Putri Tangguh

Putri Tangguh
Dokter Palsu


__ADS_3

DUARRRRR


DUARRRRR


DUARRRRR


Zico dan pengawal pribadinya tersentak kaget ketika mereka mendengar suara tembakan yang berasal dari kamar atas. Bersamaan dengan itu Lusi dan dokter yang baru saja tiba muncul dari balik pintu utama. Mereka berempat sama-sama mengkhawatirkan keadaan Eren di atas.


Zico segera berlari menuju kamar bawah karena melalui tangga yang ada di kamar itu dia bisa lebih cepat tiba di kamar atas. Sedangkan pengawal pribadi Zico, Lusi dan dokter wanita tersebut memutuskan untuk berlari menggunakan tangga.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada suara tembakan dari dalam rumah ini? Apa Bos Eren baik-baik saja? Supir tadi bilang kalau Bos Eren tidak bisa jalan," gumam Lusi di dalam hati.


Zico menahan langkah kakinya dengan napas tersengal. Pria itulah yang pertama kali berhasil tiba di kamar atas. Eren memegang senjata api. Di depannya ada dokter gadungan yang kini tergeletak tidak bernyawa. Ternyata tembakan itu berasal dari tembak yang digenggam oleh Eren.


Di waktu yang mendesak wanita itu berhasil merebut pistol yang ingin digunakan dokter tersebut untuk menghabisi nyawanya. Tanpa pikir panjang Eren segera menembak wanita itu sampai tewas. Dia bahkan tidak mau memberikan kesempatan kepada wanita itu untuk bicara karena memang Eren sadar kalau kondisinya tidak memungkinkan untuk bertarung.


Zico mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlihat khawatir. Pria itu lalu berjalan menghampiri Eren. Ia bahkan tidak lagi melirik dokter gadungan yang kini tergeletak di atas karpet dengan berlumuran darah. Eren membuang senjata api yang ada di genggaman tangannya lalu memalingkan wajahnya ke jendela. Wanita itu mengatur napasnya karena tiba-tiba saja ia merasa sangat pusing.


"Sepertinya kau baik-baik saja," ucap Zico.


Pada akhirnya pria itu juga yang mengangkat tubuh Eren. Namun kali ini Zico tidak membawa Eren untuk duduk di sofa lagi. Pria itu berjalan menuju ke arah tempat tidur yang juga ada di dalam kamar tersebut.


Pengawal pribadi Zico dan dokter yang baru saja tiba hanya diam saja menyaksikan pemandangan yang ada di depan mereka. Lusi melirik ke arah Eren. Wanita itu kembali bernapas lega ketika melihat Eren baik-baik saja. Ia segera menghampiri Dokter wanita yang tergeletak di karpet untuk menyelidikinya.

__ADS_1


Lusi tidak sendirian. Wanita itu ditemani oleh pengawal pribadi Zico. Mereka sama-sama ingin tahu sebenarnya siapa yang sudah mengirim dokter gadungan tersebut.


Berbeda dengan dokter yang sungguhan. Dokter itu justru jalan ke arah tempat tidur untuk memeriksa keadaan Eren.


Zico meletakkan Eren dengan hati-hati di atas tempat tidur lalu berdiri menjauh. Dokter itu segera mengambil alih untuk memeriksa keadaan Eren.


"Kepalaku pusing," ucap Eren dengan nada yang lemah. Kali ini bibir wanita itu sudah benar-benar pucat.


"Anda kehabisan banyak darah. Jika tidak transfusi darah, Anda tidak akan bisa selamat. Keadaan anda sudah terbilang kritis tetapi anda wanita yang hebat karena masih bisa bertahan sampai detik ini," ucap dokter itu khawatir.


Eren memandang Lusi dengan tatapan yang tidak jelas lagi. Wanita itu sudah tidak bisa berbicara hingga pada akhirnya ia memejamkan mata. Zico sebenarnya khawatir namun Ia hanya diam saja pada posisinya berdiri. Sedangkan dokter itu sudah menebak yang akan sebenarnya terjadi. Dia memandang ke arah Zico.


"Nona Eren membutuhkan darah. Setidaknya ia harus mendapatkan satu kantong darah."


"Anda tenang saja, Tuan. Saya akan mengatur kamar ini menjadi kamar rumah sakit. Sekarang Saya hanya butuh izin dari Anda," ucap Dokter wanita tersebut.


"Lakukan segala cara yang penting dia bisa sembuh," perintah Zico kepada dokter itu. Zico memandang ke samping untuk melihat pengawal pribadinya yang kini sudah berhasil mengetahui identitas dokter gadungan tersebut.


"Wanita ini adalah mata-mata yang dikirimkan oleh Roger. Sepertinya dia mengincar nyawa Nona Eren dan tidak tahu identitas asli Nona Eren. Dia berpikir kalau dia bisa mencelakai istri anda dengan begitu mudah," jelas pria itu apa adanya.


"Siapa Roger? Berani sekali dia masuk ke kamar ini," sahut Lusi.


Pengawal pribadi Zico hanya melirik Lusi sekilas sebelum memandang ke arah Zico lagi.

__ADS_1



"Kita harus segera berangkat, Bos. Jika masalah ini tidak segera kita bereskan maka Roger akan semakin besar kepala dan terus-terusan mengirim orangnya untuk mencelakai kita."


Kali ini Zico tidak memiliki pilihan lain lagi. Ia harus meninggalkan Eren dalam keadaan sakit. "Apa kau pengawal pribadi yang pernah diceritakan oleh Eren?" tanya Zico untuk kembali memastikan.


"Benar, Tuan. Saya Lusi. Saya sudah lama bekerja dengan Bos Eren. Anda tidak perlu khawatir. Saya akan menjaga Bos Eren dengan nyawa yang saya miliki. Jika memang Anda ingin membalas perbuatannya sebaiknya Anda tidak perlu menundanya lagi karena orang seperti dia ini tidak pantas dibiarkan hidup."


"Baiklah aku akan meninggalkan Eren di rumah ini bersama denganmu. Aku akan pergi selama beberapa hari. Jadi aku minta padaMu mulai hari ini kau yang mengatur seluruh orang yang ada di rumah. Jika terjadi sesuatu kau bisa langsung menghubungi Luis."



Lusi memandang ke arah Luis. "Tuan, bisakah saya meminta nomor telepon anda. Bukankah Tuan Zico sendiri yang meminta saya untuk menghubungi anda ketika terjadi sesuatu." Lusi memamerkan ponselnya di hadapan Luis. Karena tidak memiliki pilihan lagi Luis segera merebut ponsel Lusi dan menekan nomor telepon miliknya. Setelah selesai pria itu memberikan ponsel Lusi kembali kepada orangnya.


Bersamaan dengan itu Zico pergi meninggalkan kamar. Kali ini pria itu tidak akan kembali lagi pulang ke rumah sebelum ia berhasil menghabisi nyawa seorang pria bernama Berto.


Setelah melihat Zico dan Luis pergi meninggalkan kamar tersebut, Lusi berlari mendekati tempat tidur. Wanita itu menggenggam tangan Eren dan memandang dokter yang kini sedang membersihkan dan menjahit luka Eren.


"Apa Bos Eren bisa segera sembuh. Saya tidak tega melihatnya seperti ini."


"Nona Eren akan segera sembuh. Anda tenang saja," ucap dokter itu dengan senyum ramah. Lusi memandang ke arah Eren lagi dengan wajah sedih.


"Apa jadinya Jika Bos Eren tahu kalau Big Boss Turner berniat untuk menarik geng mafia yang pernah dimiliki oleh Bos Eren?" gumam Lusi di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2