
Seorang pria yang menjadi pengawal pribadi Zico terlihat kaget ketika melihat Eren dalam keadaan terluka. Pria itu segera mendekat dan menunduk hormat di samping Zico.
"Bos, apa perlu saya panggilkan dokter? Luka Nona Eren sangat parah. Tidak bisa diobati dengan orang yang tidak profesional," ucap pengawal tersebut.
"Tidak! Aku tidak mau diobati oleh dokter. Apa suamiku tidak bisa mengobatiku," tolak Eren dengan cepat.
"Panggilkan Dokter wanita!" perintah Zico sebelum lanjut berjalan menuju ke tangga.
Eren terlihat protes. Namun ketika Zico memandangnya dengan begitu tajam, wanita itu memilih untuk menunduk takut. Pengawal pribadi Zico hanya tersenyum kecil mendengar perintah Zico. Tanpa pikir panjang pria itu segera menghubungi dokter.
"Dia ini pria yang sangat dingin dan menakutkan. Bahkan jauh lebih dingin daripada Daddy. Apa pria seperti dia masih memiliki kemampuan untuk tersenyum. Bahkan agar dia tidak marah aku rela bersikap manis seperti ini. Tapi sepertinya trik ini tidak sia-sia. Selama ini aku melihat Kak Elma bersikap manja kepadaku. Ternyata pada akhirnya ada gunanya juga Aku mengingat rengekan manja Kak Elma. Sekarang aku bisa menggunakan rengekan Kak Elma untuk membuat suamiku tidak marah-marah," gumam Eren di dalam hati.
Zico membuka pintu kamar dengan siku lalu mendorongnya dengan tubuhnya. Pria itu sengaja membawa Eren ke kamar yang ada di lantai atas. Padahal biasanya mereka selalu istirahat di kamar yang ada di bawah.
Eren melebarkan kedua matanya melihat kamar yang sangat indah di sana. Ia sempat kagum melihat susunan kamar yang ada di lantai bawah. Tapi kini ternyata kamar yang ada di lantai atas jauh lebih menarik. Dinding kamar itu hampir separuhnya menggunakan kaca hingga membuat pemandangan indah di luar sana terlihat dengan jelas. Pada siang hari seperti ini, kamar itu menjadi sangat terang seperti tidur di luar rumah. Meskipun begitu udara di sana tetaplah sejuk.
Zico meletakkan Eren di sofa yang ada di dekat jendela. Setelah meletakkan Eren di sana pria itu melangkah menuju ke sebuah lemari. Eren memeriksa ponselnya. Karena tidak ada panggilan siapapun, wanita itu memutuskan untuk meletakkan teleponnya di samping tempat duduknya.
Eren melirik lagi telapak tangannya dan kakinya yang terluka. Wanita itu berusaha menggerak-gerakan tangannya tetapi percuma saja karena tangannya sudah tidal terasa lagi karena terlalu banyak kehabisan darah. Begitu juga dengan kakinya yang kini terasa kaku.
Zico muncul dengan kapas dan beberapa barang di tangannya. Pria itu berniat untuk membersihkan darah yang ada pada tangan dan kaki Eren yang sudah hampir mengering. Ini pertama kalinya Ia mau melayani seorang wanita. Biasanya pria itu sama sekali tidak peduli.
Zico melirik ponsel Eren sebelum mengambilnya dan meletakkannya di meja. Tanpa meminta izin dari Eren pria itu memegang tangan Eren dan membersihkan luka wanita itu dengan hati-hati.
"Siapa yang sudah melakukan semua ini?" tanya Zico tanpa memandang.
"Namanya Yola. Kami sudah lama bermusuhan. Biasanya dia selalu kalah ketika bertarung denganku." Eren kembali kesal ketika menyebut nama Yola.
__ADS_1
"Kau mau bilang kalau ini pertama kalinya kau kalah?"
Eren menghela napas. "Aku tidak akan kalah jika Kak Elma tidak kabur," jawab Eren membela diri.
Mendengar nama Elma membuat Zico kembali ingat dengan tujuannya bertemu dengan Eren. Dengan wajah tidak bersahabat pria itu membuang benda-benda yang sempat ia gunakan untuk membersihkan luka Eren. Dia berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sebelum menatap Eren dengan begitu tajam.
Eren mendongakkan kepalanya karena memang tubuh Zico sangat tinggi. Wanita itu juga kebingungan ketika melihat sikap suaminya yang tiba-tiba saja jauh berbeda.
"Ada apa. Apa ada yang salah?" tanya Eren dengan serius.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau menyuruhku untuk menculik pria yang akan menikahi kakak kandungmu? Jika sudah seperti ini, aku akan terlibat ke dalam masalah yang sudah kau buat. Sejak awal aku tidak mau berurusan dengan Big Boss Turner. Sampai-sampai aku rela menikahimu."
Eren membisu mendengar perkataan suaminya. Ada rasa sakit hati ketika dia tahu kalau Zico menikahinya karena terpaksa. Jika saja pria itu tidak takut dengan ayah kandungnya maka pria itu tidak akan mau menikahinya. Eren merasa menjadi wanita yang paling sial karena harus menikah dengan pria yang tidak akan pernah mencintainya dan memandangnya sebagai sebuah kesalahan.
"Maafkan Aku. Tapi Bukankah sejak awal kita tidak saling kenal dan tidak saling tahu kalau kita berdua akan menikah. Jika saja aku tahu kau adalah pria yang akan aku nikahi mungkin aku tidak akan melibatkanmu dalam masalah ini.
Meskipun aku tidak tahu mereka akan memaafkanku atau tidak tetapi setidaknya aku sudah berusaha dan bisa membersihkan nama baikmu. Meskipun kita suami istri kau tidak perlu merasa memiliki istri. Anggap saja aku ini dinding yang tidak perlu dipandang apa lagi di ajak bicara. Aku tidak pernah memiliki niat untuk membuat orang lain kesusahan. Tetapi pada kenyataannya justru aku selalu membuat orang lain merasa kesusahan karena ulahku."
Setelah mendengar jawaban dari Eren justru Zico kehabisan kata-kata dan tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang. Bersamaan dengan itu mereka berdua mendengar suara ketukan pintu.
Zico segera memutar tubuhnya lalu pergi meninggalkan Eren. Eren memandang ponselnya yang berdering. Wanita itu memandang ke punggung Zico sejenak sebelum berusaha untuk meraih ponselnya. Karena ponselnya tergeletak di atas meja yang jaraknya cukup jauh, Eren jadi kesulitan untuk meraih ponsel tersebut.
Hingga pada akhirnya wanita itu terjatuh dan kepalanya terbentur meja. Zico segera menahan langkah kakinya lalu memutar tubuhnya. Pria itu menghela napas kasar melihat Eren tergeletak di atas karpet.
"Kenapa dia tidak bisa diam saja di sana?" umpat Zico di dalam hati.
Pria itu segera membuka pintu lalu melihat pengawal pribadinya sudah berdiri di sana bersama dengan seorang dokter wanita. Zico memandang ke arah dokter tersebut.
"Obati lukanya. Beri dia obat agar dia bisa tidur karena selama dia membuka mata dia tidak akan pernah bisa diam!"
__ADS_1
"Baik, Tuan," jawab dokter tersebut.
Setelah memberi perintah Zico segera pergi meninggalkan kamar itu tanpa mau membantu Eren naik kembali ke atas sofa. Dokter itu segera masuk ke kamar. Sedangkan pengawal pribadi Zico berlari mengejar Zico dari belakang.
"Aku butuh informasi tentang wanita yang bernama Yola. Dia adalah musuh Eren!" ucap Zico sambil berjalan cepat.
"Baik, Bos!" jawab pria itu. Dia memandang ke arah pintu sekali lagi sebelum mengikuti Zico dari belakang. Dilihat dari gerak-geriknya dia itu tahu kalau Zico pasti ingin pergi ke suatu tempat.
Di dalam kamar Eren berusaha untuk duduk dan meraih ponselnya. Dokter wanita itu berlari dan membantu Eren. Namun Eren mengabaikan Dokter wanita itu karena memang dia tidak suka ditolong oleh seorang dokter.
"Lusi, kau kemana saja? Aku sudah ada di dalam kamar. Kamarku ada di lantai atas," ucap Eren.
"Bos, saya sudah ada di depan rumah. Bagaimana caranya agar saya bisa masuk ke dalam. Ini pertama kalinya saya tiba di rumah ini. Mereka tidak akan percaya kalau saya adalah pengawal pribadi anda."
"Kau katakan saja kalau aku yang memintamu masuk ke dalam. Aku yakin mereka tidak akan menyulitkanmu. Zico juga ada di luar. Dia pasti akan mengizinkanmu untuk masuk ke dalam."
"Bos, Apa Anda memanggil seorang dokter? Sejak kapan anda mau disentuh oleh dokter? Bukankah saya bisa mengobati anda."
"Apa kau bilang?" Eren mengernyikan dahinya.
"Ya. Di sini ada seorang dokter yang baru saja tiba. Sepertinya aku akan masuk ke dalam bersama dengan dokter ini."
Eren menurunkan ponselnya mendengar penjelasan Lusi. Wanita itu tahu kalau sekarang Dokter wanita yang berdiri di belakangnya bukan dokter yang sebenarnya ingin mengobatinya.
"Nona ... Mari saya bantu berdiri," ucap Dokter gadungan itu.
Eren masih mematung. Dia belum melakukan hal apapun karena dia juga masih memikirkan trik yang bisa membuatnya menang meskipun ia dalam keadaan terluka. Secara diam-diam dokter itu mengeluarkan sebuah pistol. Ternyata benar apa yang dipikirkan oleh Eren Kalau dokter itu berniat untuk mencelakainya.
"Ternyata membunuh wanita ini tidak sesulit yang aku pikirkan," gumam dokter palsu itu dalam hati.
__ADS_1