
"Kakak! Kakak!"
Zico yang saat itu tengah asyik memainkan senjata api barunya terlihat serius hingga tidak lagi mendengar suara teriakan adiknya Lyn yang tenggelam di kolam renang yang letaknya tidak jauh dari posisi Zico berada. Suara musik yang begitu keras membuat Zico tidak bisa mendengar teriakan Lyn dengan jelas meskipun jarak mereka sangat dekat.
Hingga tiba-tiba saja Zico menumpahkan sebotol air mineral yang terletak tidak jauh dari senjatanya tergeletak. Pria itu segera mematikan music yang menyala.
Di detik itulah Zico merasa ada yang aneh. Dia memandang ke arah kolam renang yang terlihat tenang sebelum akhirnya dia melihat Lyn muncul untuk yang terakhir kalinya sebelum tenggelam.
"Lyn!" Zico berlari dengan kencang. Dia ingin menyelamatkan Lyn.
Tanpa menunggu lagi dia berenang untuk menolong adik kandungnya. Sayangnya Lyn sudah tidak bernyawa. Tetapi Zico belum menyadarinya. Zico membawa Lyn ke tepian. Segala cara ia lakukan agar bisa membuat Lyn kembali sadar. Namun semua sia-sia karena memang Lyn sudah tewas sejak masih ada di kolam.
"Lyn!"
...***...
Zico tersadar dari lamunannya ketika Eren mulai menggerakkan tangannya secara perlahan. Wanita itu juga mulai membuka kedua matanya. Eren mengangkat tangannya lalu memegang kepalanya yang terasa pusing. Wanita itu masih belum sadar kalau kini dia berada di rumah sakit.
"Kau sudah sadar?" Zico beranjak dari kursi yang ia duduki. Sepertinya pria itu ingin segera pergi ketika dia tahu kalau Eren baik-baik saja.
Eren memandang ke samping. Dia mengernyitkan dahi ketika melihat Zico berdiri di sana. Samar-samar peristiwa tadi pagi kembali berputar di dalam ingatannya. Wajah wanita itu langsung dipenuhi amarah.
"Bisa-bisanya Kau hanya berdiri saja untuk menontonku tadi! Jika saja saat itu kau segera masuk ke dalam kolam dan menyelamatkanku mungkin aku tidak sampai pingsan seperti ini. Apa kau sengaja ingin melihatku mati?" ketus Eren kesal. Masih terbayang jelas bagaimana ketika Zico berdiri di pinggiran kolam untuk beberapa saat ketika Eren terus saja meminta tolong. Kejadian itu membuat Eren berburuk sangka terhadap Zico.
__ADS_1
"Aku akan meminta Lusi untuk menemanimu. Hari ini aku memiliki banyak pekerjaan!" Zico segera berlalu pergi tanpa mau menjelaskan apapun. Wajah pria itu terlihat tidak bersahabat siang ini. Eren berusaha untuk duduk. Memang saat itu kondisinya sudah jauh lebih baik.
"Kau memang benar-benar pria yang tidak memiliki hati nurani!" teriak Eren kesal. Bersamaan dengan itu Lusi dan Luis masuk ke dalam. Mereka senang melihat Eren bisa duduk dan dalam keadaan baik-baik saja. Namun mereka juga bingung ketika melihat Zico berdiri di dekat pintu keluar.
"Aku serahkan Eren kepadamu," ucap Zico kepada Lusi sebelum pria itu pergi. Luis juga segera mengejarnya dari belakang.
Lusi memandang ke arah Eren sejenak sebelum menutup pintu itu. Dia berjalan pelan mendekati Eren sambil tersenyum bahagia. "Nona Elma sedang dalam perjalanan ke sini, Bos. Maafkan saya karena terpaksa menghubungi Nona Elma. Tadi tiba-tiba saja Nona Elma menghubungi nomor anda, namun karena anda tidak mengangkat panggilan teleponnya. Nona Elma menjadi sangat khawatir hingga akhirnya ia menghubungi saya dan memaksa saya untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi."
"Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang. Sepertinya aku sudah bisa pulang," ucap Eren sembari menurunkan kakinya.
"Bos, duduklah sebentar saja. Setidaknya anda bisa pulang ketika dokter sudah menjamin kondisi anda baik-baik saja. Nona Elma juga sedang dalam perjalanan menuju ke sini. Apa anda tega melihat Nona Elma kecewa karena ketika dia tiba di sini anda sudah tidak ada?"
Lusi mengangkat kedua kaki Eren dan meletakkannya di atas tempat tidur. Wanita itu juga menekan tombol yang ada di samping tempat tidur agar dokter segera muncul untuk memeriksa.
"Kau benar. Kak Elma pasti akan sedih."
"Bos, tidak seperti itu yang sebenarnya terjadi," bela Lusi karena dia sudah tahu yang sebenarnya.
"Kenapa sekarang kau tidak ada di pihakku lagi? Aku jelas-jelas melihatnya. Dia datang ketika aku baru saja kesulitan berenang. Kakiku tiba-tiba tidak bisa digerakkan karena air di kolam terlalu dingin."
"Bos, sebenarnya Tuan Zico trauma dengan kolam renang. Bukan hanya kolam renang saja, tetapi lautan, sungai bahkan danau. Dia tidak berani memasukinya sejak adiknya tenggelam di dalam kolam renang. Saya sendiri tidak tahu bagaimana cerita lengkapnya. Tetapi itulah informasi yang saya dapat dari Luis. Saya harap setelah mendengar penjelasan ini Anda tidak salah paham lagi terhadap Tuan Zico."
"Dia memiliki adik?" tanya Eren dengan wajah serius. Bahkan Eren sendiri tidak tahu bagaimana kehidupan suaminya dan siapa saja keluarga yang dimiliki suaminya. Kini wanita itu merasa bersalah karena tadi sudah menyalakan Zico dengan kalimat yang begitu menyakitkan.
__ADS_1
"Ya, Bos. Tetapi anda juga harus tahu satu hal. Kalau tadi Tuan Zico sempat melompat ke dalam kolam renang sebelum aku tiba di sana. Dialah yang menolong Anda hingga akhirnya Anda bisa tertolong dan bisa dibawa ke rumah sakit. Dokter sendiri yang bilang, sedikit saja kami terlambat membawa anda ke rumah sakit maka nyawa anda tidak tertolong. Bukankah itu berarti anda sekarang berhutang nyawa terhadap Tuan Zico?"
"Apa jangan-jangan dia pergi karena dia sakit hati mendengar perkataanku?" Wajah Eren semakin sedih.
"Sebaiknya kita tidak pikirkan masalah Tuan Zico dulu untuk saat ini, Bos. Kita harus fokus kepada kesehatan anda. Saya akan panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan anda. Sepertinya tombol ini sama sekali tidak berfungsi." Lusi memutar tubuhnya dan berjalan ke pintu.
Eren menggangguk setuju. Wanita itu kembali termenung menyesali kesalahan yang baru saja ia perbuat. Bersamaan dengan itu, pintu terbuka lebar. Elma dan Rivan muncul. Wajah Elma terlihat sangat panik. Wanita itu segera berlari menghampiri Eren.
"Eren, apakah kau baik-baik saja? Kakak sangat takut ketika mendengar kabar kalau kau tenggelam di kolam renang. Sebenarnya apa yang kau pikirkan sampai-sampai kau tenggelam di kolam renang. Bukankah kau ini adalah perenang yang handal." Meskipun kini Elma sangat mengkhawatirkan keadaan Eren, tetapi rasanya hatinya belum puas jika ia tidak memarahi adiknya. "Aku masih merahasiakan semua ini dari Daddy. Aku tidak mau sampai Daddy tahu dan kepikiran."
"Aku yang salah karena pagi-pagi sudah mandi di kolam. Airnya memang sangat dingin hingga membuat kakiku terasa kaku dan tidak bisa bergerak lagi. Lusi juga sudah memperingatiku berulang kali tapi aku tetap keras kepala dan tetap mandi di kolam itu. Bahkan ketika aku belum sarapan." Eren mengakui kesalahannya agar Elma tidak terus menyalahkannya.
"Eren, jika kau tidak ingin membuatku terkena serangan jantung. Sebaiknya jangan ulangi kesalahan seperti ini lagi. Kau ini sudah menikah setidaknya berpikirlah lebih dewasa." Elma mencari-cari ke segala ruangan ketika dia tidak menemukan Zico di sana. "Di mana suamimu? Kenapa Kakak tidak melihatnya ada di sini?"
"Dia pergi karena ada urusan. Nanti dia juga akan kembali." Eren berusaha untuk membela Zico. Dia tadi sudah sempat salah paham terhadap suaminya itu. Eren tidak mau sampai Elma juga ikutan salah paham karena melihat Zico tidak ada di rumah sakit.
...***...
Zico memberhentikan mobilnya di lokasi pemakaman. Di belakangnya ada mobil Luis yang memang sejak di rumah sakit sudah mengikutinya dari belakang. Zico segera turun sambil membawa buket bunga yang ia beli di pinggiran jalan. Pria itu menahan langkah kakinya sejenak ketika melihat makam-makam yang berbaris rapi di hadapannya. Di antara makam yang begitu ramai itu terdapat makam kedua orang tuanya dan juga adik kandungnya.
Setiap kali datang ke tempat itu Zico selalu merasa sendiri. Meskipun kini ia memiliki pengawal setia seperti Luis dan pasukan yang selalu setia untuk menemaninya, tetap saja Zico merasa kalau di dunia ini dia hanya hidup sendirian.
Luis tetap bertahan di dalam mobil. Pemandangan ini sudah biasa terjadi. Zico tidak pernah mau diajak bicara apa lagi sampai didekati ketika sedang berkunjung ke makam keluarganya. Maka dari itu Luis memutuskan untuk tetap berada di dalam mobil dan mengawasi pria itu dari kejauhan.
__ADS_1
Zico menahan langkah kakinya ketika dia berada di dekat makam Lyn dan kedua orang tuanya. Pria itu meletakkan buket bunga yang ia beli di dekat batu nisan yang tertulis nama Lyn. Pria itu berjongkok lalu memegang batu nisan itu dengan mata berkaca-kaca. Mengusapnya dengan penuh perasaan.
"S jak kejadian waktu itu aku membenci semua genangan air termasuk kolam renang, sungai dan lautan.Bahkan sejak kejadian itu, aku lebih memilih untuk menghindari tempat-tempat yang dikelilingi dengan air. Aku tahu saat itu bukan air yang salah tetapi diriku sendiri. Karena aku tidak bisa mendengar jeritanmu ketika minta tolong. Tidak bisa aku bayangkan bagaimana sakitnya ketika air itu memenuhi paru-parumu. Bahkan mungkin kau sempat merasa kecewa ketika aku tidak kunjung muncul untuk menyelamatkanmu. Hari ini kejadian yang sama terulang kembali. Namun bedanya Aku memiliki keberanian untuk menolongnya. Wanita yang aku nikahi beberapa waktu yang lalu. Aku harap kau tidak marah. Aku harap kau tidak membandingkan perlakuanku yang dulu dengan perlakuanku yang sekarang. Tidurlah dengan tenang di sana." Zico memandang ke arah langit yang terlihat begitu cerah. "Cepat atau lambat kita pasti akan bertemu. Aku harap ketika kita bertemu nanti, kau tidak menyalahkanku."