
Hari itu juga Eren diperbolehkan pulang ke rumah oleh dokter. Elma dan Rivan yang mengantar Eren. Sepanjang perjalanan, Elma mulai merasa curiga. Adik kembarnya itu tidak terlihat saling berkomunikasi dengan sang suami. Di tambah lagi sepertinya Eren terlihat tidak bersemangat seperti biasanya. Dia tahu kalau Eren sedang menyembunyikan sesuatu.
Rivan yang kini mengemudikan mobil juga sebenarnya curiga. Namun dia tahu kalau adik iparnya rada sensitif. Jadi dia tidak berani menyinggungnya untuk menghindari masalah.
Elma memutar tubuhnya agar bisa melihat Eren dengan jelas. Kini adiknya itu duduk di belakang bersama dengan Lusi. "Eren, apa kau dan Zico tidak ada niat untuk pergi bulan madu?"
"Bulan madu?" tanya Eren bingung. Wanita itu terlihat seperti orang bodoh.
Elma mengangguk. "Aku dan Rivan akan liburan dalam waktu dekat ini."
Eren mengangguk ke arah Rivan sejenak sebelum mengukir senyuman palsu. "Mungkin nanti. Kakak kan tahu sendiri kalau hidup kamu ini tidak bisa tenang. Dimana-mana pasti bertemu musuh. Jadi, untuk menentukan rencana liburan harus dipikirkan dengan begitu matang. Jangan sampai rencana liburan berakhir dengan pertarungan." Nada bicara Eren melemah. Wanita lebih banyak melamun sekarang.
Elma menghela napas. Dia semakin yakin kalau ada yang ditutupi Eren saat ini. "Kau yakin tidak mau cerita sama kakak?"
"Apa yang harus aku ceritakan?" Eren berusaha memasang wajah setenang mungkin agar Elma tidak curiga.
Elma kembali diam. Dia memandang ke depan. Sedangkan Rivan tahu kalau kini istrinya itu terus saja memikirkan Eren. Pria itu menambah laju mobilnya agar mereka segera tiba.
Tidak butuh waktu lama, Eren dan yang lainnya telah tiba di rumah. Bersamaan dengan itu, Zico juga baru saja tiba. Zico berdiri di samping mobil melihat ke arah Eren. Pria itu mengabaikan Eren begitu saja sebelum melangkah menuju ke rumah.
"Tunggu!" teriak Elma.
Eren segera mendekati Elma. Wanita itu merangkul lengan kakaknya. "Kak, apa yang ingin kakak lakukan? Biarkan saja dia masuk ke dalam," bujuk Eren agar Elma tidak menahan Zico seperti itu.
Zico berhenti di tempatnya. Pria itu memandang ke arah Eren sejenak sebelum memandang ke Elma lagi. "Apa kau yang bernama Elma?"
"Ya. Aku Elma Turner. Kakak iparmu!" sahut Elma dengan tegas.
Eren memijat kepalanya. Wanita itu takut terjadi perdebatan di sana. Dia tahu bagaimana sifat Elma. Meskipun wanita itu tidak dibekali ilmu bela diri. Namun, jika dia sudah berbicara. Lawan bicaranya akan dengan mudah ia buat terdiam.
__ADS_1
"Ada yang bisa aku bantu?" Zico melirik jam di pergelangan tangannya yang menandakan kalau dia tidak memiliki waktu banyak untuk bicara dengan Elma.
"Ada!" jawab Elma cepat. "Aku ingin kau membantuku untuk menjaga Eren. Buat dia kembali ceria seperti biasa. Dia wanita kebanggaan di rumah kami. Senyumnya adalah semangat bagi kami semua. Ketika menikah dengan anda, dia tidak lagi bisa tersenyum. Bahkan aku hampir tidak mengenalinya karena kini dia sangat tidak terurus!"
Zico mendengus kesal sebelum tersenyum tipis. "Baiklah. Nanti akan aku berikan sejumlah uang untuk dia perawatan!" jawab Zico dengan santainya.
Elma masih berusaha sabar. Berbeda dengan Eren yang mulai tersinggung dan sakit hati mendengarnya.
"Jika anda tidak bisa menjaga adik saya, sebaiknya pulangkan dia ke rumah. Temui Daddy dan katakan kalau pernikahan ini berakhir sampai di sini!"
Kali ini Zico tidak terima dengan apa yang dikatakan Elma. Pria itu tidak akan mungkin melepas Eren. Apa lagi sekarang dia tahu kalau ada Roger yang sudah tergila-gila pada Eren.
"Tidak! Kami sudah menikah. Masalah pernikahan kami biar kami saja yang mengurusnya. Anda tidak perlu ikut campur." Zico melempar tatapan tajam ke arah Eren. Kini pria itu berpikir kalau Eren sudah menceritakan keburukannya di depan Elma hingga akhirnya Elma bersikap seperti ini padanya.
"Ya, kau benar. Tidak seharusnya aku ikut campur." Elma memandang ke arah Eren dengan mata berkaca-kaca. "Sejak dulu Eren selalu hidup di luar. Dia merintis gangster yang diberikan Daddy kepadanya. Eren menjadikan Gangster itu menjadi geng yang kuat dan tidak mudah dikalahkan. Sampai-sampai aku tidak sadar kalau sekarang dia sudah dewasa dan sudah menikah dengan seseorang. Eren kekurangan kasih sayang. Jika dia mendapatkan suami yang tidak peka, apa bedanya dia menikah dengan tidak menikah?"
Zico seperti kehabisan kata-kata. Pria itu hanya diam lalu memandang ke arah Eren dengan tatapan penuh arti. "Lalu, apa yang anda inginkan? Jika anda membahas soal perpisahan, aku tidak akan mau menceraikan Eren."
"Kalau begitu, cintai dia." Elma menatap tajam ke arah Zico. Sebagai seorang kakak dia harus bisa menegakkan keadilan untuk adiknya. "Jika dalam waktu dua minggu kalian belum bisa untuk saling mencintai, maka aku akan meminta Daddy untuk mengakhiri pernikahan ini!"
"Dua minggu?" tanya Zico dengan seulas senyum tipis. "Anda bercanda? Mana ada orang yang bisa jauh cinta dalam waktu dua minggu."
"Ada," sahut Rivan memberanikan diri. Sebenarnya dia ingim diam saja sejak tadi. Namun, lama kelamaan melihat sifat Rico dia geram juga. "Aku bahkan jatuh cinta kepada Elma saat pertama kali bertemu dengannya. Di malam itu juga aku mantap untuk menjadikannya istri!"
"Kak, tolong jangan seperti ini," bisik Eren lagi.
"Sebagai wanita kau juga harus memiliki harga diri, Eren. Kakak tidak menyangka kalau kau berubah lemah setelah menikah. Masih banyak di luar sana pria yang mau mencintaimu dan menyayangimu sepenuh hati. Lalu, untuk apa kau bertahan dengan pria yang tidak menghargai mu?"
"Baik," sahut Zico tanpa banyak alasan lagi. "Jika dalam waktu dua minggu pernikahan kami tidak mengalami kemajuan, anda bisa mengatakan semuanya kepada Big Boss Turner untuk kami berpisah!"
__ADS_1
Zico segera pergi setelah mengatakan kalimat itu. Eren menghela napas lalu menatap Lusi yang berdiri di sampingnya. "Kak Elma ini ada-ada saja," batinnya. Namun entah kenapa dia tertarik untuk melihat usaha yang akan dilakukan oleh Zico untuk mempertahankan pernikahan mereka. "Semoga saja dia berhasil."
Di dalam, Zico masuk ke dalam ruangan pribadinya. Luis yang sejak tadi ada dibelakang Zico langsung menutup rapat pintu ruangan tersebut dan mendekat. Pria itu tahu kalau kini suasana hari Zico pasti sangat kacau karena tantangan yang diberikan oleh Elma.
"Bos, anda mau minum?" tawar Luis.
"Hemm," jawab Zico malas.
Luis segera melangkah menuju ke lemari yang ada di ruangan itu. Dia memilih anggur terbaik lalu menuangkannya ke dalam gelas wine. Luis memandang ke arah Zico sejenak sebelum membawa itu dan meletakkannya di atas meja.
"Mereka membuatku gila!" umpat Zico. Pria itu mengambil gelas yang sudah terisi lalu meneguknya dengan rakus. "Isi lagi!" perintahnya.
Luis hanya menurut saja. Pria itu membuka tutup gabus pada botol anggur lalu menuangkannya secara perlahan.
"Apa yang kau pikirkan? Bukankah kau juga ada di sana tadi?"
Luis menahan gerakannya. Jelas saja dia setuju dengan apa yang dikatakan Elma. Namun pria itu tidak suka dengan cara Elma memandang Zico. Seolah-olah Zico ini pria tidak bertanggung jawab.
"Bos, bukankah sebelumnya anda tidak pernah dekat dengan wanita manapun? Bagaimana kalau mulai sekarang anda belajar untuk memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh seorang wanita. Nona Eren adalah istri anda. Seharusnya anda tidak perlu malu lagi."
"Kau mau bilang kalau kau setuju dengan ide wanita itu?" ketus Zico dengan wajah menahan amarah.
"Bos, tidak ada salahnya mencoba. Jika gagal, itu berarti belum jodoh. Selama ini saya lihat anda terlalu lelah memikirkan geng mafia yang anda miliki. Mau sampai kapan, Bos? Usia anda terus bertambah. Kesempatan anda untuk hidup di dunia ini juga sudah berkurang. Apa anda tidak ingin memiliki anak? Apa anda tidak ingin memiliki keturunan yang nantinya bisa mewarisi kejayaan anda?"
Apa yang dikatakan Luis cukup masuk akal hingga membuat Zico tidak emosi lagi. Pria itu mulai memikirkan cara untuk bisa menjalin hubungan baik layaknya suami istri dengan Eren. Meskipun detik ini dia masih kesal melihat istrinya itu.
"Baiklah, akan aku pikirkan lagi nanti. Sekarang tinggalkan aku sendiri. Jika wanita itu belum pulang, maka jangan pernah temui aku di ruangan ini. Aku tidak mau mereka tahu kalau aku ada di sini!"
"Baik, Bos." Luis menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan Zico. "Semoga saja hati Bis Zico segera terbuka. Sepertinya aku harus menemui Lusi sekarang. Aku akan mengajaknya untuk bekerja sama agar bisa menyatukan Bos Zico dan juga Nona Eren," gumam Luis di dalam hati.
__ADS_1