
Eren segera keluar dari tempat persembunyiannya. Meskipun sudah menyiapkan sebuah strategi tetapi wanita itu tidak bisa membiarkan orang-orang tersebut mengancam Elma. Dia tidak suka ada orang yang berani berbuat sesuka hati terhadap Elma. Darahnya mendidih dan wanita itu ingin sekali membunuh dan menyiksa dua pria yang kini berani menodongkan senjata apinya ke arah kepala Elma.
"PENGECUT!" celetuk Eren dengan wajah angkuhnya. Meskipun dia tahu ada banyak sekali jebakan di sana tetapi wanita itu sama sekali tidak takut. Satu-satunya orang yang ia pandang tanpa berkedip hanyalah Elma. Kakak kandungnya itu harus duduk di kursi kayu dalam kondisi kaki dan tangan terikat.
"Berani sekali kau datang ke sini. Bukankah kami sudah memperingatimu? Sebaiknya kau menyerahkan diri saja ke markas. Jika kau sudah menyerahkan diri, kami akan segera membebaskan Kakakmu yang tidak berguna ini. Kau tidak perlu repot-repot datang ke sini untuk menyelamatkannya karena itu hanya sia-sia saja!" ujar salah satu pria yang kini ada di dekat Elma.
"Oh ya?" Eren segera mengangkat senjata apinya. Tanpa pikir panjang dan rasa takut sedikitpun Eren segera menembak pria yang baru saja bicara hingga pria itu tewas seketika. Eren menembak tepat pada kepalanya.
Elma memejamkan matanya ketika mendengar tembakan tersebut. Wanita itu sendiri tidak bisa melarang adiknya karena kini posisi Adiknya juga berada dalam bahaya.
__ADS_1
Tersisa satu pria yang kini berdiri di samping Elma. Pria itu masih memegang senjata apinya dan berusaha untuk mengancam Eren agar tidak mendekat.
"Mundur atau aku akan benar-benar menembaknya!" ancam pria itu dengan wajah yang serius.
Eren menahan langkah kakinya ketika dia tahu sekarang ada banyak sekali orang yang menodongkan senjata menuju ke arahnya. Mereka semua bersembunyi di gedung-gedung tinggi. Eren tersenyum kecil. Dia tahu ini tidak akan mudah tetapi wanita itu yakin dia pasti akan menang dan bisa melewati semuanya.
Elma mendongakkan kepalanya. Kedua mata wanita itu berkaca-kaca melihat semua orang ingin menembak adiknya.
"Perkataan bodoh. Berani sekali kau mengorbankan dirimu sendiri hanya untuk kepentingan orang lain. Yola adalah musuhku dan Daddy. Bukan musuh Kak Elma. Jadi jangan bersikap seolah-olah masalah ini berawal dari Kak Elma!" sahut Eren.
__ADS_1
"Lalu bagaimana caranya agar kau bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup-hidup? Lihat saja mereka sudah mengelilingimu dengan senjata yang berbahaya sekali. Sekali tarik saja mereka sudah bisa membuatmu tewas di tempat."
"Mereka tidak akan bisa menembakku karena jika mereka menembakku, bom yang ada di markas mereka akan segera meledak," ucap Eren dengan senyuman tipis.
Wanita itu memamerkan pemicu bom yang kini ada di genggaman tangannya. "Hanya sekali tekan saja maka semua. Pyusss! Habis!" ujar Eren lagi. Dia pun tertawa meledek musuhnya.
"Gawat! Apa bos Yola sudah mengetahui masalah ini? Sekarang Bos Yola ada di dalam markas. Dia bisa celaka jika wanita ini benar-benar meledakkan markas dengan bom yang sudah ia siapkan," gumam pria yang ada di samping Elma.
"Apa kau tidak mau membantuku untuk menghubungi Yola sialan itu agar dia datang ke sini dan berhadapan langsung denganku? Sebaiknya sekarang kau lepaskan Kak Elma karena masalah ini tidak ada hubungannya dengannya," ujar Eren sambil memandang pria yang masih berdiri di samping Elma.
__ADS_1
"Aku di sini!"
Eren memandang ke samping setelah mendengar teriakan seorang wanita. Dia adalah Yola. Wanita yang sejak tadi sangat di tunggu-tunggu kedatangannya.