Putri Tangguh

Putri Tangguh
Pertarungan Zico


__ADS_3

Zico dan Luis baru saja tiba di kota yang menjadi tempat persembunyian Roger. Mereka berdua sudah terlihat tidak sabar untuk menyerang musuh mereka tersebut. Namun Zico tidak mau bertindak gegabah. Bisa dibilang Roger ini manusia seribu nyawa. Berulang kali ia hampir tewas tetapi ia selamat juga.


"Bos, dia ada di dalam. Sepertinya dia sedang bersenang-senang dengan wanita bayarannya. Ini waktu yang tepat untuk menyerangnya. Dia tidak akan pernah sadar kalau kita sudah ada di kota yang sama dengannya." Luis memasukkan peluru ke dalam senjata api miliknya. Pria itu sudah memakai topeng untuk menutupi identitasnya. Siap untuk menyerang Roger dan melindungi Zico dari musuh yang akan menyerang.


Berbeda dengan Zico yang tidak memiliki persiapan apapun. Pria itu duduk di kursi sambil menikmati wine mahal yang baru saja ia pesan. Sesekali ia menatap ke arah gedung yang menjadi tempat persembunyian Roger.


Roger bersembunyi di sebuah kamar apartemen yang dijaga ketat oleh puluhan pengawal. Dilihat dari bangunan apartemen itu sendiri, Zico bisa tahu kalau ada banyak jebakan di sana. Menyerang Roger tidak semudah yang dipikirkan oleh Luis.


"Letakkan benda ini di kamar Roger." Zico mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan meletakkannya di atas meja. Luis memperhatikan benda mungil tersebut Lalu mengambilnya.


"Apa ini bahan peledak Bos?" tebak Luis asal saja. Pria itu merasa yakin kalau benda yang diberikan Zico adalah bom. Karena memang selama ini Zico suka sekali menggunakan bom yang bentuknya aneh-aneh.


"Letakkan di dalam kamar mandi," ucap Zico lagi sebelum meneguk minuman yang ada di dalam gelas kristal sampai habis. Pria itu membanting gelas kosong di atas meja lalu pergi begitu saja. "Setelah kau berhasil segera hubungi aku!"


"Baik bos," jawab Luis cepat. Pria itu segera memikirkan cara untuk bisa meletakkan benda mungil itu di dalam kamar mandi yang ditempati oleh Roger. Ia tahu kalau Zico pasti sudah merencanakan sebuah trik.


Di saat Luis masih memikirkan cara untuk bisa meletakkan benda berisi bahan peledak tersebut. Sedangkan Zico sudah tiba di salah satu kamar apartemen yang tidak jauh dari letak ruangan Roger. Pria itu berendam di dalam bak mandi sambil menghirup aroma terapi. Sambil berendam pria itu sudah membayangkan bagaimana reaksi Roger nanti. Musuhnya itu akan kaget melihat kemunculannya yang begitu mendadak.


Namun di sela lamunannya, wajah Eren kembali terlintas di dalam ingatannya. Tadi Luis sempat cerita kalau dia berhasil memberi pelajaran kepada wanita yang sudah berani melukai Eren. Walaupun begitu tetap saja Zico merasa tidak puas karena kini Eren tidak bisa berjalan sedangkan wanita itu masih bisa berkeliaran meskipun wajahnya sudah babak belur.


Memang selama ini Zico tidak terlihat peduli terhadap Eran. Namun sebenarnya pria itu selalu melindungi Eren dan tidak mau Eren sampai celaka.


"Kau tidak akan bisa menang melawan musuhmu selama rasa belas kasih itu masih ada di dalam hatimu. Sebagai seorang wanita, kau selalu saja memiliki perasaan tidak tega. Seperti ini kau akan kalah meskipun kemampuanmu sangat hebat."


Zico melirik ponselnya yang berdering. Tertera jelas nama Luis di sana. Tanpa pikir panjang pria itu mengangkat panggilan telepon dari Luis.


"Saya sudah berhasil meletakkan benda mungil itu di dalam kamar mandi Roger, Bos." Luis sendiri tidak pernah tahu kalau sebenarnya Zico sudah berada di ruangan yang tidak jauh dari posisi Roger berada.


"Bagus!" ucap Zico. Pria itu segera beranjak dari bak mandi lalu meletakkan ponselnya di atas meja wastafel. Dengan tubuh yang masih memakai handuk pria itu justru mempersiapkan senjata yang akan ia gunakan untuk menyerang Roger.


Kali ini Zico tidak akan meminta bantuan Luis untuk menyerang Roger karena pria itu ingin mengatasi Roger dengan tangannya sendiri.


Di sisi lain Luis merasa tidak tenang ketika Zico tidak memberi perintah apapun kepadanya. Luis merasa kalau tugas yang diberikan Zico sangat ringan. Hanya meletakkan benda mungil itu di dalam kamar mandi Roger. Tadi Luis membayar seorang wanita untuk meletakkan barang tersebut. Jelas saja pria itu tidak bisa turun tangan langsung karena itu sangat beresiko. Tidak ada satu priapun yang bisa masuk ke dalam kamar Roger.


"Sebenarnya apa yang sudah direncanakan oleh Bos Zico? Aku tidak bisa menunggunya di sini. Sekarang dia pasti sudah merencanakan sesuatu. Aku harus Mencari keberadaannya." Pria itu membuka ponselnya lalu melihat rekaman CCTV yang ada di kota tersebut. Dengan mudahnya Luis bisa mengetahui di mana keberadaan Zico saat ini. Bahkan dia bisa tahu kalau saat ini Zico sedang berjalan menuju ke kamar Roger. Gerak-gerik Zico bisa dilihat dengan jelas.


"Bukankah itu kamar Roger? Untuk apa bos Zico datang sendirian ke sana?"

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Luis segera memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berlari masuk ke dalam mobil. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju gedung apartemen tempat Roger dan Zico berada saat ini.


Zico mengangkat kedua senjata api yang ada di genggaman tangannya ketika beberapa pengawal Roger menyambutnya dengan sebuah tembakan. Pria itu sudah memakai pakaian anti peluru. Dia merasa aman ketika melangkah dan menyerang pria bersenjata di depannya.


Suara tembakan itu membuat keributan hingga penghuni apartemen keluar dari kediaman mereka dan berlarian dengan wajah ketakutan. Memang seperti ini rencana yang telah disusun oleh Zico. Dia sengaja mengalihkan perhatian semua pengawal Roger untuk bisa masuk ke dalam ruangan tempat Zico berada.


Zico masuk ke kamar yang bersebelahan langsung dengan kamar Roger. Kamar itu ditempati oleh nenek-nenek dan kakek-kakek. Mereka sangat kaget namun ketika mereka ingin bersuara tiba-tiba saja Zico meletakkan satu jarinya di depan mulut hingga membuat kakek nenek itu memilih untuk diam. Mereka tidak berani bergerak. Mereka berdua hanya duduk di atas tempat tidur sambil memperhatikan Zico yang kini berjalan menuju ke arah jendela. Pria itu membuka jendela lalu keluar. Dengan tali yang sudah disediakan oleh Zico pria itu melayang di udara lalu berhasil tiba di kamar Roger tanpa diketahui oleh penjaga Roger yang ada di depan kamar.


Roger yang saat itu sedang bersenang-senang dengan wanita bayarannya terlihat kaget. Pria itu segera menghempaskan semua wanita yang mengerumuninya lalu beranjak dari atas tempat tidur. Ia memakai jubah berbahan satin lalu mengambil senjata apinya.


"Zico Rodriguez! Senang bertemu denganmu lagi. Apa kau merindukanku hingga repot-repot menemuiku di tempat ini. Seingatku akhir-akhir ini aku tidak mengusik ketenanganmu kenapa kau harus datang mengunjungiku dengan cara seperti ini."


Zico menatap tajam wanita yang kini sedang memakai pakaian mereka. Setelah wanita-wanita itu pergi, Zico segera berjalan ke arah sofa dan duduk dengan santai di sana. "Kali ini aku tidak akan membiarkanmu hidup. Aku akan memastikan kalau kau akan mati di tanganku."


Pintu kembali terbuka karena pasukan Roger ingin masuk ke dalam. Di saat itulah Zico bersiap-siap untuk menekan tombol pacu dari bom yang sudah dimasukkan di kamar mandi karena posisi kamar mandi dekat dengan pintu masuk. Zico merasa yakin kalau pasukan Roger akan tewas di sana karena terkena ledakan bom darinya.


Roger tersenyum bahagia melihat pasukannya berkumpul di depan pintu dan mengarahkan senjata api mereka ke arah Zico. Kali ini ia merasa menang karena memang pasukan yang sudah ia siapkan bukan main banyaknya.


Bersamaan dengan itu Zico menekan tombol pacu yang ada di genggaman tangannya hingga membuat bom yang ada di kamar mandi meledak. Memang ledakannya tidak begitu dahsyat. Nun bom itu berhasil membuat pasukan Zico yang ingin menembaknya tewas di tempat.


Zico menaikkan satu alisnya melihat Luis menghajar Roger. Memang selama ini Luis tidak pernah diragukan. Pria itu selalu bisa dihandalkan. Dia selalu muncul di saat yang begitu mendesak.


Tapi kemampuan Roger memang tidak bisa disepelekan. Bahkan Luis yang memiliki kemampuan hebat saja sempat kalah karena terkena pukulan Roger malam itu.


"Kali ini aku tidak akan mati sendirian. Aku akan membawa kalian berdua mati bersamaku." Tiba-tiba saja Roger berjalan ke arah nakas dan membuka laci yang ada di sana. Terlihat jelas ada bom aktif yang tergeletak di dalam laci tersebut. Hanya tersisa waktu sekitar 15 menit. Zico dan Luis sama-sama kaget. Pria itu tidak menyangka kalau Roger sudah mengetahui rencana mereka.


"Apa rencanaku kali ini tidak kalian sadari? Sejak orang bayaranku berhasil kau bunuh, Sejak saat itu aku sudah mulai mengawasimu. Aku tahu kalau kau mengikutiku sampai ke kota ini. Lalu aku menyiapkan bom ini dan ingin membawamu mati bersamaku. Aku tahu kau tidak akan berhenti mengikutiku sebelum aku tewas," ucap Roger dengan penuh percaya diri.


Zico tidak mau panik. Pria itu melangkah maju lalu menghajar Roger. Dia harus bisa membuat Roger tidak berdaya agar Luis bisa mengambil alih untuk menjinakkan bom yang akan segera meledak itu.


"Rasakan pukulanku!" Zico mengepal kuat tangannya sebelum menyerang Roger.


BRUAAKKK


Tubuh Roger terhantam dinding ketika Zico melempar dengan begitu kuat. Bahkan Roger sampai muntah darah. Roger menahan rasa sakit sambil memandang ke arah Luis yang kini berusaha untuk menjinakkan bom.


"Aku tidak akan membiarkanmu menjinakkan bom itu. Aku akan kalah jika mereka sampai berhasil," gumam Roger di dalam hati.

__ADS_1


Pria itu bangkit dan kembali menghajar Zico. Kali ini target Roger adalah senjata api yang ada di pinggang Zico. Dia akan merebut senjata api itu dan menembak bom yang sedang aktif agar segera meledak.


Zico yang tidak sadar dengan tujuan Roger terus saja menghajar Roger tanpa mempedulikan senjata api yang ia simpan di pinggang. Di detik ketika Zico ingin menghajar Roger. Di saat itulah Roger berhasil merebut senjata apinya.


"Berhenti atau aku akan menembak bom itu dan membuat kita semua tewas!" ancam Roger dengan senyum tipis di sudut bibirnya.


Luis dan Zico sama-sama terdiam. Zico memandang ke arah bom yang kini waktunya tersisa 5 menit saja.


"Kau bener-bener ingin mati bersamaku?" tanya Zico.


"Kenapa tidak?" Roger mengangkat senjata apinya dan mengarahkan ujung senjata api tersebut ke arah kepala Zico. Begitu juga dengan Zico yang kini mengangkat senjata apinya dan mengarahkannya ke arah Roger.


"Dalam hitungan ketiga kita harus sama-sama menembak dan kita lihat siapa yang bertahan setelah peluru menancap di dada kita masing-masing," tantang Zico. Dia sudah memakai pakaian anti peluru. Jelas saja ia berani untuk menantang Roger seperti itu.


Roger mengatur nafasnya lagi. Dia tidak bisa menyerah begitu saja kepada Zico. Akhirnya Ia memutuskan untuk setuju dengan tawaran Zico barusan.


"Baiklah," ucap Roger.


Zico melirik ke arah jam dinding yang ada di kamar tersebut. Dia tahu kalau waktu yang mereka miliki tidak banyak dan Luis belum berhasil menjinakkan bom itu.


"Aku tidak mau mati sekarang," ucap Zico sebelum memutar tubuhnya dan menendang Roger dengan siku tangannya. Pria itu merebut senjata api yang ada di tangan Roger lalu mendorong Roger menuju ke arah jendela.


"Sial!" umpat roger di dalam hati. Namun pria itu mengambil borgol dari saku celananya. Dia segera memasang borgol di tangannya dan juga di tangan Zico. Bersamaan dengan itu Zico mendorong Roger agar terjatuh dari jendela. Karena tangan mereka sudah sama-sama menyatu, akhirnya Zico juga ikut terjun ke bawah.


"BOSS!" teriak Luis panik. Namun pria itu tidak bisa berbuat banyak karena kini tugasnya adalah menjinakkan bom. "Sekarang bagaimana ini?" gumam Luis di dalam hati. Bos itu memang di desain sedemikian rupa hingga membuat orang yang ingin menjinakkannya membutuhkan waktu lama.


"Sial! Siap!" umpat Luis.


Waktu di bom itu tersisa 40 detik. Luis mengatur napasnya agar kembali tenang. Dia kembali mengotak-atik bom itu hingga akhirnya bom itu tidak aktif lagi. Waktu yang tersisa hanya 5 detik saja saat itu.


"Akhirnya."


Luis segera meletakkan bom itu di lantai lalu memandang ke jendela. Jika dia melihat Zico tewas maka dia akan bunuh diri dengan melompat juga.


Luis menahan langkah kakinya ketika sudah tiba di tepian jendela. Pria itu belum berani memandang ke bawah. Ia memejamkan mata sejenak sebelum menunduk.


"Bos?"

__ADS_1


__ADS_2