
Eren baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri. Wanita itu merasa kedinginan. Bahkan sekujur tubuhnya lagi-lagi harus merasa seperti di tusuk jarum. Padahal tadi dia mandi air hangat. Sekarang juga memakai pakaian yang tebal.
Zico yang menyadari perbedaan sikap Eren segera mendekat. Pria itu lebih dulu mandi. Dia sudah terbiasa dengan cuaca dingin.
"Apa kau baik-baik saja?" Zico memegang pundak Eren.
Eren memandang Zico sejenak sebelum menggeleng. "Aku kedinginan."
Zico diam sejenak sebelum menarik tubuh Eren. Pria itu memeluknya. Betapa romantisnya Zico yang sekarang.
"Bagaimana?" tanya Zico untuk memastikan kalau kini dia telah berhasil memberikan kehangatan kepada Eren.
"Sudah jauh lebih baik. Tapi, kita tidak mungkin tidur seperti ini." Eren merasa sangat mengantuk dan dia ingin berbaring di ranjang.
"Heemm, ya. Kau benar." Zico menggendong tubuh Eren. Hal itu membuat Eren kaget bukan main.
"Apa yang kau lakukan?" Ada tatapan protes di sana. Sebenarnya Eren takut hilang kendali lagi seperti tadi meskipun yang menyentuhnya adalah suaminya sendiri.
"Kenapa? Kau takut?" Zico justru senang meledek Eren malam itu. Melihat wajah panik Eren membuat kebahagiaan tersendiri di dalam hati Zico.
"Tidak. Aku tidak takut sama siapapun!" ketus Eren tanpa memandang.
"Benarkah?" Zico mendekati wajah Eren sampai-sampai hangatnya napas pria itu bisa dirasakan Eren dengan jelas. Eren mematung. Dia salah tingkah. Wajahnya sampai merona karena malu. Dan Zico semakin cinta. Ya, pria itu semakin tergila-gila melihat istrinya. Padahal sebelumnya dia sangat membenci wanita. Tetapi Eren berbeda. Sikap galak wanita itu membuat warna di dalam hidup Zico yang gelap.
__ADS_1
"Eren, ada yang ingin aku katakan padamu."
"Apa?" Eren masih mencari cara agar bisa segera turun dari gendongan Zico.
"Aku ingin kau mengandung anakku!"
Eren membisu. Wanita itu memandang wajah Zico lagi. "Anak?"
"Kau belum siap?" Zico mengeryitkan dahinya.
"Bukan seperti itu. Tetapi ...." Bahkan dia tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menolak tawaran Zico. Mereka ini suami istri. Permintaan Zico adalah hal yang wajar.
"Aku takut," jawab Eren. Dia menahan kalimatnya. "Aku belum siap untuk-"
Eren memejamkan matanya perlahan sebelum membalas ciuman Zico. Rasa dingin yang sempat ia rasakan sudah hilang entah kemana.
Zico membawa Eren ke tempat tidur dan membaringkannya di sana. Pria itu seperti sudah dibutakan oleh nafsu. Meskipun begitu, dia tetap memperlakukan istrinya layaknya seorang ratu. Diciumnya pipi Eren, hidungnya. Sebelum turun ke leher.
Eren sama sekali tidak memberikan penolakan. Tangan wanita itu ada di rebut Zico dan meremasnya dengan mesra.
Zico membimbing Eren untuk duduk. Pria itu harus meminta istrinya membuka pakaian tebal yang dikenakan.
"Zico," rintih Eren. "Aku takut."
__ADS_1
"Kau harus mempercayaiku. Aku suamimu!" Zico benar-benar tidak bisa di ajak bernegosiasi lagi. Ketika Eren hanya tinggal memakai pakaian dalam saja, pria itu kembali membaringkannya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Eren si wanita tangguh yang bisa menolak keinginan Zico kini justru berubah menjadi wanita bodoh. Dia memejamkan mata dan berusaha menenangkan pikirannya ketika Zico terus saja mencumbu setiap inci tubuhnya.
Zico membuka pakaiannya sendiri. Pria itu ingin segera memiliki Eren. Dia sudah kesakitan dan ingin segera dipuaskan. Akan tetapi, Eren kali ini memiliki keberanian untuk menolak.
Wanita itu memutar tubuhnya lalu memejamkan mata. Zico yang tadinya sudah bersemangat kini harus menelan kekecewaan lantaran tidak tega memaksa Eren. Bagaimanapun juga ini yang pertama bagi Eren. Jika saja wanita itu tidak siap. Maka Zico sama saja dengan memperkosa istrinya sendiri.
"Maafkan aku." Zico duduk dipinggiran tempat tidur. Pria itu ingin menyudahi semuanya. "Tujuan kita ke sini untuk liburan. Bukan bulan madu."
Eren tersentuh dan merasa kasihan. Entah kenapa ada rasa tidak tega ketika melihat Zico mengatakan kalimat seperti itu. Padahal bisa saja pria itu memaksanya. Tetapi ini tidak. Zico justru menyudahinya karena tidak mau membuat Eren menderita.
Eren duduk sambil memeluk selimut. "Maafkan aku."
Zico memandang ke samping. Pria itu sudah tidak memakai baju. "Maaf untuk apa?" Zico ingin mengambil bajunya yang tergeletak di lantai. Tetapi tiba-tiba saja Eren menahan tangan suaminya. Zico mengeryitkan dahi melihat Eren.
"Kenapa?"
"Aku yang salah. Kita sudah menikah dan sudah sama-sama dewasa. Kau seorang pria dan aku wanita. Justru jika kau tidak menginginkanku, itulah yang seharusnya dicurigai. Hei, Tuan Zico. Kenapa kau harus meminta izin? Aku sudah siap memberikan semuanya. Bahkan mengandung anakmu. Aku harap, setelah ini kita bisa membentuk sebuah rumah tangga seperti yang diimpikan oleh Daddy. Aku tahu, kau ini pria yang bisa di percaya. Kau tidak mungkin meninggalkanku ketika aku sudah hamil kan? Soal cinta, aku yakin akan tumbuh seiring berjalannya waktu."
"Eren, kau tidak bisa menolak lagi jika aku kembali melanjutkannya. Apa kau pikir itu tidak sulit bagiku?"
Eren mengangguk lalu memegang pipi Zico sambil tersenyum. Wanita itu menggeleng pelan. "Aku tidak akan menolakmu."
__ADS_1
"Aku janji, tidak akan mengecewakanmu." Zico kembali menarik dagu Eren dan mengecupnya dengan mesra. Kali ini, apapun yang terjadi dia tidak akan berhenti. Zico akan menyelesaikannya sampai tuntas! Toh, dia juga memang sudah jatuh cinta kepada istrinya. Pria itu hanya perlu berjuang untuk membuat Eren merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan juga.