
"Roger anak dari Bos Yakuza? Lusi, kau tidak salah memberi informasikan?"
Eren benar-benar kaget mendengar informasi yang di bawa oleh Lusi. Ini benar-benar berita buruk bagi mereka.
Lusi menggeleng cepat. "Aku yakin aku tidak mungkin salah mendapatkan informasi. Jadi ceritanya kemarin Tuan Zico berangkat ke Jepang untuk menyerang Roger. Dia tidak tahu kalau ternyata Roger sudah membuat jebakan di Jepang. Roger yang tidak lain adalah anak dari Yakuza sudah membuat sebuah rencana licik hingga akhirnya membuat Tuan Zico tertangkap."
"Maksudku sekarang Zico ditahan oleh Yakuza? Lusi Ini masalah yang serius. Sebelumnya kita belum pernah mengusik Yakuza. Bagaimana mungkin sekarang kita berurusan dengan mereka."
"Bos, saya juga tahu. Bahkan menghadapi Yola saja Anda masih memiliki hati. Bagaimana mungkin Anda bisa menghadapi Yakuza. Bisa-bisa anda jadi tawanan mereka juga. Tapi sekarang masalahnya suami Anda yang ditahan oleh mereka. Apa mungkin anda diam saja. Bagaimana kalau kita minta bantuan Big Bos Turner? Dia pasti akan membantu kita karena Tuan Zico adalah menantu kesayangannya." Lusi berharap solusinya kali ini bisa sedikit meringankan beban Eren.
"Tapi apa benar informasi yang lau dapatkan ini? Jangan sampai kita salah informasi dan salah tindakan. Jika sudah berhubungan dengan Daddy kita tidak bisa mundur lagi." Eren kembali memastikan informasi yang dibawa oleh Lusi.
"Anda tenang saja, Bos. Saya berani mempertaruhkan nyawa saya untuk mempertahankan informasi ini."
"Baiklah kalau gitu kita berangkat ke rumah Daddy sekarang. Aku sudah mulai sembuh. Aku yakin aku bisa bertarung lagi sekarang. Kita pasti akan menang jika orang kepercayaan Daddy juga turun tangan." Eren merasa sangat yakin. Dia segera beranjak dari sofa lalu berjalan ke arah lemari tempat senjata Eren di simpan.
Baru juga ingin mengambil senjata, tiba-tiba ponsel Eren berdering. Lusi menahan gerakannya dan melirik ke arah ponsel Eren. Wanita itu segera mengambilnya dan memberikannya kepada Eren.
"Ini telepon dari Nona Elma, Bos. Cepat Angkat, Bos. Siapa tahu ada yang penting."
Eren segera mengangkat panggilan telepon itu sambil berjalan. "Ada apa kak? Sekarang aku juga dalam perjalanan ke rumah."
"Eren, ke rumah sakit sekarang. Daddy tiba-tiba saja tidak sadarkan diri."
"Daddy pingsan?" teriak Eren dengan wajah yang panik. "Di rumah sakit mana? Cepat beritahu aku. Aku akan segera berangkat."
Untuk beberapa detik Eren mendengar informasi yang diberikan oleh Elma. Hingga ketika panggilan telepon itu berakhir, Eren segera memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia memandang ke arah Lusi dan menarik tangan wanita itu begitu saja. "Daddy masuk rumah sakit. Kita harus segera berangkat ke rumah sakit sekarang juga."
Lusi tidak bisa banyak bicara lagi. Wanita itu segera masuk ke dalam mobil.
Siang itu Eren yang mengemudikan mobil. Mereka segera berangkat ke rumah sakit yang sudah diberitahu oleh Elma.
...***...
__ADS_1
Setibanya di rumah sakit, Eren langsung berlari menuju ke ruangan tempat Big Bos Turner di rawat. Di depan ruangan Eren melihat ada Jonnas dan juga Elma. Mereka berdua terlihat sangat khawatir.
"Kak, Apa yang terjadi? Kenapa Daddy tiba-tiba saja pingsan?" Eren memegang tangan Elma dan memandang wanita itu dengan begitu sedih.
"Kakak juga tidak tahu. Tadi Daddy meminta kakak untuk membuatkan teh. Ketika kakak datang bawa teh, tiba-tiba saja Daddy sudah tergeletak di lantai. Kakak sangat mengkhawatirkan Daddy. Bibir Daddy sangat pucat. Denyut nadinya juga sangat lemah."
Eren memandang ke arah Jonnas. Dari ekspresi pria itu Erem sudah tahu kalau pria itu sedang menyembunyikan sesuatu. "Daddy sakit apa? Cepat katakan kepada kami! Jangan disembunyikan lagi!" teriak Eren menahan emosi.
"Maaf, Nona. Tapi saya tidak mengerti dengan apa yang Anda maksud."
Karena terlalu emosi Eren segera menarik kerah baju pria itu. "Cepat katakan yang sebenarnya."
Jonnas memegang tangan Eren dan memaksa wanita itu untuk melepas kerah bajunya. Dia sendiri tidak bisa marah karena dia tahu begitulah karakter Eren selama ini. Beda jauh dengan Elma yang memang lemah lembut.
"Baiklah. Karena sudah kejadian seperti ini. Sepertinya saya tidak memiliki pilihan lagi untuk menutupinya. Big Boss Turner mengidap penyakit kanker. Penyakitnya sudah sangat parah bahkan sudah ada di stadium akhir hingga para tim medis tidak sanggup untuk mengobatinya lagi."
Eren dan Elma sama-sama kaget mendengarnya. Mereka berdua sama-sama meneteskan air mata dan saling berpelukan. Mereka tidak menyangka kalau pria hebat yang selama ini mereka pandang sebagai pria tangguh dan tidak terkalahkan kini justru mengidap penyakit yang sangat serius.
Eren sendiri tidak tahu cara mengungkapkan kesedihannya. Wanita itu hanya bisa memeluk Elma dan menangis dalam diam.
Lusi yang juga ada di sana juga memilih untuk menunduk saja. Rencana yang mereka rencanakan akan gagal karena kini kondisi Big Boss Turner justru sangat mengkhawatirkan dibandingkan hilangnya Zico.
"Sekarang harus bagaimana? Kasihan sekali Bos Eren. Kenapa masalah ini harus datang di waktu yang bersamaan?" batin Lusi.
...***...
Luis membuka kedua matanya secara perlahan. Pria itu segera menutup wajahnya ketika cahaya matahari membuatnya matanya menjadi sakit.
"Di mana ini?"
Luis berusaha untuk bangkit, namun tubuhnya terasa remuk. Pria itu memandang lagi rumah yang menjadi tempatnya istirahat selama tidak sadarkan diri. Wajahnya berubah sedih ketika dia melihat langsung Zico di tangkap dan di siksa oleh anggota Yakuza.
"Bos. Maafkan saya. Setelah keadaan saya kembali pulih, saya akan membebaskan anda."
__ADS_1
Waktu itu Luis terkena tembakan ketika melihat Zico yang baru saja melompat dari jendela. Ternyata dibawa sana sudah disediakan alat penampung untuk Zico dan Roger hingga akhirnya membuat Zico selamat.
Walaupun Zico selamat, tetapi pria itu tertangkap oleh pasukan yang sudah dipimpin oleh Roger. Luis segera turun untuk membebaskan Zico saat itu. Namun pria itu justru mendapatkan banyak sekali pukulan.
Tidak mau mati konyol, pria itu kabur dan bersembunyi. Ketika itu dia bisa melihat jelas bagaimana pasukan Yakuza memperlakukan Zico dengan begitu kejam. Zico kehabisan banyak darah dan tidak sadarkan diri di tempatnya bersembunyi. Kini pria itu juga masih bertanya sebenarnya siapa yang sudah membawanya ke rumah tersebut dan mengobati semua luka yang ada pada tubuhnya.
"Kau sudah sadar?"
Lusi muncul dari ambang pintu. Wanita itu meletakkan sebotol air mineral di meja dekat Luis. "Apa kau bisa jalan sekarang?"
Luis memperhatikan Lusi dengan serius. "Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Bos Eren yang memintaku untuk datang ke Jepang dan mencarimu. Aku menemukanmu di sebuah rumah sakit. Karena aku tahu rumah sakit sangat beresiko bagi keselamatanmu, jadi aku membawamu bersembunyi di sini. Nanti setelah kondisimu benar-benar membaik, kita baru akan pulang ke rumah."
"Aku tidak akan pulang sebelum berhasil membebaskan Bos Zico!" Luis mengambil air mineral itu lalu meneguknya dengan begitu rakus.
"Kau tidak akan bisa menyerang mereka sendirian.
Kita perlu rencana mata untuk bisa menang."
Luis tertawa mendengar perkataan Lusi. "Rencana matang seperti apa yang kau maksud. Pasukan kami telah habis dibantai oleh Roger. Apa kau ingin membanggakan geng mafia milikmu itu? Jelas-jelas kalian mengalahkan Yola saja tidak sanggup. Sekarang kalian berniat menawarkan diri untuk membantuku membebaskan Bos Zico." Luis tertawa meledek.
"Kau ini sepele sekali. Kami membiarkan Yola hidup karena dia wanita. Sesama wanita kami tidak tega untuk saling membunuh. Tapi beda cerita jika musuh kami seorang pria. Kami akan menghabisi pria itu sampai tewas. Apa kau tahu kalau kini Kau menghadapi Yakuza. Gengster paling berbahaya yang ada di Jepang. Jika kita menyerang mereka secara terang-terangan, maka sudah pasti kita akan kalah."
"Lalu rencana apa yang sudah kau siapkan dan kapan kita mulai melakukannya? Aku tidak tega melihat Bos Zico bersama dengan mereka."
Lusi memandang ke arah lain. Secepatnya karena bos Eren ingin Tuan Zico segera pulang."
"Lalu, dimana Nona Eren? Apa dia masih ada di rumah? Bagaimana dengan kaki Nona Eren? Apa sudah bisa berjalan lagi?"
Lusi mengangguk. "Pikirkan kesehatanmu saja!" ketus Lusi. Wanita itu melempar baju ganti untuk Luis. "Cepat mandi. Secepatnya kita akan pulang ke rumah." Lusi meletakkan senjata api di dekat tempat tidur Luis. "Gunakan senjata ini. Aku tahu saya ini kau tidak memiliki senjata apapun."
Luis menangkap pakaian yang dilempar oleh Lusi. Pria itu memandang baju gantinya sebelum menghela napas. "Aku harus bangkit! Aku tidak boleh lemah!"
__ADS_1