Putri Tangguh

Putri Tangguh
Setitik Cinta


__ADS_3

Eren membuka matanya dengan pipi merona malu. Pelukan Zico membuatnya kembali ingat dengan apa yang mereka lakukan tadi malam. Betapa manisnya perlakuan Zico terhadap Eren. Dia merasa dihargai sebagai seorang wanita.


"Kau sudah bangun sayang?" bisik Zico mesra di telinga Eren. Hingga membuat kedua mata Eren terpejam. Wanita itu kembali pura-pura tidur karena dia sangat malu dan tidak tahu harus bicara apa pagi ini.


Zico yang menyadari akan hal itu hanya memperketat pelukannya saja dan mencium leher Eren hingga beberapa detik. "Terima kasih atas malam indah yang kau berikan kepadaku. Jika sering-sering diberi hadiah seperti itu Aku janji tidak akan pernah mau keluar rumah," ucapnya dengan penuh keyakinan.


Eren melebarkan kedua matanya. "Lalu apa kau tidak bekerja?"


"Uang yang bekerja untukku bukan aku yang bekerja untuk uang," jawabnya dengan santai. Zico menarik tubuh Eren hingga posisi mereka saling berhadapan.


"Bagaimana kalau liburan ini kita lanjut saja dengan bulan madu?"


"Lama-kelamaan pikiranmu itu semakin mesum saja," protes Eren dengan mata menyipit.


"Itu karena aku sudah mencintaimu. Apakah kau tidak setuju. Apakah ada pekerjaan lain yang membuatmu tidak setuju untuk melanjutkan bulan madu ini?"


Eren menggeleng. "Tidak ada. Tetapi aku selalu saja ingat dengan keluarga Yola."

__ADS_1


"Mereka lagi. Ada apa dengan mereka? Aku akan melindungimu. Tidak ada satu orang pun yang akan berani untuk mencelakaimu selama aku masih hidup di dunia ini."


"Firasat ku mengatakan sesuatu akan segera terjadi. Bisa tidak kita pindah tempat saja? Aku merasa tidak nyaman tinggal di tempat ini."


"Kita pindah ke tempat lain bulan madunya?"


"Apakah kau mau jika kita pindah tempat?" Eren bertanya dengan hati-hati.


"Tapi ke mana? Apakah kau memiliki ide?"


Zico terdiam. Pria itu masih trauma dengan air. Terutama hal-hal yang berhubungan dengan kolam, pantai dan sebagainya. Tapi menolak permintaan Eren merupakan hal yang sangat memalukan.


"Kenapa kau diam saja? Apa ada yang salah dari perkataanku."


"Tidak ada. Aku akan meminta Luis untuk mempersiapkan semuanya. Ayo sekarang kita sarapan pagi. Kau pasti kehabisan banyak energi tadi malam dan sekarang butuh asupan gizi yang lebih banyak."


"Zico, jangan membahas masalah itu lagi. Aku malu."

__ADS_1


Zico tertawa geli mendengarnya. Pria itu mengecup pucuk kepala Eren sebelum mengusapnya dengan lembut. "Baiklah istriku sayang. Aku tidak akan meledekmu lagi. Sekarang ayo kita mandi. Eh maksudku aku saja duluan yang mandi nanti kalau kita mandi berdua tidak akan selesai-selesai."


Zico segera turun dari tempat tidur. Dia berjalan menuju ke arah kamar mandi sedangkan Eren masih bersembunyi di balik selimut yang tebal. Rasanya wanita itu malas sekali keluar dari selimut karena cuaca di luar sangat dingin. "Kenapa tiba-tiba aku kepikiran Kak Elma?" Eren duduk di atas tempat tidur. Wanita itu menatap ke depan sambil memikirkan Elma. Buliran air mata yang tiba-tiba menetes membuat Eren memegang pipinya sendiri. Dia terlihat kebingungan. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Ini air mata apa. Apa Kak Elma yang menangis?"


Suara ketukan pintu mengagetkan Eren.


"Bos!" teriak Lusi dari luar kamar.


Eren cepat-cepat turun dari tempat tidur dan berlari ke arah pintu. Wajah wanita itu terlihat sangat panik. Sambil berlari wanita itu segera menghapus air matanya agar Lusi tidak melihat ia sedang menangis.


"Lusi, Ada apa? Kau berteriak-teriak seperti ini hanya membuatku menjadi pusing!" protes Eren.


Lusi mematung di hadapan Eren sebelum akhirnya wanita itu memeluk Eren dengan erat dan mengusap punggungnya dengan lembut. "Anda harus kuat bos anda tidak boleh lemah."


"Lusi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau bersikap aneh seperti ini?" Eren cepat-cepat melepas pelukan Lusi. Dia butuh penjelasan. "Ada apa?"


"Big Boss ...."

__ADS_1


__ADS_2