
"Eren, kau yakin tidak mau ke rumah sakit? Lukamu cukup parah. Bukan hanya kaki saja. Bahkan tanganmu juga terluka. Jika keadaanmu seperti ini, kau tidak bisa memegang sesuatu dengan tangan dan berjalan dengan benar. Sebaiknya pulang ke rumah Daddy saja ya. Kakak akan merawatmu di rumah," bujuk Elma.
Eren menggeleng pelan. "Kak, aku ini sudah menikah. Keadaanku yang sekarang akan menjadi tanggung jawab suamiku. Dia juga seorang petarung. Dia pasti bisa memaklumi keadaanku. Suamiku itu pria yang sangat pengertian. Dia pasti akan memanggilkan dokter ke rumah untuk memeriksa keadaanku," dusta Eren sambil tersenyum agar Elma percaya.
"Baiklah. Tapi jika terjadi sesuatu segera hubungi kakak." Elma memeluk Eren dengan erat. Rasanya wanita itu merasa berat untuk berpisah dari Eren. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Eren karena memang kini adiknya itu sudah menikah.
"Rasanya aku ingin muntah memuji pria itu seperti ini. Tetapi mau bagaimana lagi? Aku harus memujinya di depan Kak Elma agar Kak Elma percaya dan tidak memaksaku untuk pulang ke rumah. Aku belum siap untuk melihat ekspresi wajah kecewa Kak Elma ketika dia tahu kalau aku adalah orang yang sudah menyebabkan pernikahannya gagal. Daddy pasti akan segera menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada Kak Elma," batin Eren.
"Aku pergi dulu." Elma segera turun dari mobil yang ditumpangi oleh Eren. Wanita itu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Setelah mobil yang ditumpangi Elma melaju pergi, Eren mengambil ponselnya untuk menghubungi orang kepercayaannya. Namun sialnya nomor wanita itu tidak bisa dihubungi. Lagi-lagi Eren mengumpat kesal karena ketika dibutuhkan pengawal setianya justru tidak ada.
"Bos, kita pulang ke rumah Tuan Zico? tanya supir yang ada di depan.
"Ya. Mau ke mana lagi? Hanya dia satu-satunya suami yang ku punya. Kecuali jika aku memiliki empat suami, kau baru berhak bertanya aku mau pulang ke rumah suami yang mana!" ketus Eren yang memang lagi sangat kesal.
Supir itu diam saja lalu melajukan mobilnya. Meskipun saat ini dia juga mengkhawatirkan keadaan Eren. Tetapi ia juga tidak memiliki kuasa untuk merayu dan membujuk Eren agar mau berangkat ke rumah sakit. Semua orang sudah tahu kalau Eren adalah wanita yang sangat keras kepala. Sangat susah untuk meluluhkan hatinya.
...***...
Zico sudah tiba di rumah. Pria itu juga terlihat kesal karena anak buahnya baru saja memberi informasi kalau ia gagal mencari keberadaan Eren. Padahal sebenarnya Zico sudah sangat ingin menghukum istrinya. Pria itu berjalan mondar-mandir di depan jendela sambil sesekali memandang keluar. Ternyata dia menunggu di ruangan tamu yang tidak jauh dari pintu utama.
Zico berharap istrinya segera pulang agar ia bisa segera menghukumnya. Tidak butuh waktu lama menunggu, mobil yang ditumpangi Eren telah tiba. Zico menatap sinis melalui jendela. Namun pria itu tidak langsung keluar rumah karena ia ingin menunggu istrinya sampai masuk ke dalam.
__ADS_1
Sedangkan di dalam mobil Eren hanya duduk saja dengan wajah kebingungan. Kakinya terluka parah hingga ia tidak bisa berjalan normal. Supir yang ada di depan melirik Eren melalui spion. Sopir itu tidak berani menyentuh Eren jika tanpa perintah.
Eren berulang kali memandang tangan dan kakinya dengan wajah sedih. Berulang kali juga wanita itu mengumpat dan meneriakkan nama Yola hingga membuat supir di depan hanya bisa elus dada saja.
"Sekarang aku harus bagaimana? Apa mungkin aku merangkak ke dalam rumah itu? Merangkak juga tidak bisa karena lututku sangat sakit. Apa mungkin aku harus ngesot ke dalam rumah itu?" tanya Eren kepada supir yang ada di depan. Sebenarnya Supir itu sendiri tidak tahu maksud Eren apa. Tetapi Eren berbicara seolah-olah supir itu tidak mau membantunya.
"Saya bisa membantu anda untuk masuk ke dalam. Tubuh anda sangat kurus. Tentu saja pasti ringan, Bos," ucap supir itu berharap Eren mau untuk diangkat ke dalam.
"Tidak! Tidak ada seorang pria pun yang boleh menyentuhku. Seharusnya ini tugas Lusi. Tetapi dia tidak pernah ada ketika aku butuhkan!" sulut Eren dengan wajah kesal.
Wanita itu mengambil ponselnya lalu menekan nomor Lusi lagi. Kali ini panggilan teleponnya tersambung hingga membuat Eren terlihat sedikit lega.
"Kau ke mana saja Lusi? Apa kau tidak tahu kalau aku membutuhkanmu? Sekarang cepat temui aku dan bawa aku masuk ke dalam rumah itu!"' perintah Eren.
Eren segera memutuskan panggilan telepon itu. Meskipun dia tahu kalau Lusi sedang dalam perjalanan menuju ke tempatnya tetapi tetap saja ia tidak tenang. Di tambah lagi kini ia harus melihat suaminya yang muncul dari balik pintu utama. Pria itu berdiri di sana sambil menatap sinis ke arah mobil yang ditumpangi Eren. Eren menurunkan kaca lalu melambaikan tangan dengan senyum ceria. Dia sengaja melakukan itu untuk menutupi keadaannya.
"Kenapa dia bisa ada di sini? Bukankah seharusnya dia pergi untuk melawan musuhnya? Jika seperti ini aku bisa ketahuan kalau sekarang dalam keadaan terluka," gumam Eren di dalam hati. "Halo Bos suami, apa kabar? Apa kau tidak jadi berangkat jalan-jalan?" tanya Eren dengan senyum yang ramah.
"Dia bahkan tidak merasa bersalah ketika sudah melakukan sebuah kesalahan. Benar-benar wanita yang menjengkelkan!" batin Zico tanpa mau menjawab sapaan Eren.
"Bos suami, aku merasa sangat nyaman duduk di mobil ini hingga tidak mau keluar. Jangan menungguku dan menyambutku seperti itu," ucap Eren lagi.
__ADS_1
Zico menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Eren. Tiba-tiba saja pria itu menuruni tangga lalu berjalan menuju ke arah mobil Eren. Eren yang panik segera menutup kaca mobilnya lagi.
Namun Zico tidak mau kalah. Pria itu segera berlari hingga akhirnya ia berhasil berada di samping mobil Eren sebelum Eren menutup kaca mobilnya dengan sempurna.
"TURUN!" ketus Zico dengan wajah marah. Bahkan semua orang yang ada di sana tidak berani memandang pria itu secara langsung. Mereka tahu kalau Zico sudah marah, maka habislah lawan bicaranya.
"Aku tidak bisa turun," ucap Eren sambil menunduk. Wanita itu masih berusaha untuk menyembunyikan luka pada tubuhnya.
"Tidak bisa turun Kau bilang? Apa kau lumpuh!" ketus Zico.
Pria itu membuka pintu mobil karena memang saat itu pintu mobil sudah tidak dalam terkunci lagi. Supir yang ada di depan hanya bersikap pura-pura tidak tahu karena ia tidak mau ikut campur dalam masalah yang terjadi antara Zico dan Eren. Dia sendiri tidak akan menang melawan Zico dan tidak akan mendapat penghargaan juga ketika membela Eren.
Zico menarik tangan Eren secara paksa hingga membuat wanita itu hampir saja terjatuh. Zico segera berlutut dan menangkap Eren. Bersamaan dengan itu, dia tergeletak di jalanan dalam posisi Eren di atas tubuhnya. Zico tidak memiliki persiapan hingga tubuhnya harus terjatuh ketika ingin menahan tubuh Eren.
"Apa yang terjadi?" tanya Zico. Pria itu syok berat ketika melihat tubuh istrinya dipenuhi luka dan darah.
Eren hanya diam saja. Tangannya bertumpu pada dada bidang suaminya. Wanita itu merasa malu sekaligus takut. "Aku tidak bisa jalan. Bukankah tadi sudah kubilang. Kenapa kau tidak percaya?" ucap Eren dengan nada yang lembut hingga akhirnya membuat Zico luluh.
"Menyingkir lah dari hadapanku. Jika seperti ini posisinya, bagaimana caranya agar aku bisa berdiri?"
"Akan aku lakukan jika aku bisa. Sayangnya kakiku sangat sakit," ucap Eren dengan wajah manja.
__ADS_1
Zico memegang pinggang istrinya lalu meletakkan wanita itu di sampingnya. Ia melirik sekali lagi kaki Eren yang terluka lebar. Pria itu tidak bisa banyak protes karena dia juga tahu kalau istrinya adalah seorang ketua mafia. Tanpa mau mengomel-ngomel lagi, Zico segera menggendong Eren dan membawanya masuk ke dalam.
"Sebenarnya aku tidak suka di sentuh pria. Tapi berhubung kau suamiku, aku tidak menolak," ujar Eren sambil menunduk. Zico hanya diam saja sembari melangkah secara perlahan. Sebenarnya bisa saja pria itu memprotes ucapan Eren. Tetapi kini rasa marahnya sudah terganti dengan rasa kasihan.