
Big Boss Turner memberi kesempatan kepada Rivan dan Elma untuk berduaan. Sedangkan pria itu sendiri memilih untuk bertemu dengan Eren dan berbicara empat mata dengan putrinya ketika keluarga Johnson sudah pulang. Jonnas diberi tugas untuk mengurus masalah lain. Kali ini memang tidak ada yang akan mengganggu obrolan mereka berdua.
Di dalam ruangan luas serba gelap itu Eren terlihat tidak nyaman ketika Daddynya memandang dengan begitu serius. Tadinya Eren ingin marah-marah dan berontak karena geng mafianya sudah ditarik. Tapi entah kenapa ketika berhadapan langsung dengan sang Daddy ia tidak berani berkata apapun selain menunduk dan pasrah.
"Kau putriku. Bayi mungil yang pernah lahir dari rahim istriku. Bayi mungil yang selalu aku banggakan bahkan sampai detik ini. Aku menjadi pria paling bahagia yang ada di dunia ini ketika kau dan kakakmu lahir. Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh mamimu. Dia merasa sangat bahagia karena sudah berhasil mengandung dan melahirkan kalian berdua." Big Boss Turner bicara lebih dulu.
"Tidak pernah sekalipun aku membanding-bandingkan kalian berdua. Aku mendidik kalian sesuai dengan porsi kalian sendiri. Tetapi akhir-akhir ini aku merasa kalau kau sedang berpikir kalau Daddy ini lebih sayang dengan Elma sedangkan Elma berpikir kalau Daddy lebih menyayangimu. Kalian tidak perlu tahu dari mana Daddy bisa mengetahui semua itu. Karena memang sejak kalian lahir, apapun yang terjadi pada hidup kalian sudah ada di dalam genggaman tangan Daddy. Kalian tidak bisa menyembunyikan rahasia sedikitpun dari Daddy. Termasuk rencanamu dan Lusi yang hari ini Ingin mencuri berlian berharga milik Daddy."
Eren melebarkan kedua matanya karena pada akhirnya rencana pencurian berlian itu akhirnya ketahuan. Dia tidak bisa menyangkal lagi. "Maafkan aku, Daddy. Aku marah sama Daddy hingga memutuskan untuk mencuri berlian itu. Aku akan gunakan berlian itu untuk bersenang-senang dan aku anggap berlian itu sebagai permintaan maaf dari Daddy karena sudah menarik semua geng mafia yang aku pimpin dengan susah payah selama ini." Meskipun sudah jelas-jelas salah. Tetapi Eren tetap berusaha membela diri.
"Daddy tidak marah. Bahkan jika kau mengambil seluruh harta yang Daddy punya juga Daddy tidak akan marah. Semua harta ini milikmu dan juga kakakmu," jawab Big Boss Turner. Tidak sedikitpun ada rasa marah di dalam hatinya. Terlebih lagi ketika dia melihat keadaan Eren yang begitu menyedihkan.
"Aku ingin dengar langsung alasan dari mulut Daddy, kenapa Daddy tega mengambil geng mafiaku dan membatasi wilayah kekuasaanku. Kesalahanku hanya sepele. Aku melakukan semua itu juga karena aku berniat untuk melindungi Kak Elma."
"Kau sudah menikah. Jadi fokuslah dengan suamimu. Jangan lagi terlalu sering berkeliaran di luar. Tanpa geng mafia yang kau pimpin, kau tidak bisa berbuat sesuka hatimu lagi." Big Boss Turner mengalihkan pandangannya. Lagi-lagi dadanya mulai terasa sakit.
"Aku menyukai kebebasan. Meskipun aku sudah menikah aku tetap ingin bebas. Tolong jangan paksa aku untuk menjadi seorang istri yang kesehariannya hanya ada di dalam rumah." Eren menolak keras niat baik ayahnya. Baginya itu bukan solusi, melainkan sebuah hukuman.
"Sebagai seorang istri kau juga bisa keluar rumah. Bagaimana dengan mamimu dulu. Dia adalah wanita yang lembut. Tidak memiliki geng mafia apalagi kemampuan untuk bela diri. Tetapi dia bisa berbelanja di luar rumah dan bersenang-senang di luar sana."
"Daddy ingin aku menjadi seperti mami?Bukankah sudah Kak ada Kak Elma yang mewarisi sifat Mami? Kenapa aku harus ikut-ikutan menjadi seperti mami." Kalau saja sekarang Eren bisa berjalan, mungkin wanita itu sudah jalan sana jalan sini. Tidak hanya duduk manis seperti sekarang.
"Eren, Kenapa kau tidak mengerti juga dengan maksud Daddy. Berpikirlah lebih dewasa lagi. Kau sudah menikah. Binala rumah tanggamu menjadi rumah tangga yang membahagiakan. Kau dan Zico harus memiliki anak agar kalian bisa mendapatkan keturunan. Jika kau memiliki geng mafia dan Zico memiliki geng mafia, kalian berdua hanya akan sama-sama fokus dengan masalah di dunia mafia kalian. Tidak Lagi fokus dengan urusan rumah tangga."
"Tapi tetap saja tidak adil karena geng mafiaku yang harus berhenti." Eren masih belum ikhlas jika sekarang dia tidak lagi menjadi seorang bos di dalam sebuah geng mafia.
"Kau bener-bener ingin memiliki geng mafia? Kau yakin itu akan menguntungkanmu nanti?" tantang Big Boss Turner.
"Aku tidak semangat untuk hidup jika aku tidak memiliki game mafia lagi. Jika Daddy tetap menarik geng mafiaku, aku akan membentuk geng mafia yang baru dengan kemampuan yang aku miliki sendiri."
__ADS_1
Big Boss Turner terdiam. Dia tahu bagaimana keras kepalanya Eren. Pria itu menghela napas lalu mengatur dirinya sendiri agar tidak terpancing emosi. "Baiklah. Daddy akan mengembalikan geng mafiamu dan mengembalikan wilayah kekuasaanmu."
Wajah Eren langsung berseri seketika. Memang itu yang ingin dia dengar sejak awal. "Daddy sudah memaafkanku?"
"Kapan Daddy bisa marah denganmu. Tapi ada satu syarat yang ingin Daddy berikan kepadamu."
"Apa itu?" Eren menahan senyumnya.
"Apapun yang terjadi di dalam pernikahanmu nanti, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan suamimu."
Eren diam sejenak. Kali ini ia tahu kalau Zico adalah pria yang sangat-sangat disayangi oleh ayah kandungnya sendiri. Sampai-sampai pria itu selalu dipikirkan dan selalu diutamakan perasaannya.
"Aku sama sekali tidak tahu sebenarnya utang budi apa yang sudah terjadi antara Daddy dan Zico. Tetapi aku akan berusaha untuk menepati janjiku."
***
Elma membuat dua kopi lalu meletakkannya di atas meja. Wanita itu duduk di kursi yang berseberangan dengan Rivan. Mereka berdua ada di taman samping. Langit yang indah menemani mereka berdua.
"Benar kata Eren. Kau ini pria yang pandai merayu," sahut Elma tanpa memandang.
Sebenarnya jika dilihat lagi dari ekspresi wajah Elma, sepertinya wanita itu tertarik dengan Rivan. Hanya saja dia tidak mau membuat Eren kecewa. Semua sekarang ia serahkan kepada Eren saja. Jika memang mereka berjodoh, Elma dan Rivan pasti menikah.
"Hanya Kau satu-satunya wanita yang pernah aku rayu. Kenapa kau masih tidak percaya kalau aku ini benar-benar jatuh cinta padamu dan ingin menikahimu. Hanya Kau wanita yang ada di hatiku. Bukankah tadi sudah kujelaskan padamu kalau wanita hamil itu hanya ingin merusak nama baikku saja. Aku sudah menangkapnya dan menjebloskannya ke dalam penjara."
"Kau tidak perlu menjelaskan masalah ini dengan panjang lebar padaku karena saat ini syarat utama agar aku mau menikah denganmu adalah restu dari Eren. Jadi mulai sekarang berpikirlah bagaimana caranya agar Eren merestui kita."
"Ya aku tahu. Tetapi aku tidak akan tahu apa yang harus aku lakukan. Bukankah Eren adik kandungmu? Kau yang lebih tahu bagaimana cara merayunya." Rivan menyandarkan tubuhnya dan mengatur posisi santai.
"Meskipun kami saudara kembar tetapi sifat Eren itu sangat sulit ditebak. Aku akan membantumu nanti. Tapi aku tidak janji."
__ADS_1
"Jika seperti ini aku akan semakin semangat untuk mengejarmu." Rivan tersenyum bahagia memandang wajah cantik Elma. Pria itu mengambil kopi lalu menyeruputnya perlahan. Tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah ketika melihat Eren muncul di sana.
Elma yang menyadari perubahan sikap Rivan segera memutar tubuhnya ke belakang. Elma tersenyum hangat melihat Eren muncul bersama dengan Lusi.
Elma beranjak dari kursi dan menyambut kedatangan Eren. "Eren, Kenapa kau ke sini? Di sini sangat dingin."
"Kak, aku mau pamit. Aku harus pulang."
"Pulang? Kenapa harus pulang? Bukankah kau bilang sendiri kalau Zico tidak ada di rumah. Sebaiknya menginaplah di sini untuk beberapa hari. Kakak akan mengobati lukamu. Kakak akan merawatmu sampai sembuh. Nanti ketika kau sudah bisa berjalan lagi kakak baru bisa mengizinkanmu pulang ke rumah suamimu." Elma memperhatikan cedera di kaki Eren. Wanita itu menjadi sedih sekali.
"Tidak Kak. Aku tidak mau. Oh ya tadi Daddy bilang kalau Daddy sangat menyayangi kita berdua. Apa selama ini Kakak memiliki pemikiran kalau Daddy lebih sayang padaku?" tebak Eren ingin tahu.
Elma tertegun mendengarnya. Namun wanita itu tidak bisa menutupinya lagi. Dia mengangguk pelan sambil memegang kedua tangan Eren dengan erat. "Maafkan aku. Tidak seharusnya aku berpikir seperti itu."
"Aku juga ingin minta maaf sama Kak Elma karena selama ini aku memiliki pemikiran yang sama seperti Kak Elma. Aku berpikir kalau Daddy sangat menyayangi Kak Elma karena Kak Elma sangat baik budi daripada aku yang tidak bisa diam."
Elma menaikkan alisnya. "Kau ini aneh sekali. Bukankah kau yang mewarisi sifat Daddy, kenapa kau harus ragu dengan kasih sayang Daddy." Elma mengusap rambut Eren dengan lembut.
"Karena Daddy sering memarahiku tapi selalu memujimu."
Elma tertawa mendengarnya. "Sekarang kita tidak perlu memiliki pemikiran seperti itu karena Daddy sayang kita berdua. Daddy sudah sangat tua. Jadi wajar saja kalau apa yang dia pikirkan tidak sama dengan apa yang kita pikirkan. Jika kau benar-benar ingin pulang cepat sana pulang karena pulang karena sekarang sudah sangat malam. Hubungi Kakak jika kau sudah tiba di rumah."
"Baiklah." Eren memandang ke arah Rivan yang sejak tadi memandang ke arahnya. "Sebaiknya anda pulang juga Tuan karena Kakakku butuh istirahat."
"Aku akan pulang setelah kopi ini habis," tunjuk Rivan ke arah kopi buatan Elma.
Eren memandang ke arah Lusi di belakangnya. "Ayo kita pulang. Aku juga sama ingin istirahat."
Lusi menunduk hormat di depan Elma. "Permisi, Nona." Elma hanya menjawab dengan anggukan saja. Wanita itu tetap berdiri di sana sambil melihat kepergian Eren dan juga Lusi.
__ADS_1
"Kau benar Eren. Sebenarnya Daddy sangat menyayangi kita berdua. Aku bahagia mendengarnya," gumam Elma di dalam hati. Wanita itu merasa menyesal karena selama ini sudah berprasangka buruk terhadap Ayah kandungnya sendiri.