Putri Tangguh

Putri Tangguh
Dia dimana-mana


__ADS_3

Eren berdiam diri di posisinya berada saat ini. Untuk sejenak wanita itu ingin menikmati pemandangan salju putih yang tersaji di hadapannya. Setelah tiba di Eropa, Zico langsung memberinya pakaian dingin dan jaket yang begitu tebal. Sepertinya pria itu memang sudah mempersiapkan segala kebutuhan Eren sebelum memutuskan untuk mengajaknya berlibur. Mereka juga menginap di vila yang tidak jauh dari letak gunung salju. Karena kali ini Eren dan Zico memutuskan untuk berlibur sendiri, jadi sejauh mata memandang mereka tidak menemukan pengawal yang biasa menjaga mereka.


"Apa kau menyukainya?"


Zico tiba-tiba saja muncul dari belakang sambil membawa dua cup kopi di tangannya. Pria itu memberikan satu cup kepada Eren lalu meneguk kopi miliknya sendiri.


"Cepat diminum karena di suhu seperti ini kopi cepat dingin," ujar Zico lagi sebelum meneguk kopinya kembali.


Eren menyeruput kopi itu secara perlahan. Ada senyuman dibibirnya ketika tubuhnya terasa sangat. "Setelah ini apa yang akan kita lakukan? Sebenarnya hanya berdiri di sini saja sambil melihat gunung salju itu aku sudah cukup puas. Tidak perlu melakukan hal lain seperti mereka," tunjuk Eren kepada para pengunjung yang kini bermain ski.


"Lalu, apa kau mau naik kereta gantung? Dari ketinggian kita bisa melihat pemandangan ini dengan begitu sempurna." Zico membuang cup kopinya yang sudah kosong sebelum berdiri di samping Eren lagi.


"Kau sendiri yang bilang kalau selama ini kau tidak pernah berlibur. Tetapi setelah aku perhatikan kembali, sepertinya kau banyak mengenal tempat ini. Bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan ketika pertama kali aku tiba di tempat ini." Eren meneguk kopinya lagi. Kali ini ia meneguknya sampai habis.


"Bukankah zaman sudah modern? Hanya menggunakan internet kita sudah bisa menjelajahi dunia. Hanya orang-orang bodoh yang tidak mau belajar." Zico memandang Eren sejenak sebelum mengukir senyuman tipis.


Eren terlihat protes mendengar perkataan Zico. "Apa maksudmu aku ini orang bodoh?"


Zico tertawa geli mendengarnya. "Kau sendiri yang bilang."


Eren memukul lengan Zico karena kesal. "Ternyata kau ini memang pria yang sangat menyebalkan." Meskipun kesal, tetapi Eren tetap saja terlihat ceria.


"Ayo." Zico menggenggam tangan Eren dan membawanya menuju ke tempat kereta gantung berada. "Sebentar lagi akan di tutup. Aku tidak mau menunggu besok hanya naik kereta gantung saja," ujar Zico lagi.


Eren mengikuti jejak Zico dari belakang. Sambil berjalan, wanita itu memperhatikan orang-orang yang terlihat mencurigakan. "Apa mereka musuh Zico?" gumam Eren di dalam hati.


...***...


Zico dan Eren sudah ada di kereta gantung yang kini akan membawa mereka ke puncak gunung es. Setelah tiba di puncak nanti mereka akan berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan yang ada. Kebetulan di atas puncak itu juga sudah dibangun dua buah restoran yang memang diperuntukkan bagi para pengunjung yang ingin berdestinasi dengan kereta gantung.


Sepanjang perjalanan menuju ke puncak, Eren terlihat tidak tenang. Wanita itu terus saja memikirkan sosok mencurigakan yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua. Berbeda dengan Zico yang terlihat sangat menikmati pemandangan yang tersaji. Pria itu merasa beruntung karena sudah memutuskan untuk berlibur dadakan hari ini.


"Apa kau takut?" tanya Zico sembari memandang wajah Eren. Pria itu penasaran juga ketika melihat Eren tidak ada bahagianya hari ini.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Aku hanya takut kereta gantung ini jatuh dan kita celaka. Bukankah tadi sudah kubilang aku belum belajar trik untuk bertahan hidup di tengah-tengah gunung es." Eren mengeluarkan ponselnya. Wajahnya semakin tidak bersemangat ketika dia tahu kalau di sana sulit sekali mendapatkan jaringan.


"Pikiranmu itu sungguh jauh dari kenyataan. Kereta gantung ini tidak mungkin jatuh karena mereka merawatnya dengan baik." Zico memandang ke depan. Dari posisi mereka berada sudah terlihat dua buah restoran yang nantinya akan mereka kunjungi. "Kita akan membeli cemilan di restoran itu sebelum kembali lagi ke bawah," ucap Zico menjelaskan.


"Apa kau membawa senjata?"


Zico mengernyitkan dahi ketika topik pembahasan Eren justru berbeda jauh dengan apa yang baru saja ia bicarakan. "Tentu saja aku membawanya. Bukankah tadi aku sudah bilang di manapun aku berada, besar kemungkinan aku bertemu dengan orang-orang yang selalu mengincar nyawaku."


"Ya, kau benar. Bahkan tadi aku sudah melihatnya," jawab Eren dengan santai.


"Melihatnya? Dimana?" tanya Zico dengan wajah yang serius.


"Di bawah. Tadi aku melihat mereka. Mereka seperti sedang mengawasi kita. Mungkin kita akan bertemu dengan mereka ketika turun lagi ke bawah." Eren benar-benar tidak peduli dengan musuh Zico karena wanita itu merasa yakin kalau dia pasti bisa mengatasinya.


"Kenapa kau tidak katakan padaku jika kau melihat sesuatu yang mencurigakan?" Wajah Zico semakin panik. Pria itu mengatur napasnya agar kembali tenang. Dia tidak mau marah-marah lagi di depan Eren.


"Mereka ada di bawah, apa lagi yang harus kita khawatirkan?" Eren berusaha membela diri. Jelas saja wanita itu tidak mau disalahkan.


Eren diam sejenak. Bersamaan dengan itu kereta gantung yang mereka tumpangi sudah berhenti karena mereka sudah tiba di tempat tujuan. Eren dan Zico sama-sama turun. Lagi-lagi mereka terlihat waspada dan mengawasi setiap pengunjung yang mereka temui di atas sana.


"Jangan pernah jauh-jauh dariku." Zico menggenggam tangan Eren. Pria itu tidak mau sampai terjadi sesuatu terhadap Eren.


Saat tiba di tengah jalan menuju ke restoran, tiba-tiba segerombolan pria bersenjata mengelilingi Zico dan juga Eren. Hal itu membuat Eren tersenyum tipis. Dia segera mengeluarkan senjata apinya dan siap untuk bertarung jika memang orang yang kini mengelilingi mereka memiliki niat jahat.


"Kau mengenali mereka?" tanya Eren dengan nada berbisik.


"Mereka sekumpulan Yakuza yang pernah menangkapku." Zico kembali memperhatikan lawannya satu persatu.


"Yakuza? Itu berarti ...." Belum sempat Eren menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Roger sudah muncul di antara segerombolan pria bersenjata itu. Pria itu memandang Zico dengan tatapan tajam sebelum tersenyum ramah kepada Eren.


"Halo Beby. Apa kabar?"


"Kenapa dia memanggilmu baby?" protes Zico cemburu.

__ADS_1


"Aku menggunakan nama Beby ketika menyamar saat ada di Jepang waktu itu," jawab Eren apa adanya.


"Kenapa harus nama Beby? Apa tidak ada nama lain yang bisa kau gunakan!" Meskipun sudah berlalu tetap saja Zico tidak terima jika Roger memanggil istrinya dengan sapaan mesra seperti itu.


"Bukan aku yang menentukannya. Waktu itu aku hanya mengikuti arahan dari Black Crystal. Jadi jangan salahkan aku."


"Kali ini aku pasti akan berhasil membawamu pergi. Pria tidak berguna ini sangat mudah disingkirkan!" ujar Roger penuh dengan percaya diri.


"Oh ya?" Eren maju ke depan. Hal itu membuat Zico mengernyitkan dahinya. "Setelah kau berhasil membunuh Yola, apa sekarang kau berniat untuk membunuh Zico? Meskipun kau membunuh semua orang yang dekat denganku, tetap saja aku tidak tertarik denganmu. Jadi jangan pernah bermimpi untuk memilikiku. Karena semua itu hanya ada di dalam impianmu saja!"


"Aku membunuh Yola karena ingin melindungimu. Aku tahu wanita itu terus saja mengusik ketenanganmu. Seharusnya kau mengucapkan terima kasih kepadaku. Karena berkat bantuanku, sekarang Yola tidak ada di muka bumi ini lagi. Bahkan pria yang sekarang menjadi suamimu saja tidak dapat membunuhnya."


Roger merasa bangga dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap Yola. Pria itu masih belum sadar kalau ternyata di lokasi itu ada mata-mata yang menjadi utusan keluarga besar Yola. Eren sudah mengetahuinya sejak dia tiba di puncak gunung. Semua kalimat yang diucapkan Eren semata-mata hanya untuk memberitahu kepada mata-mata tersebut kalau dirinya tidak terlibat dalam kematian Yola. Hanya Roger yang pantas untuk bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.


"Apa kau tidak takut dengan orang-orang yang ada di belakang Yola? Mereka terkenal sebagai keluarga paling kejam. Aku yakin setelah mendengar kabar kematian Yola, mereka tidak akan diam saja. Apa kau yakin bisa mengalahkan mereka semua?"


Roger tertawa keras seolah-olah perkataan Eren itu sebuah candaan semata. "Aku tidak takut dengan siapapun. Yang aku tahu hari ini juga aku akan membawamu pergi ke Jepang. Aku akan menikahimu di sana!"


Zico yang sudah emosi segera menembak kaki Roger. Hal itu membuat semua orang kaget termasuk Eren sendiri. Namun karena kondisinya sudah tidak bersahabat lagi wanita itu juga segera mengambil tindakan. Dia mengangkat senjata apinya dan menembak satu persatu Yakuza yang kini berusaha untuk menangkapnya. Tidak jauh dari posisi Eren berada Zico juga melakukan hal yang sama.


Roger menggeram melihat luka pada kakinya. Pria itu mengangkat senjatanya dan menembak ke arah Zico. Namun dengan lihainya Zico berhasil menghindar hingga akhirnya tembakan Roger mengenai anak buahnya sendiri.


Sampai tiba di saat Roger kehabisan peluru. Di detik itu Zico melangkah maju untuk menghajar Roger. Pria itu memang masih dendam terhadap Roger karena pernah disekap beberapa waktu yang lalu. Ini adalah kesempatan emas bagi Zico untuk membalas perbuatan Roger.


"Rasakan balasanku ini Roger!" Zico memukul wajah Roger tanpa ampun. Pria itu bahkan tidak lagi memiliki kesempatan untuk melihat keadaan istrinya. Karena terlalu dendam, Zico bahkan tidak memberi kesempatan bagi Roger untuk membalas.


"Hanya segini kemampuanmu?" Meskipun sudah babak belur, tetap saja Roger masih memiliki kemampuan untuk membuat Zico semakin emosi lagi.


Zico mengangkat tangannya tinggi-tinggi ingin memukul Roger. Bersamaan dengan itu mereka mendengar suara tembakan yang begitu memekakan telinga.


Baik Zico maupun Roger memandang ke arah sumber tembakan. Mereka semua kaget bukan main ketika melihat Eren kini sudah berdiri di pinggir tebing. Ada seorang pria bersenjata yang kini ingin menembak wanita itu.


"Eren!"

__ADS_1


__ADS_2