
Eren sudah terlatih sejak kecil untuk selalu bersikap waspada. Kini ketika ia sudah tidur lelap dan mendengar seseorang berjalan mendekatinya, wanita itu segera bangun dan duduk di atas tempat tidur. Zico yang tadinya hanya sekedar lewat saja kini berhenti dan menatap Eren dengan tatapan penuh arti.
"Apa yang kau lihat?" ketus Zico sembari memegang perutnya sendiri. Dia seperti sedang menekan perutnya.
"Kau baru pulang?" Eren memandang ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Bukankah kau bilang kau tidak akan pulang malam ini?"
Zico memalingkan wajahnya. "Apa kau senang jika aku tidak pulang?"
"Tidak bisa dikatakan senang karena kau ini adalah suamiku. Tapi setidaknya aku jauh lebih bahagia sekarang karena melihatmu sudah ada di sini," dusta Eren asal saja. Padahal sebenarnya wanita itu sangat senang jika suaminya tidak muncul di rumah ini karena ia bisa tidur dengan nyenyak.
"Kau ini benar-benar wanita yang menyebalkan." Zico masih menahan emosinya. Dia tidak mungkin marah-marah tidak jelas kepada wanita yang sudah ia nikahi. Pria itu memutuskan untuk melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamar mandi. Dia ingin berendam untuk menghilangkan stress di kepalanya.
"Berani sekali dia mengatakan Aku ini wanita yang menyebalkan. Sebenarnya dialah suami yang menyebalkan. Bisa-bisanya meninggalkan pengantin wanita di malam pertama." Eren menutup mulutnya ketika baru menyinggung soal malam pertama. "Sebaiknya aku tidur saja. Aku tidak mau hal-hal tidak diinginkan terjadi," gumam Eren di dalam hati. Wanita itu segera mencari posisi tidurnya untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
Di dalam kamar mandi, Zico membuka pakaiannya satu persatu. Sebelum membuka celana pria itu memandang luka sayatan pisau yang ada di perutnya sebelah kanan. Ternyata di balik jaket hitam yang ia kenakan terdapat kemeja yang sudah dipenuhi dengan darah. Pria itu masih sanggup untuk menahan sakit yang kini ia derita. Ia mengambil kotak P3K yang ada di kamar mandi lalu mengobati lukanya sendiri.
"Roger! Aku akan membalasmu nanti!" ucap Zico penuh dendam.
Pria itu membersihkan dulu darah yang ada di perutnya. Zico meringis ketika kapas yang ia gunakan untuk membersihkan menyentuh luka yang terbuka. Anak buah Zico sudah memaksa pria itu untuk ke rumah sakit karena kali ini luka yang diterima Zico sangat serius. Namun pria itu menolaknya. Ia merasa yakin kalau luka ini bisa ia atasi sendiri. Tidak perlu ada bantuan dokter.
"Zico, Apa Anda masih lama lagi? Saya ingin masuk ke dalam kamar mandi," teriak Eren di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Zico memejamkan mata sambil menghela napas kasar. Ia tidak ingat kalau di kamar itu sekarang dia tidak sendirian lagi. Sudah ada wanita menyebalkan yang tinggal di kamarnya. Zico memutar tubuhnya lalu berjalan ke arah pintu. Ia segera membuka pintu kamar mandi untuk mempersilahkan Eren masuk ke dalam.
"Kenapa anda tidak pakai baju!" Eren mengeryitkan dahi lalu memutar tubuhnya ketika melihat Zico tidak mengenakan pakaian. Namun beberapa detik setelahnya, Eren kembali berputar lalu memandang perut Zico yang terluka dan masih mengeluarkan darah. "Apa ini? Kenapa Anda bisa sampai terluka?" tanya Eren dengan wajah khawatir.
"Jika kau butuh kamar mandi masuk saja!" Ketus Zico tanpa mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak tidak. Aku sudah tidak ingin ke kamar mandi lagi." Eren segera mendekati Zico lalu memperhatikan luka itu dengan seksama. Wanita itu melihat alat P3K yang tergeletak di atas meja wastafel. Tanpa permisi wanita itu menarik tangan Zico dan membawanya ke arah sofa.
"Apa yang mau kau lakukan? Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!" teriak Zico tidak suka. Dengan kasar pria itu menghempaskan tangan Eren hingga membuat Eren membulatkan kedua matanya.
"Kau ini benar-benar pria yang sangat kejam dan tidak memiliki hati. Aku hanya berniat untuk menolongmu. Bukan mencelakaimu. Sebaiknya duduklah di sofa ini. Aku akan mengobati lukamu."
Zico tidak mau protes lagi. Pria itu segera duduk dan memandang Eren yang kini berlari ke kamar mandi. Eren keluar sambil membawa alat P3K yang tadi tergeletak di dalam kamar mandi. Wanita itu segera duduk di karpet yang ada di dekat sofa lalu memilih peralatan yang akan ia gunakan untuk membersihkan luka pada perut Zico.
"Apa kau seorang dokter?" tanya Zico kurang yakin. Dia tidak mau sampai perutnya diobati dengan cara yang salah karena itu akan membuat perutnya semakin parah.
"Aku ini bukan seorang dokter. Tapi aku sudah biasa mengobati luka seperti ini. Setiap pertarungan pasti ada yang terluka. Kami biasanya akan mengobati luka kami sendiri tanpa perlu bantuan dokter," jawab Eren sebelum mempersiapkan alat jahitnya.
Melihat jarum jahit itu saja sudah membuat Zico linu. Namun ia tidak mungkin memperlihatkan wajah takutnya ketika di depan wanita yang baru saja ia nikahi. Hal ini bisa menjatuhkan harga dirinya sendiri.
"Kau takut ya?" ledek Eren sambil senyum.
__ADS_1
"Siapa yang takut? Jika aku takut aku sudah berangkat ke rumah sakit dan membiarkan dokter mengobati lukaku ini. Tetapi tadi aku berencana untuk menjahitnya sendiri," ketus Zico tanpa mau memandang wajah Eren.
"Terserah kau sajalah. Sekarang berbaringlah."
Zico mengangkat kepalanya karena kini Eren berdiri di depannya. "Kenapa aku harus menuruti perkataanmu."
"Karena aku akan mengobatimu." Eren langsung memaksa Zico untuk berbaring dengan cara mendorongnya. Ternyata tenaga wanita itu sangat kuat hingga membuat Zico tersentak kaget.
"Diam dan jangan bicara lagi!" Eren segera meletakkan satu jarinya di depan bibir Zico ketika Zico ingin protes. Setelah itu Eren segera melakukan tugasnya untuk menjahit luka sayatan di perut Zico.
"Sebelum jahitannya sembuh, kau harus banyak istirahat," ucap Eren sebelum kembali fokus pada luka Zico.
"Wanita aneh," umpat Zico di dalam hati.
Tidak butuh waktu lama bagi Eren untuk menjahit luka yang ada di perut Zico. Wanita itu segera membereskan barang-barang yang berserak di atas meja lalu membawanya ke kamar mandi lagi. Eren masih belum memandang wajah Zico. Wanita itu belum sadar kalau suaminya telah tertidur di atas sofa karena terlalu kelelahan.
Ketika keluar dari kamar mandi, Eren menahan langkah kakinya karena detik itu Ia baru sadar kalau Zico telah tertidur. Eren menghela nafas sebelum berjalan ke arah tempat tidur untuk mengambil selimut. Dengan hati-hati Eren berjalan mendekati Zico. Dia tidak mau membuat keributan hingga membuat Zico kembali terbangun.
"Mommy ...."
Eren menahan langkah kakinya ketika mendengar igauan yang keluar dari bibir Zico. Meskipun tidak jelas tetapi Eren merasa yakin kalau kata Mommy yang baru saja ia dengar. Selama ini Eren sama sekali tidak peduli dengan identitas pria yang akan menikahinya. Justru wanita itu banyak mencari informasi tentang calon suaminya Elma.
__ADS_1
"Oh iya. Setelah dipikir-pikir lagi, tadi di acara pernikahan dia tidak didampingi oleh satu keluarga pun. Sebenarnya ke mana keluarga dia? Aku akan menanyakan masalah ini besok pagi saja. Sekarang dia sudah tidur karena kelelahan."
Eren segera menutupi tubuh Zico yang tidak memakai busana dengan selimut. Wanita itu segera pergi meninggalkan Zico agar bisa istirahat dengan tenang di sofa tersebut.