
Eren turun dari mobil dibantu oleh Zico. Rasanya tulang di kakinya sangat rapuh. Untuk melangkah terasa begitu sulit. Di depannya ada peti jenazah yang akan segera dikebumikan. Elma juga ada di sisi peti sembari menangis. Wanita itu ada dipelukan suaminya.
"Eren, kau harus kuat," bisik Zico. Pria itu memegangi Eren dengan begitu kuat agar istrinya tidak sampai terjatuh.
"Apa aku bermimpi?" tanya Eren penuh harap. Dia menatap wajah Zico yang sangat dekat dengannya. "Bangunkan aku jika memang semua ini hanya mimpi."
Zico diam sejenak sebelum membawa Eren melanjutkan langkah kakinya. Pria itu tidak tega untuk menjawab pertanyaan Eren. Kedatangan mereka berdua di sambut oleh para pengawal yang ada di sana. Terlihat juga pasukan Black Crystal di antara kerumunan yang ingin mengantarkan Big Boss Turner ke peristirahatan terakhirnya.
Elma mengangkat kepalanya ketika beberapa pengawal memberi jalan untuk Eren. Wanita itu segera berdiri. Dia sangat ingin memeluk adik kembarnya dan melampiaskan kesedihan yang kini dia rasakan.
"Eren," lirih Elma dengan air mata yang masih menetes deras.
Eren menahan langkah kakinya. Zico melepas pelukannya. Dia yakin kalau Eren sudah bisa jalan sendiri sekarang setelah Elma berada di hadapannya.
__ADS_1
"Kakak." Eren berlari menghampiri Elma. Mereka berdua saling berpelukan. Tangis keduanya lagi-lagi pecah hingga membuat suasana di pemakaman semakin hening. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara sedikitpun. Mereka hanya bisa menunduk sembari mendoakan yang terbaik untuk Big Boss Turner.
"Nona, sudah waktunya. Hujan juga akan segera turun," bisik salah satu petugas yang bertanggung jawab atas proses pemakaman Big Boss Turner.
Elma mengusap air mata di pipi Eren. Dia berusaha menguatkan adiknya meskipun dia sendiri sangat rapuh saat ini. "Lihatlah Daddy untuk yang terakhir kalinya. Dia tersenyum. Dia sudah tidak merasakan sakit lagi. Dia pergi untuk bertemu mommy. Mereka akan bahagia di surga."
Eren memiringkan tubuhnya. Dia mematung melihat peti jenazah yang ada di hadapannya. Wanita itu mendekat di temani oleh Elma. Mereka berdua sama-sama melihat wajah Big Boss Turner untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya peti itu dikebumikan.
"Daddy...."
"Luis, pastikan keadaan aman. Entah kenapa sejak tiba di kota ini aku merasa ada yang sedang mengawasiku. Aku harap ini hanya firasatku saja," bisik Zico kepada Luis yang kini berdiri di sampingnya.
"Saya akan menjaga anda dan Nona Eren, Bos," sahut Luis. Pria itu merasa percaya diri kalau memang di lokasi sekitar tempat mereka berada aman.
__ADS_1
Proses pemakaman berlangsung dengan hikmat. Saat penaburan bunga di atas makam, Elma sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri. Wanita itu jatuh pingsan. Dia belum ada makan dan minum. Rivan dengan sigap mengangkat tubuh wanita itu.
"Kak, bangun kak." Eren terlihat panik dan bingung. Wanita itu memandang ke arah makam lagi sebelum memandang Elma yang masih memejamkan mata.
"Aku akan membawa Elma pulang. Dia memang butuh istirahat. Sejak kemarin dia terlalu memaksakan diri," ucap Rivan menjelaskan.
"Pergilah. Aku akan menjaga Eren. Utamakan kesehatan Elma saat ini." Zico mendekati Eren. Pria itu memegang pundak Eren.
"Tolong jaga kakakku," ucap Eren lagi.
Rivan tidak mau banyak bicara lagi. Dia segera membawa Elma ke mobil. Rasanya Rivan sendiri sudah tidak sabar untuk menghubungi Dokter untuk memeriksa keadaan Elma.
Baru juga mobil yang dikemudikan Rivan meluncur, Zico dan Luis sudah harus memegang senjata api mereka. Begitupun dengan Lusi yang juga sudah memegang senjata api mereka ketika segerombolan pria bersenjata muncul dan melangkah menuju ke lokasi pemakaman.
__ADS_1
"Siapa mereka?" Eren mengatur napasnya. Wanita itu memegang tangan Zico.
"Mereka keluarga Yola. Pada akhirnya mereka datang untuk balas dendam."