
Eren masih penasaran sebenarnya seperti apa wajah orang-orang yang ada di balik topeng hitam tersebut. Setelah Eren memiliki kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan para anggota Black kristal, wanita itu langsung dibuat terkejut.
Bagaimana tidak? Selama ini Black kristal yang ada di dalam pikiran Eren adalah sekelompok pembunuh yang berwajah sangar dan memiliki badan yang begitu kekar. Tetapi ini tidak. Black Crystal justru terdiri dari laki-laki dan perempuan yang usianya bervariasi. Bahkan ada juga anak 10 tahun di dalamnya.
Eren masih tidak habis pikir bagaimana mungkin Black Crystal selama ini berhasil melindungi Ayah kandungnya. Sedangkan dilihat dari penampilannya saja sudah tidak menjanjikan. Tetapi tugas Eren kali ini bukan untuk menilai Black Crystal baik atau buruknya. Tugas wanita itu adalah memperlihatkan kemampuan bela dirinya agar Black Crystal mau dipimpin olehnya.
"Aku tidak tahu siapa nama kalian. Yang aku tahu dari Daddy kalau kalian adalah sekelompok pembunuh yang dijuluki dengan nama Black Crystal. Sebenarnya melihat kalian seperti ini saja sudah membuat debaran jantungku tidak karuan. Aku yakin kalian adalah sekelompok orang hebat yang memang tidak terkalahkan. Dengan bantuan kalian, kita semua pasti bisa membebaskan Zico dari jeratan para Yakuza." Eren terpaksa harus membanggakan Black Crystal. Meskipun hal itu jarang terjadi.
"Sebenarnya kita semua tidak perlu turun tangan langsung untuk menghadapi Yakuza. Semakin banyak pasukan yang kita miliki justru membuat mereka semakin curiga dan lebih hati-hati.
Kami memiliki trik untuk menghadapi mereka tanpa harus membutuhkan banyak tim. Tetapi tentu saja kali ini harus Anda langsung yang turun tangan."
Eren mengernyitkan dahi dengan tatapan kurang setuju. "Apa maksud kalian? Aku yang turun tangan dan kalian akan menjadi orang-orang yang ada di belakang layar. Seperti itu?" Wajah Eren semakin serius.
"Anda takut?" ledek satu-satunya wanita yang ada di sana.
"Aku tidak takut. Aku hanya ingin tahu. Lalu tugas kalian apa jika harus aku yang turun tangan langsung?" ketus Eren. Lagi-lagi wanita itu memperlihatkan sifat aslinya dan Ia lupa akan tujuan awalnya. Dia harus bersikap profesional agar Black Crystal mau tunduk di bawah pimpinannya. Seperti apa yang dikatakan oleh Big Boss Turner.
"Jika Anda keberatan, kami akan mundur karena Big Boss sendiri bilang dia tidak memaksa kami untuk melakukan tugas ini. Jika kami keberatan kami tidak harus melanjutkannya lagi." Lagi-lagi wanita yang menjadi anggota Black Crystal angkat bicara. Sepertinya wanita itu pemimpin geng tersebut.
"Tunggu tunggu. Kenapa gitu saja sudah marah. Kalian ini sensitif sekali." Eren mengatur emosinya. Dia tahu kalau sekelompok orang hebat yang ada di hadapannya tidak mudah dihadapi dengan emosi. Meskipun mereka adalah para pembunuh. "Oke, baiklah aku mau turun tangan langsung. Katakan saja padaku apa yang harus aku lakukan."
Para pasukan Black Crystal saling memandang satu sama lain. Mereka seperti sedang berdiskusi namun tidak berbicara. Hingga pada akhirnya mereka semua kembali menatap Eren dengan wajah yang serius dari balik topeng yang mereka pakai. "Kami akan katakan kepada anda trik yang harus anda lakukan tetapi tunggu kita tiba di Jepang."
Eren menghela nafas panjang sambil tersenyum terpaksa. "Baiklah," ucapnya pasrah karena memang saat ini dia tidak memiliki pilihan lain lagi selain patuh.
...***...
Di waktu yang bersamaan. Big Boss Turner ternyata sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Meskipun kondisinya belum stabil, tetapi setidaknya pria itu tidak sesak napas lagi. Elma dan Rivan memutuskan untuk tinggal di rumah Big Boss Turner. Sebelum pergi Eren juga sudah berpamitan kepada Elma dan meminta Elma untuk menjaga ayah kandung mereka.
Tentu saja di rumah itu juga ada Jonnas yang selalu menjadi pengawal pribadi yang akan melindungi Big Boss Turner dari bahaya yang mungkin akan menyerang sewaktu-waktu selama anggota Black Crystal membantu Eren di Jepang.
"Dad, sebenarnya misi apa lagi yang dilakukan oleh Eren? Kakinya baru saja sembuh. Bahkan jalan saja masih belum normal. Kenapa dia harus turun tangan langsung. Apa tidak ada cara lain?" Elma tidak bisa bernapas lega ketika tahu adik kembarnya akan menghadapi bahaya.
"Seperti itulah dunia hitam. Mereka tidak peduli kapan kau sakit dan kapan kau lelah. Jika dibutuhkan kau harus siap siaga. Eren adalah wanita yang tangguh. Daddy yakin dia pasti bisa melewati semua ini. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya." Berbeda dengan Elma. Big Boss Turner justru terlihat tenang. Dia tidak akan bisa duduk santai seperti ini jika saja Eren pergi menyerang Yakuza tanpa bantuan dari Black Crystal.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkannya? Dia adalah saudara kembarku. Jika dia bersedih Aku bisa merasakannya. Jika dia sakit aku juga akan sakit."
__ADS_1
"Sebenarnya Daddy juga tidak tenang membiarkan Eren turun tangan langsung dalam masalah ini. Tetapi Daddy berharap masalah ini bisa membuat Eren dan Zico semakin dekat. Sejak menikah mereka jarang sekali komunikasi. Mereka berdua terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sekarang posisinya Zico dalam bahaya. Apa kau jika adikmu itu menjadi janda?"
Elma kali ini tidak bisa protes lagi. Wanita itu menghela napas panjang sambil memandang obat-obatan yang ada di atas nakas.
"Apa Daddy sudah minum obat?" tanya Elma untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau Ayah kandungnya terus saja memikirkan Eren dan membuat sakitnya kembali kambuh.
"Oh iya Daddy ingat akan sesuatu. Di mana Rivan? Kenapa Daddy tidak melihatnya hari ini?"
"Rivan ada di depan kamar. Katanya dia segan untuk bertemu dengan Daddy. Dia memintaku untuk menemani Daddy di sini."
"Kenapa seperti itu? Bukankah sekarang dia adalah menantuku? Cepat suruh dia masuk karena ada yang ingin Daddy katakan!"
Elma menghela napas lagi. Kali ini dia tidak bisa membantah perintah ayah kandungnya. Wanita itu segera beranjak dari kursi dan berjalan menuju ke pintu untuk memanggil Rivan agar masuk ke dalam kamar.
Tidak butuh waktu lama bagi Elma untuk menyuruh pria itu masuk ke dalam kamar. Rivan mengukir senyuman manis dan menunduk hormat di depan ayah mertuanya.
"Selamat malam, Daddy. Bagaimana kabar Daddy malam ini?"
"Tidak baik karena putriku harus pergi untuk bertarung."
"Pantas saja bisnismu berjalan lancar bahkan kau bisa mengerti maksud lawan bicaramu sebelum lawan bicaramu berucap," ucap Big Boss Turner sambil tertawa.
"Katakan saja, Dad. Jika ada yang bisa saya bantu, pasti akan saya lakukan. Bagaimanapun juga Eren adalah adik ipar saya."
"Setahuku kau memiliki bisnis yang begitu besar di Jepang. Kau juga memiliki beberapa rekan bisnis yang menjadi pemilik Casino terbesar yang ada di sana bukan?"
"Benar, Dad," jawab Rivan dengan wajah serius.
"Ini satu kebetulan. Eren butuh banyak uang untuk melakukan misinya kali ini. Apa kau bisa membantunya dari segi keuangan? Anggap saja Eren sedang meminjam uang padamu. Nanti ketika Zico sudah berhasil dibebaskan, Daddy akan minta Zico untuk membayar semua tagihannya."
Rivan memandang mertuanya dengan tatapan tidak terbaca. Jika dihitung kembali seharusnya harta yang dimiliki oleh sang mertua jauh lebih banyak dari harta yang ia miliki. Tetapi entah kenapa pria paruh baya itu memintanya untuk mengeluarkan sejumlah uang agar membantu adik iparnya. Jelas saja ini tidak jadi masalah bagi Rivan. Toh memang dari semalam ia ingin membalas budi atas kebaikan Eren karena sudah berhasil membebaskan Elma dari sekelompok penjahat itu.
"Berapapun biayanya akan saya keluarkan dan Eren tidak perlu menggantinya," ucap Rivan tanpa keberatan. Elma memandang ke arah Rivan lalu menunduk.
"Daddy ... sebenarnya rencana apa yang sudah Daddy pikirkan? Kenapa harus melibatkan Rivan di dalam masalah ini?" gumam Elma di dalam hati. Wanita itu sebenarnya tidak setuju namun mau bagaimana lagi?
...***...
__ADS_1
Eren dan pasukan Black Crystal sudah tiba di Jepang. Mereka Langsung sarapan pagi karena memang saat itu mereka tiba di sana saat pukul 08.00 pagi. Lusi dan Luis sudah menunggu Eren di restoran yang sudah mereka tentukan. Pertama kali melihat pasukan Black Crystal, Lusi sendiri juga kaget. Sama halnya dengan Luis. Bahkan pria itu memandang sepele terhadap pasukan Black Crystal yang berjumlah 10 orang tersebut.
"Bos, apa kabar? Saya senang bisa melihat anda bisa berjalan lagi seperti ini. Apa kakinya masih terasa sakit. Apa Anda sudah meminum obat yang diberikan oleh dokter." Lusi terlihat sangat mengkhawatirkan Eren meskipun jelas-jelas kini Eren terlihat baik-baik saja.
"Jangan pikirkan tentang kesehatanku. Sebaiknya sekarang kita fokus kepada Zico saja. Mereka adalah pasukan Black Crystal milik Daddy. Mereka akan membantu kita untuk menolong Zico!"
"Sebaiknya anda tidak sering-sering menyebutkan nama Yakuza. Terutama ketika anda berada di depan umum," ucap salah satu pasukan Black Crystal memperingati agar misi mereka tidak sampai terdengar oleh pihak musuh.
"Maafkan aku. Aku terlalu bersemangat sampai-sampai aku lupa kalau sekarang aku sudah ada di Jepang," ucap Eren merasa bersalah.
"Di mana pasukan Anda yang lain, Nona? Kenapa hanya segini saja yang datang?" tanya Luis ingin tahu.
"Untuk apa pasukan mafiaku jika aku sudah memiliki Black Crystal. Luis Kau harus tahu kalau mereka adalah orang-orang terpilih yang bisa membantu kita untuk menyelamatkan Zico. Kita hanya perlu menggunakan otak bukan otot. Aku harap kali ini kau mau bekerja sama dengan mereka agar rencana kita bisa berhasil." Eren terlihat bahagia ketika membanggakan Black Crystal.
Luis awalnya tidak setuju. Tetapi mau bagaimana lagi? Dia sendiri juga tidak bisa berbuat banyak kali ini.
Pasukan Black Crystal menyodorkan paper bag di depan Eren. "Kita akan memulai rencana kita malam ini. Di gedung yang tidak jauh dari sini, Roger akan datang untuk bersenang-senang dengan wanita bayarannya. Anda akan menjadi salah satu wanita yang menggoda Roger."
"Tidak bisa seperti itu, Nona! Eren ini istri dari bos Zico. Aku tidak rela jika di saat Bos Zico tidak ada, Nona Eren justru bersentuhan dengan pria lain!" ketus Luis tidak setuju.
"Luis, kau harus percaya padaku. Aku juga tidak akan melakukan apa-apa dengan pria itu. Semua ini adalah bagi dari rencana kita. Jadi tolong jangan gagalkan rencana yang sudah dibuat oleh Black Crystal." Eren memandang Luis dengan serius berharap pria itu tidak salah paham.
Lusi memandang Luis dan menggeleng kepala dengan tatapan penuh arti. Wanita itu berharap agar Luis tidak menyinggung perasaan Black Crystal hingga akhirnya membuat Black Crystal mundur dan tidak mau melanjutkan misi ini lagi.
"Maafkan aku," ucap Luis sebelum memalingkan wajahnya.
"Lalu setelah bertemu dengan Roger, apa yang harus aku lakukan? Apa aku langsung selidiki dimana mereka menyekap Zico?"
"Anda yakin rencana seperti itu akan berhasil?"
"Lalu bagaimana?" tanya Eren dengan wajah frustasi.
"Anda hanya perlu mengamati lokasi tersebut dan menceritakannya kepada kami. Setelah kamu tahu bagaimana penjagaan di sana, kami akan melakukan tugas tanpa harus melibatkan anda lagi."
"Itu saja?" tanya Eren dan Lusi secara bersamaan.
"Jika kami gagal membebaskan Zico, kalian bisa menghukum kami!" ujar salah satu pasukan Black Crystal dengan penuh percaya diri.
__ADS_1