Putri Tangguh

Putri Tangguh
Kekuatan Suami


__ADS_3

Eren tidak sadarkan diri setelah mendapat kabar kalau ayah tercinta kini sudah tiada. Zico terlihat sangat khawatir. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah. Zico sempat menghubungi Elma dan meminta Elma untuk tidak memakamkan Big Boss Turner sebelum mereka tiba. Dan Elma menyetujuinya.


"Eren, bangunlah. Jangan membuatku khawatir seperti ini." Zico mengusap tangan Eren berharap wanita itu bangun. Namun, usahanya terlihat sia-sia. Justru kini bibir Eren terlihat semakin pucat. Suhu tubuhnya juga mulai tinggi.


"Luis, bagaimana ini?" keluh Zico lagi. Mereka bahkan belum sempat memanggil dokter karena awalnya Zico dan yang lainnya berpikir kalau Eren tidak akan pingsan sampai selama ini.


"Bos, tenanglah," ucap Luis.


"Tenang kah bilang?" teriak Zico kesal. "Dia tidak bangun sejak pingsan beberapa jam yang lalu. Sekarang kau bilang tenang?"


"Tuan, Luis benar. Anda harus tenang. Kita ada di udara. Apa lagi yang bisa kita perbuat selain menunggu Bos Eren sadar dengan sendirinya?" Lusi membela Luis. Entah kenapa wanita itu merasa kasihan setiap kali melihat Zico memarahi Luis.

__ADS_1


Zico berusaha mengontrol emosinya. Pria itu duduk lagi lalu mengusap wajah Eren. "Apa kau kelelahan hingga tidak bangun-bangun? Kenapa semua harus bersamaan seperti ini?" protesnya di dalam hati.


Kini justru Zico yang merasa bersalah. Dia berpikir kalau Eren pingsan bukan karena mendengar kabar kematian Big Boss Turner. Tetapi karena telah melewati malam pertama bersama dengannya.


"Bos Eren." Ucapan Lusi membuat Luis dan Zico tersentak kaget. Mereka kembali memandang ke arah Eren. Wanita itu mulai menggerakkan kelopak matanya. Tangannya juga mulai bergerak.


"Eren, kau sudah bangun?" tanya Zico cepat. Pria itu segera mengambil segelas air dan memberikannya kepada Eren.


"Eren, apa yang sekarang kau rasakan?" Zico menatap Eren dengan serius.


Eren membalas tatapan Zico. Kedua mata wanita itu berkaca-kaca. Kali ini bukan karena Elma juga sedang menangis. Tetapi wanita itu sendiri yang merasa sedih hingga menangis.

__ADS_1


"Daddy...," lirih Eren hingga membuat Zico tersentuh. Pria itu menarik tubuh Eren dan memeluknya dengan erat.


"Kita akan segera sampai. Aku tahu apa yang sekarang kau rasakan," ucap Zico.


Suasana kembali hening ketika Eren menangis tersedu-sedu. Tidak ada yang berani untuk meminta wanita itu agar berhenti menangis. Semua hanya terdiam sambil menunggu Eren sampai benar-benar puas melampiaskan kesedihannya.


"Kenapa Daddy tidak menungguku? Aku belum sempat mengucapkan maaf kepada Daddy. Aku belum sempat mengatakan padanya kalau aku sangat menyayanginya," lirih Eren lagi


"Tanpa kau katakan, aku yakin Daddy sudah tahu kalau kau sangat menyayanginya. Eren, tenanglah." Zico memegang kedua pipi Eren dan menatapnya. "Kau tidak akan pernah sendiri. Aku akan selalu ada di sisimu. Aku akan selalu menemanimu. Aku tahu, posisiku tidak akan pernah bisa sebanding dengan Daddy Turner. Tetapi aku berani jamin kalau aku bisa menyayangimu seperti Daddy menyayangimu."


Eren mengangguk lalu memeluk Zico. Kini dia hanya memiliki Zico. Jantungnya terasa di rema*s ketika mendapat kabar kalau ayah kandungnya telah tiada. Tetapi perkataan Zico barusan, membuat sedikit ketenangan di dalam hati. Eren merasa jauh lebih lega karena sudah sudah memiliki Zico di sisinya.

__ADS_1


"Daddy, kenapa Daddy pergi di saat aku baru saja ingin memulai kisahku?"


__ADS_2