mereka jatuh dan langsung tidak sadarkan diri, kemungkinan mereka selamat sangat kecil. Jika kalian ingin menolong mereka kalian harus menggunakan helikopter. Bergeraklah lebih cepat karena sebentar lagi semua akses akan ditutup karena badai salju akan turun."


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih," ucap Lusi. Wanita itu segera pergi untuk memberitahu Luis akan informasi yang baru saja ia dapatkan.


Luis menurunkan ponselnya melihat Lusi kembali muncul. "Aku harus segera mengambil tindakan. Aku tidak mau sampai bos Eren terlalu lama terjebak di dalam jurang tersebut," gumam Lusi di dalam hati.


"Kenapa cepat sekali," batin Luis. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku ketika melihat Lusi berjalan menghampirinya dengan wajah khawatir. "Apa kau berhasil mendapatkan informasi mengenai Nona Eren dan bos Zico? Siapa pria yang tadi kau ajak bicara?" Luis terlihat tidak sabar. Dia ingin Lusi segera menjelaskan semuanya sekarang juga.


"Aku tidak kenal siapa pria itu. Kebetulan saja dia lewat dihadapanku tadi. Sepertinya dia warga sekitar. Ada yang melihat Nona Eren dan Bos Zico ketika mereka berada di atas gunung. Ternyata mereka tergelincir ke jurang ketika Roger dan pasukannya menyerang. Sekarang kita harus segera mencari helikopter untuk mengevakuasi mereka. Badai salju akan datang. Kita harus bergerak cepat." Lusi terlihat sangat khawatir. Sama halnya dengan apa yang dirasakan Luis saat ini.


"Helikopter?" Lagi-lagi Luis mengambil ponselnya karena ingin menghubungi seseorang. Namun wajahnya menjadi frustasi ketika dia sadar kalau tidak ada jaringan telepon di sana. "Sial!" umpat Luis kesal. "Jika seperti ini kita tidak akan bisa bergerak cepat. Kita butuh waktu hampir 2 jam sebelum berhasil mendapatkan helikopter."


"Apa tidak bisa lebih cepat lagi?" tanya Lusi penuh harap.


"Itu sudah yang paling cepat!" Luis memandang ke depan dengan wajah sedih. "Jika kita menempuh tempat itu dengan berjalan kaki, berapa lama waktu yang akan kita butuhkan untuk bisa tiba di sana?"


"Pak tua tadi bilang kalau lokasi yang dituju tidak memiliki jalan lain untuk keluar. Hanya naik helikopter satu-satunya cara yang bisa menyelamatkan mereka."


"Bukankah tadi kau bilang kalau mereka berdua tergelincir ke jurang? Bukankah itu berarti kita bisa menggunakan jalan yang sama dengan jalan yang mereka lalui? Kita akan menggunakan titik di mana mereka terjun sebagai jalan keluar." Luis terlihat bersemangat ketika ia menemukan solusi lain.


"Tidak bisa seperti itu juga. Jika kita juga terjebak di dalam jurang, lalu siapa yang akan menyelamatkan kita semua? Begini saja, aku dan yang lainnya akan mencari cara untuk menyelamatkan mereka dengan bertanya kepada warga sekitar. Lalu kau pergi saja untuk mencari helikopter. Bagaimana?"


Luis mengangguk setuju. "Baiklah!" Tanpa pikir panjang lagi, pria itu segera pergi meninggalkan Lusi.

__ADS_1


"Semoga saja dia bisa secepatnya menemukan helikopter." Lusi juga tidak hanya tinggal diam di tempatnya. Wanita itu segera menemui warga sekitar untuk mencari informasi lebih jauh lagi agar bisa menyelamatkan Eren dan Zico tepat waktu.


__ADS_2