
Eren mengeluarkan belati yang menjadi senjata andalannya. Sedangkan Yola memegang sebuah pedang dengan kedua tangannya. Belum juga bertarung, Elma sudah ingin menangis. Dia tidak mau sampai Eren celaka. Senjata yang akan digunakan Yola bukan main berbahayanya. Sedikit saja menggores kulit Eren bisa fatal akibatnya. Terutama bagian wajah.
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa diam saja menonton adikku bertarung," gumam Elma di dalam hati.
Wanita itu memandang keadaan sekitar. Semua orang tengah sibuk menonton pertarungan Eren dan Yola. Ini adalah kesempatan yang bagus bagi Elma untuk melakukan sesuatu yang bisa menyelamatkan nyawa adiknya. Secara diam-diam Elma pergi meninggalkan arena pertarungan.
Eren memilih untuk menghindar ketika Yola ingin menyabetnya dengan pedang. Wanita itu masih belum memiliki kesempatan untuk melawan musuhnya. Senjata yang ia miliki sangat jauh berbeda dari ukuran pedang milik Yola. Jika tidak pandai-pandai, dia bisa tewas seketika.
"Sejak dulu trik bertarung yang ia gunakan selalu sama. Aku bisa dengan mudah menebak gerakannya," gumam Eren di dalam hati.
Kali ini ketika Yola ingin menyayat wajah Eren, tiba-tiba saja Eren memegang pedang itu sampai pedang itu dibanjiri oleh darah Eren yang keluar dari telapak tangan.
"Apa yang kau lakukan? Kau gila!" umpat Yola dengan wajah tidak percaya. Bisa-bisanya Eren menggenggam sebuah pedang yang begitu tajam seperti sedang menggenggam kayu. Tidak ada terlihat ekspresi kesakitan sedikitpun. Bersamaan dengan itu, Eren segera menyayat tangan Yola dengan belati yang ia miliki.
Yola yang merasa kesakitan segera mundur dan melepas pedangnya. Kesempatan itu digunakan Eren untuk merebut pedang Yola.
"Bagaimana? Kau masih mau bertarung?" tanya Eren dengan santai. Dia memamerkan pedang dan belatih yang ia miliki tanpa peduli kalau kini telapak tangannya terluka parah.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak merasakan sakit sedikitpun. Latihan seperti apa yang pernah dia jalani? Jika aku melawannya tanpa senjata, aku bisa kalah. Bagaimana kalau dia memiliki niat untuk menghabisi nyawaku?" gumam Yola di dalam hati.
"Kenapa? Takut?" ledek Eren lagi. Wanita itu melempar pedang milik Yola ke arah kaki Yola hingga membuat Yola menunduk memperhatikan pedang miliknya.
"Sekarang kau sudah mendapatkan pedangmu kembali. Ayo cepat serang aku," tantang Eren.
Yola membatalkan niatnya untuk mundur. Wanita itu segera mengutip pedangnya lalu ingin melanjutkan pertarungan. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba Eren kembali menyerang secara diam-diam. Kali ini wanita itu berniat untuk menancapkan belatih miliknya ke punggung Yola.
"AWAS!" teriak salah seorang Pasukan yang dipimpin oleh Yola hingga akhirnya membuat Yola kembali waspada dan menghindar dengan cepat. Wanita itu menjegal kaki Eren dan membuat wanita itu terjatuh.
Ketika Eren terduduk jelas saja Yola tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera menggenggam pedangnya dan melekatkan bagian tajam pada pedangnya di leher Eren dengan wajah kemenangan.
Eren melirik pedang yang ada di dekat lehernya dengan tersenyum. Wanita itu tidak takut sama sekali. Ia justru berniat untuk membalas Yola berkali-kali lipat sakitnya.
"Lalu kenapa kau masih pikir-pikir. Tidak perlu banyak bicara, lakukan saja agar aku tewas di tanganmu. Bukankah nyawaku yang kau inginkan?"
Yola menarik pedangnya. "Anggap saja kita impas. Kau tadi tidak menyerangku ketika aku tidak memiliki senjata. Sekarang aku juga tidak akan membiarkanmu mati semudah ini. Pertarungan yang baru kita mulai kembali. Kali ini tidak ada lagi belas kasihan. Siapa yang kuat dialah yang menang!"
__ADS_1
"Oke, siapa takut?"
Eren kembali bangkit. Ketika ingin lanjut bertarung dia memeriksa keberadaan Elma. Wanita itu jadi khawatir ketika tidak menemukan kakaknya di sana. Karena tidak lagi fokus, tiba-tiba saja Yola sudah menyabet kaki Eren dengan pedang hingga membuat wanita itu terjatuh. Darah mengalir dengan deras. Bahkan belatih yang sempat di genggam Eren terlepas.
Yola tersenyum puas melihatnya. Dia menang dan Eren harus menjadi budaknya!
"Gawat. Kenapa kakiku tidak bisa di gerakin lagi," gumam Eren sembari melihat kakinya yang berdarah.
Mereka mendengar suara sirine polisi. Yola dan pasukannya terlihat sangat panik. Yola memandang Eren untuk memastikan dia menang.
"Aku menang!" ujar Yola.
Eren tersenyum tipis. "Kau kalah! Sekarang bahkan kau tidak berani bertahan di sini untuk menyaksikan kekalahanku. Kau takut tertangkap polisi bukan?"
Yola menggeram. Sudah sejauh ini usahanya tapi tetap saja sia-sia. "Aku akan membalasmu!" ancam Yola sebelum pergi. Wanita itu berlari kencang meninggalkan lokasi tersebut.
"EREN!"
__ADS_1
Eren memandang ke samping. Dia tersenyum melihat kakaknya berdiri di sana dalam keadaan baik-baik saja. "Kak Elma. Ini semua pasti ulahnya."