Putri Tangguh

Putri Tangguh
CEO Playboy


__ADS_3

Elma memang diperlakukan dengan sangat baik di kediaman keluarga Johnson. Meskipun Elma sendiri tidak tahu apakah keluarga Johnson benar-benar menyayanginya atau karena takut saja dengan ayahnya. Tetapi setidaknya sekarang Elma merasa jauh lebih tenang karena ia berada di lingkungan sebuah keluarga yang sangat menyayanginya.


Keberadaan calon suami Elma masih dalam pencarian. Calon mertua Elma sudah membayar orang untuk mencari keberadaan Rivan. Bahkan sampai detik ini saja Elma belum tahu bagaimana rupa calon suaminya. Dia terlalu fokus dengan perasaannya sendiri hingga lupa untuk melihat foto wajah calon suaminya.


"Tadinya aku tidak ingin menangis sedih seperti ini tetapi hatiku sudah tidak bisa ditahankan lagi. Aku benar-benar sedih. Aku sama sekali tidak menyangka kalau calon suamiku akan meninggalkanku di hari pernikahan kami. Eren pasti tahu kalau sekarang aku sedang menangis. Aku harus segera menghubunginya untuk memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi agar dia jauh lebih tenang. Aku tidak mau dia kabur di malam pertamanya hanya untuk menemuiku di sini. Sekarang dia pasti sangat mengkhawatirkanku."


Elma mencari-cari ponselnya. Namun wanita itu tidak berhasil menemukan ponselnya. Ia kembali mengingat di mana ponselnya tergeletak sampai ia tidak bisa menemukan ponselnya saat ini.


"Ponselku pasti ketinggalan di mobil ketika turun dari mobil aku tidak lagi ingat untuk membawa tasku," gumam Elma dengan wajah kecewa. Meskipun ponselnya tidak akan mungkin hilang tetapi tetap saja dia merasa sedih karena sekarang dia tidak bisa menggunakan ponselnya. Elma melihat telepon rumah yang ada di dalam ruangan itu. Ia beranjak dari sofa lalu berjalan mendekati telepon rumah tersebut. Tanpa menunggu dan permisi kepada sang pemilik rumah, Elma segera menekan nomor telepon adiknya. Tidak lama setelah panggilan telepon tersambung terdengar suara Eren di kejauhan sana. Hal itu membuat Elma jauh lebih tenang sekarang.


"Eren, ini aku."


"Kakak, apa yang terjadi? Kenapa Kakak menangis?" tanya Eren dengan nada yang begitu khawatir. "Lalu sekarang kakak menghubungiku dengan nomor siapa?" tanya Eren sekali lagi.


"Ini nomor telepon keluarga Johnson."


"Kakak ada di kediaman Johnson?" Kenapa tidak pulang ke rumah saja. Bukankah kakak tidak jadi menikah dengan pria itu?" tanya Eren dengan nada yang sangat khawatir.


"Eren, Aku tidak akan mungkin pulang ke rumah dan menemui Daddy. Jika Daddy tahu kalau pernikahanku batal maka dia akan memberi pelajaran kepada keluarga Johnson. Keluarga Johnson sangat baik terhadapku. Aku tidak mungkin membuat mereka celaka."


"Kau ini boleh saja baik kepada semua orang tapi jangan bersikap bodoh. Putra mereka sudah membuatmu sakit hati dan kecewa. Bahkan malu! Kenapa kau masih melindungi mereka? Biarkan saja mereka dihukum oleh Daddy. Bukankah kesalahan ini kesalahan mereka sendiri," teriak Eren kesal.


"Eren, setahu Daddy aku sudah menikah dan sekarang kembali ke rumah keluarga Johnson. Kebetulan ketika acara pernikahanku berlangsung, Daddy memiliki urusan penting. Jadi dia tidak bisa datang. Aku minta padamu tolong rahasiakan masalah ini dari Daddy."


"Baiklah. Aku tidak akan cerita apapun kepada Daddy."


"Bagaimana dengan suamimu? Kenapa kau masih bisa mengangkat teleponku? Tadinya aku pikir kau sedang bersenang-senang melewati malam pertamamu." Elma berusaha untuk mencairkan suasana.


"Dia pergi entah ke mana. Sekarang aku ada di kamar sendirian. Aku baru saja selesai mandi. Sejak tadi aku terus saja memikirkan air mata yang menetes di wajahku. Tapi ketika aku hubungi ke nomor Kak Elma, Kk Elma tidak mengangkat teleponku."

__ADS_1


"Teleponku tertinggal di mobil. Mungkin supir yang ada di mobil itu belum sadar kalau teleponku tertinggal." Elma memandang ke arah tangga untuk memastikan tidak ada yang sedang menguping pembicaraannya.


"Kak Elma jangan sedih lagi ya. Aku tidak mau Kak Elma terus-terusan menangis. Mungkin pria itu memang bukan jodoh Kak Elma. Kita akan cari jodoh baru lagi yang jauh lebih baik. Bagaimana?" tawar Eren hingga membuat Elma tertawa mendengarnya.


"Aku tidak bisa memutuskan pria itu baik atau jahat Karena aku belum bertemu langsung dengannya. Aku juga belum mendengar langsung alasan dia tidak datang di pernikahan kami apa," jawab Elma


"Dia itu buaya. Aku yakin dengan sedikit rayuan saja pasti Kak Elma akan luluh padanya. Dia pasti tidak datang di pernikahan kalian karena sedang bersenang-senang dengan wanita lain," ujar Eren dengan penuh semangat berharap kakak kandungnya percaya dengan apa yang dia katakan.


"Sepertinya kau tahu banyak tentang calon suamiku," celetuk Elma hingga membuat Eren terdiam sejenak.


"Maksudku tidak seperti itu. Aku hanya menebak saja," dusta Eren agar kakaknya tidak sadar kalau sebenarnya dia yang sudah menculik Rivan.


"Eren, kau tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja. Sebaiknya sekarang kau istirahat. Kakak tahu kau pasti sangat lelah karena seharian bertemu dengan tamu undangan. Aku juga akan ke kamar untuk istirahat. Keluarga Johnson baru saja menyiapkan makan malam. Sepertinya mereka sebentar lagi akan memanggilku untuk makan bersama mereka."


"Baiklah. Aku akan segera tidur. Besok akan aku hubungi lagi.Aku sangat merindukan Kakak. Aku juga sangat menyayangi kakak."


Elma segera menutup panggilan teleponnya. Wanita itu sudah merasa jauh lebih lega karena Eren tidak akan menceritakan masalah pernikahannya yang gagal kepada Daddy mereka. Ketika ingin beranjak dan menuju ke meja makan tiba-tiba saja Elma dibuat kaget dengan suara teriakan seseorang di depan pintu. Ternyata bukan Elma saja yang kaget tapi seluruh keluarga Johnson yang ada di rumah itu juga keluar. Teriakan wanita itu tidak terdengar dengan jelas hingga membuat Elma tertarik untuk mendekat ke arah pintu.


Ketika sudah semakin dekat, Elma mendengar teriakan wanita itu dengan jelas. Dari suaranya Elma merasa yakin kalau orang yang berteriak adalah seorang wanita. Karena keluarga Johnson tidak ada yang terlihat, Elma memutuskan untuk membuka pintu itu sendirian.


Di depan sana berdiri seorang wanita hamil dalam keadaan yang sangat kacau. Rambutnya acak-acakan. Bajunya juga kotor. Dia menatap Elma dengan tatapan penuh kebencian. Padahal jelas-jelas mereka tidak saling kenal.


"Di mana Rivan? Aku ingin bicara dengannya!" ketus wanita itu tidak sopan. Ketika ia ingin menerobos masuk tiba-tiba saja Elma menahannya dan mendorong wanita itu agar tidak masuk ke dalam.


"Rivan tidak ada di rumah ini. Saya juga tidak tahu dia ada di mana," sahut Elma dengan nada yang tegas.


"Apa kau istrinya? Apakah kau wanita yang baru saja ia nikahi tadi siang?" tanya wanita itu lagi.


Elma menahan emosinya. Ketika ingin menjawab tiba-tiba keluarga Johnson sudah muncul di sana.

__ADS_1


"Siapa kau? Kenapa kau ke sini? Untuk apa kau mencari Putraku?" tanya Nyonya Jhonson.


"Saya ingin menemui ayah dari anak yang saya kandung. Saya tidak ikhlas jika dia menikah dengan wanita lain!"


Ucapan wanita itu membuat kaki Elma menjadi lemah hingga wanita itu sulit untuk berdiri. Nyonya Johnson segera menangkap tubuh Elma ketika wanita itu hampir saja terjatuh. Jangankan Elma bahkan keluarga Johnson saja kaget mendengar pernyataan wanita itu.


"Tidak mungkin Rivan seperti itu," sangkal Nyonya Johnson tidak percaya.


"Aku punya bukti rekamannya. Rekaman itu hanya sekali aku ambil sedangkan kami berhubungan hingga berulang kali," ucap wanita itu dengan penuh rasa bangga. Padahal jelas-jelas seharusnya ia menutup aibnya tersebut dari orang lain.


"Rivan ... Kenapa kau tega mempermalukan Mama dengan cara seperti ini?" keluh Nyonya Johnson dengan wajah yang sedih.


"Aku akan tetap berada di rumah ini sampai Rivan datang. Aku tidak mau ditinggalkan olehnya. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ini adalah anak kandung Rivan. Dia harus menikahiku!" teriak wanita itu.


"Kami tidak akan pernah menerima wanita sepertimu sebagai bagian dari keluarga Johnson. Sebaiknya pergilah dari rumah ini. Jika tidak aku akan menelepon polisi untuk menangkapmu karena sudah membuat keributan di kediamanku," ancam Nyonya Johnson.


"Aku ingin tetap di sini menunggu Rivan." Wanita itu masih bersih keras untuk menunggu.


Nyonya Johnson benar-benar kesal. Di tambah lagi security yang biasa berjaga di depan hari ini cuti hingga tidak ada penjagaan di halaman depan. Mau tidak mau Nyonya Johnson bergerak sendiri. Dia meminta suaminya untuk mengusir wanita itu dari rumah ini. Setelah itu mereka menutup pintu rapat-rapat agar tidak mendengar teriakan wanita itu lagi.


Elma masih belum mau mengatakan hal apapun. Namun dari wajahnya bisa terlihat jelas kalau ia sangat kecewa ketika mengetahui kenyataan kalau suaminya pria yang sangat jahat. Suka bermain hati dengan semua wanita. Tidak sebaik yang ia bayangkan.


"Elma, kau harus percaya dengan tante. Tante yakin Rivan tidak seperti itu. Wanita tadi pasti sengaja menjebak Rivan agar dia bisa hamil dan melahirkan keturunan Johnson," ucap Ny. Johnson berharap Elma percaya dan tidak sedih lagi.


"Aku tidak boleh menangis lagi. Jika aku menangis, Eren akan kembali khawatir," gumam Elma di dalam hati sambil berusaha menekan kesedihannya. Ia tidak mau sampai meneteskan air mata lagi.


"Tante. Maafkan saya karena saya tidak bisa tinggal di rumah ini lagi. Saya ingin pergi."


"Pergi ke mana Elma? Tolong jangan ceritakan ini kepada Tuan Turner," ucap Nyonya Johnson dengan wajah memohon.

__ADS_1


"Anda tenang saja.Saya tidak akan mengatakan masalah ini kepada Daddy. Saya permisi dulu," pamit Elma sebelum melangkah ke pintu. Wanita itu membuka pintu lalu pergi begitu saja. Keluarga Johnson tidak bisa mencegah Elma karena tidak mau membuat masalah baru.


"Sekarang aku harus ke mana? Aku tidak mungkin pulang ke rumah," gumam Elma di dalam hati sambil menatap langit yang sudah gelap.


__ADS_2