
Zico melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus kesunyian malam. Pria itu terus saja memikirkan apa yang dikatakan Roger tadi. Dia sama sekali tidak menyangka kalau kedatangan Roger ke kota itu hanya untuk membawa pergi istrinya. Wanita yang belum lama ia nikahi.
Memang Zico belum merasakan getaran cinta di dalam hatinya. Tetapi tetap saja pria itu tidak rela jika wanita yang sudah ia nikahi diambil oleh orang lain. Apa lagi sampai diambil oleh musuhnya sendiri.
Eren yang sejak tadi duduk di samping Zico hanya membisu sambil melihat pemandangan gelap yang ada di luar sana. Wanita itu duduk sambil bersandar. Ia tidak tertarik untuk mengeluarkan satu kata pun. Eren membiarkan suasana di dalam mobil itu dalam keadaan hening.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi hingga Roger sangat menginginkan Eren. Bahkan berani sekali pria itu berkata kalau dia adalah pria pertama bagi Eren. Apa mereka sudah melakukannya? Tapi apa mungkin Eren semurah itu. Dia wanita yang dibekali dengan kemampuan bela diri. Bagaimana mungkin dia membiarkan pria asing menyentuhnya bahkan menguasai seluruh tubuhnya. Tapi bagaimana kalau hal itu benar-benar terjadi? Bagaimana kalau Eren memang bersedia mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk membebaskanku waktu itu? Lalu jika memang seperti ini kenyataannya. Apa yang bisa aku perbuat? Apa aku akan mengusir Eren Karena dia sudah bekas dari pria lain. Atau aku akan mempertahankannya dan menerima kekurangannya. Kepalaku benar-benar pusing memikirkannya. Kenapa masalah terus saja datang di saat masalah lain baru saja selesai," gumam Zico dengan wajah frustasi. Pria itu terus saja bergulat dengan pikirannya sendiri. Sampai-sampai nyetir mobil juga sudah tidak konsentrasi lagi.
Eren mengernyitkan dahinya ketika dia tahu kalau Zico melajukan mobilnya tidak lagi menuju ke arah rumah mereka. Wanita itu segera memandang ke arah Zico. Tadinya dia tidak mau bicara tetapi karena sudah seperti ini, mau tidak mau dia harus protes.
"Kita mau ke mana? Aku ingin segera pulang dan istirahat di rumah." Eren berusaha untuk bicara dengan nada yang lembut.
"Apa kau tahu kalau hari ini Roger akan datang, lalu kau menunggunya di tempat itu?" tuduh Zico asal saja. "Eren, sebenarnya kau ini wanita yang seperti apa? Bukankah kau sendiri tahu aku dan Roger bermusuhan. Bahkan sampai detik ini aku sangat ingin menghabisinya. Kenapa bisa-bisanya kau berpikir untuk menjalin hubungan dengannya. Apa tidak ada pria lain di dunia ini selain Roger."
Eren langsung tersinggung mendengar perkataan Zico. "Berani sekali kau menuduhku seperti itu. Aku sama sekali tidak tahu kalau pria itu ada di sana. Aku ke tempat itu karena ingin menenangkan diri. Perkataanmu di rumah tadi membuatku sakit hati. Biasanya ketika sakit hati aku akan menghancurkan semua barang yang ada di hadapanku dan memukul semua orang yang berdiri di depanku. Tetapi karena kali ini aku sadar diri kalau aku hanya menumpang di rumahmu jadi aku tidak berani untuk melakukannya. Aku putuskan untuk pergi ke tempat yang sunyi agar tidak ada korban jiwa di sana."
"Lalu bagaimana bisa Roger mengetahui keberadaanmu? Sedangkan aku saja tidak tahu kalau kau ada di sana jika saja Luis tidak memberitahuku."
"Kenapa kau menanyakan hal itu padaku? Tanyakan saja langsung kepada Roger tadi!" ketus Eren semakin kesal.
"Dia mencintaimu! Apa kau tahu itu?" Nada bicara Zico semakin tinggi.
"Memang apa pedulinya denganku? Mau dia cinta atau benci padaku, aku sama sekali tidak memiliki urusan dengannya. Aku justru sempat berpikir untuk tidak lagi bertemu dengannya."
"Kenapa? Apa karena kau malu?" Zico memandang Eren sejenak sebelum fokus dengan jalanan di depan.
"Malu?" Eren mengatur napasnya agar kembali tenang karena dia tahu jika bicara sambil emosi mereka berdua pasti akan celaka. "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Katakan saja! Tidak usah bertele-tele seperti ini hingga membuatku semakin bingung."
"Apa yang sudah kau lakukan malam itu bersama dengan Roger? Kenapa kau terlihat pucat saat masuk ke dalam pesawat. Bahkan kau sempat bilang kalau kau ingin menghilangkan aroma tubuh Roger dari pakaian yang melekat di tubuhmu. Aku bisa melihat jelas kalau saat itu kau memakai pakaian yang seksi. Penampilanmu ketika kembali juga terlihat sangat acak-acakan. Saat itu aku sengaja tidak mempermasalahkan hal ini karena aku menghargai usahamu untuk menolongku. Tetapi pikiranku tidak tenang sejak kejadian malam itu. Sekarang cepat katakan padaku apa yang terjadi. Katakan saja semuanya tidak perlu ada yang ditutup-tutupi lagi."
Eren langsung membisu padahal sebelumnya wanita itu lebih banyak bicara daripada Zico. Dia kembali mengatur posisi duduknya lalu memandang ke depan dengan tatapan tidak terbaca. Zico yang semakin kesal karena Eren tidak kunjung menjelaskan segera menepikan mobilnya di tepian jalan yang sunyi. Pria itu memiringkan tubuhnya lalu menatap Eren dengan serius.
__ADS_1
"Kenapa kau diam saja? Apa kau menutupi sesuatu dariku?"
"Setelah aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, apa kau masih mau menjadi suamiku?" tanya Eren tanpa memandang.
Debaran jantung Zico semakin tidak karuan mendengar pertanyaan Eren. Namun pria itu berusaha untuk tenang agar ia bisa mengetahui semuanya.
"Keputusan akhirnya tergantung dari ceritamu itu."
"Aku dan Roger ...." Eren lagi-lagi menahan kalimatnya hingga membuat Zico semakin geram.
"Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan dengan pria itu?" teriak Zico dengan suara yang begitu lantang hingga memenuhi seisi mobil.
"Dia memelukku. Aku tidak suka dipeluk oleh pria seperti itu. Aku membencinya!" ketus Eren. "Hanya Daddy yang boleh memelukku. Tidak boleh ada pria lain yang boleh merasakan kehangatan tubuhku ini. Aku sangat sangat membencinya. Jika bukan demi menyelamatkanmu, aku tidak rela menyerahkan tubuh ini untuk dipeluk olehnya."
"Hanya dipeluk saja?" tanya Zico lagi. Sepertinya pria itu belum percaya sepenuhnya dengan penjelasan Eren.
"Sebenarnya apa yang kau harapkan? Apa kau berharap kami berciuman atau tidur bersama? Aku lebih memilih untuk tidak menyelamatkanmu daripada aku harus menyerahkan satu-satunya hal yang berharga dari tubuh ku ini."
...***...
Lusi dan Luis tidak bisa masuk ke dalam rumah karena mereka belum melihat mobil Zico tiba di sana. Mereka merasa sangat khawatir Kedua pengawalan setia itu berjalan mondar-mandir sambil sesekali berusaha menghubungi nomor Zico maupun Eren. Tetapi sayangnya di antara mereka berdua tidak ada yang mau mengangkat panggilan telepon mereka.
"Aku sudah pastikan kalau Roger telah meninggalkan kota ini. Aku melihat sendiri pesawat yang mereka tumpangi terbang Aku yakin Bos Zico dan Nona Eren tidak kembali, bukan karena ada masalah di tengah jalan. Mungkin saja mereka singgah ke suatu tempat," ucap Luis. Pria itu berharap agar Lusi tidak terlalu khawatir.
"Oh iya, kau benar juga. Aku akan menelepon orang yang ada di rumah Big Boss Turner. Siapa tahu Bos Eren mengajak Tuan Zico untuk berkunjung ke rumah ayahnya karena merindukan mereka. Bukankah setelah pulang dari Jepang Bos Eren belum ada ke sana. Mungkin saja tadi saat di tengah jalan Nona Elma menghubungi Bos Eren lalu memintanya untuk pulang."
Lusi segera mengambil ponselnya untuk menghubungi orang yang ada di kediaman Big Boss Turner. Namun belum sempat wanita itu menekan nomor telepon seseorang yang ingin dia hubungi, tiba-tiba dari arah pagar mereka melihat sorot lampu mobil.
"Itu mereka," ucap Luis yang pada akhirnya bisa kembali bernapas lega.
Lusi kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Wanita itu juga sudah tidak sabar menyambut kepulangan Eren.
__ADS_1
Zico memberhentikan mobilnya di depan rumah. Pria itu segera turun ketika Luis membukakan pintu. Zico berjalan dengan begitu cepat untuk masuk ke dalam. Bahkan pria itu tidak mau menunggu istrinya yang masih berada di dalam mobil.
Lusi membukakan pintu lalu membantu Eren untuk turun dari sana. Wanita itu kembali memeriksa keadaan Eren untuk memastikan wanita itu baik-baik saja. "Bos, apa terjadi sesuatu? Kenapa anda lama sekali di jalan?" Lusi ingin sekali mendengar penjelasan dari Eren agar tidak penasaran lagi.
"Dia benar-benar pria gila," ucap Eren dengan wajah lelah. Luis menahan langkah kakinya mendengar jawaban Eren.
"Siapa yang gila Bos?" tanya Lusi bingung.
"Sudahlah. Aku tidak mau membahas masalah ini lagi. Aku ingin masuk ke kamar. Aku lelah. Aku butuh istirahat," ucap wanita itu. Dia juga masuk ke dalam rumah meninggalkan Lusi yang masih berdiri di samping mobil.
Luis memandang ke arah Lusi sejenak sebelum masuk juga ke dalam rumah. Pria itu ingin memastikan kalau Zico tidak lagi membutuhkan bantuannya baru ia bisa kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Zico menjatuhkan tubuhnya ke sofa yang ada di dalam kamar. Pria itu menutup wajahnya dengan tangan. Dia terlihat sangat kelelahan malam itu. Tidak lama setelahnya, Eren juga masuk ke dalam kamar. Mereka berdua sama-sama masuk ke dalam kamar yang ada di lantai atas. Tadinya Eren berpikir kalau Zico akan masuk ke kamar bawah. Jadi wanita itu memutuskan untuk masuk ke kamar atas. Tetapi setelah melihat Zico juga ada di dalam kamar atas, wanita itu ingin sekali keluar.
"Mau ke mana?" tanya Zico ketika melihat Eren berputar.
"Aku mau tidur di kamar tamu," ketus Eren.
Zico segera beranjak dari sofa. Pria itu menghampiri Eren dan segera menggenggam tangannya. Dengan wajah menahan marah Zico kembali menutup pintu dan mengunci kamar tersebut.
"Apa yang mau kau lakukan?
Zico menatap Eren dengan begitu tajam. "Kau tidak pernah lupa kan kalau kita ini sudah menikah? Kita ini suami istri."
"Bukankah pernikahan itu hanya formalitas saja? Kita tidak saling mencintai. Aku menikah denganmu karena Daddy dan kau menikahiku karena takut dengan Daddy, bukan?"
"Aku tidak mau pernikahan ini hanya sekedar formalitas saja!"
Eren melebarkan matanya mendengar perkataan Zico. "Apa maksudmu? Lalu apa yang kau inginkan?
"Kau harus melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri. Layani aku malam ini!"
__ADS_1