
BYURRR
Eren segera berenang ketika sudah masuk ke dalam kolam. Pagi-pagi Wanita itu sudah merasa gerah hingga memutuskan untuk berenang. Ternyata Zico mengurungkan niatnya untuk menggusur kolam renang yang ada di rumah. Dia tetap membiarkan kolam renang itu ada meskipun dia tidak suka.
Dari arah balkon yang ada di lantai atas, Zico berdiri memandang ke arah Eren yang sedang berenang. Pria itu sudah mandi dan sudah wangi. Dia sempat tersenyum sinis melihat istrinya berenang.
"Bisa-bisanya sepagi ini dia sudah berenang. Apa tubuhnya tidak kedinginan?"
Zico mengambil ponselnya untuk memeriksa panggilan dan pesan yang masuk tadi malam. Pria itu kembali melirik ke bawah untuk memeriksa keadaan Eren. Tanpa disadari Zico memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku. Kini pria itu memperhatikan kecantikan istrinya sendiri tanpa berkedip.
Eren duduk di tepian kolam dengan pakaian renang yang seksi. Sekujur tubuh wanita itu basah hingga melihatnya terlihat sangat menggoda. Ditambah lagi beberapa helai rambut Eren yang menutupi mata. Dilengkapi dengan senyum Eren ketika wanita itu berbincang dengan Lusi yang juga ada di sekitar kolam.
Zico terus saja mengagumi kecantikan istrinya. Namun ketika kembali tersadar pria itu cepat-cepat memalingkan wajahnya dan pergi dari sana. Dia tidak mau sampai Eren tahu sejak tadi dia memperhatikannya dari atas.
"Bos, Anda belum sarapan tetapi sekarang sudah berenang saja. Anda bisa sakit jika berenang terlalu lama," ucap Lusi memperingati.
"Aku belum lapar. Pagi ini juga aku tidak selera untuk makan. Tolong buatkan aku salad buah saja. Aku akan sarapan dengan itu," perintah Eren.
"Baik, Bos. Saya ke dapur dulu untuk membuat salad buah."
Lusi segera pergi meninggalkan arena kolam renang. Wanita tidak mau menyuruh koki yang ada di dapur untuk membuatkan salad buah. Selama ini jika hal-hal yang berhubungan dengan Eren, Lusi lebih memilih untuk mengerjakannya sendiri. Karena dia bisa menjamin keamanannya.
Terutama dalam bidang makanan. Lusi tidak pernah percaya dengan orang-orang yang ada di dapur. Jika bisa, wanita itu akan memasak sendiri khusus untuk makanan Eren. Karena dengan begitu ia bisa dengan tenang melihat Eren mengunyah dan menelan makanannya.
Eren kembali masuk ke dalam kolam. Rasanya wanita itu belum puas dan tidak mau berhenti sekarang meskipun tubuhnya sudah mulai kedinginan.
Zico sudah tiba di lantai bawah. Tanpa sengaja pria itu melewati ruangan yang menghubungkannya ke kolam renang. Pria itu memandang Eren yang masih asyik berenang tanpa menyadari keadaan sekitar. Lagi-lagi Zico termenung sambil memperhatikan istrinya secara diam-diam.
Eren tiba-tiba saja berhenti. Wanita itu berusaha menggerakkan kakinya. Namun percuma! Kakinya kram hingga dia tidak bisa untuk berenang ke tepian.
__ADS_1
"Gawat! Bagaimana ini!" gumam Eren. Wanita itu berusaha untuk tenang. Dia muncul ke permukaan lalu minta tolong berharap ada yang mendengar teriakannya dan segera menolongnya untuk keluar dari kolam tersebut.
Zico mulai menyadari kalau ada yang tidak beres di sana. Pria itu berlari menuju ke tepian kolam untuk kembali memastikan. Betapa kagetnya Zico ketika melihat istrinya hampir tenggelam. Wanita itu muncul ke permukaan sebelum tenggelam lagi. Bibir Zico terlihat memutih. Tubuhnya mematung karena trauma masa kecilnya kembali mengiang dan membuatnya ketakutan.
"LUIS!" teriak Zico. Pria itu berharap kalau Luis mendengar teriakannya dan mau menolong Eren dari kolam renang. Namun berulang kali Zico berteriak, tetapi Luis tidak juga muncul. Zico semakin khawatir, ia takut nyawa Eren tidak tertolong.
Ketika Eren tidak lagi muncul di permukaan Zico segera mengatur napasnya yang tersengal. Pria itu mengepal kedua tangannya. Ingin sekali ia segera melompat namun ia tidak bisa melakukannya. Tubuhnya kaku seperti batu. Zico memejamkan matanya sejenak dan menyingkirkan trauma yang saat ini mengganggunya. Hingga pada akhirnya pria itu terjun ke dalam kolam renang untuk menolong Eren.
Bersamaan dengan itu Lusi dan Luis juga muncul. Salad buah yang ada di tangan Lusi terhempas begitu saja. Wanita itu berlari untuk menolong Eren. Begitu juga dengan Luis. Pria itu mengkhawatirkan keadaan Zico saat ini.
Zico memandang Eren yang sudah melayang di dalam air. Pria itu segera menarik tubuh Eren untuk naik ke permukaan. Eren sudah tidak sadarkan diri saat itu karena terlalu banyak menelan air. Tubuhnya terlihat lemah dan bibirnya pucat. Luis dan Lusi membantu Zico untuk membawa Eren ke tepian.
berbeda dengan Lusi, kini perhatian Luis justru ada pada Zico. "Bos, Apa Anda baik-baik saja?" tanyanya untuk kembali memastikan.
Zico memandang ke arah Eren yang sudah diselamatkan oleh Lusi dan dibawa ke atas. Pria itu juga segera berenang ke tepian. Zico tidak tahu harus bicara apa sekarang. Pria itu memandang lagi kolam renang yang menjadi tempat Eren tenggelam sebelum memalingkan wajahnya. Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak masuk ke dalam kolam renang.
"Bos, bangun!"
Zico tersadar dari lamunannya. Pria itu segera berlari menghampiri Eren. "Kita bawa Eren ke rumah sakit!" Tanpa permisi Zico mengangkat tubuh Eren dan melarikannya ke rumah sakit. Di belakang, Lusi dan Luis juga mengikuti.
...***...
"Pasien masih bisa diselamatkan. Belum banyak air yang tertelan. Tetapi, kejadian ini sangat beresiko. Sedikit saja kalian terlambat membawanya ke rumah sakit, pasien tidak akan mungkin bisa diselamatkan," jelas Dokter yang kini berdiri di depan Zico dan juga Lusi.
"Apa Bos Eren sudah sadar, Dok?"
Di sana Lusi yang terlihat sangat cerewet. Wanita itu terlalu banyak tanya karena khawatir. "Saya sudah melakukan semua tindakan sesuai prosedur. Saya berharap Bos Eren segera sadar."
"Ya. Ini berkat ilmu yang anda miliki juga Nona," puji Dokter itu. "Pasien memang belum sadar, tetapi keadaannya sudah stabil. Saya akan memindahkan pasien ke ruang perawatan. Pasien belum diperbolehkan pulang sebelum sadar. Karena kami akan melakukan pemeriksaan ulang nantinya untuk memastikan keadaan pasien baik-baik saja."
__ADS_1
"Baik, Dok. Terima kasih." Lusi mengukir senyum ramah ke dokter tersebut. Berbeda dengan Zico yang memandang tanpa ekspresi. Entah apa yang ada dipikiran pria itu sekarang. Dari kejauhan Luis muncul dengan membawa pakaian ganti untuk Zico. Pria itu juga tidak mau sampai bosnya jatuh sakit karena pakaian basah yang ia kenakan.
"Bos, ini pakaian ganti untuk anda," tawar Luis sembari memberikan paper bag yang berisi pakaian baru tersebut. Zico tidak langsung menerimanya. Pria masih ingin melihat keadaan Eren. Pria itu belum bisa tenang sebelum memastikan sendiri kalau Eren baik-baik saja.
Pintu terbuka lebar. Beberapa suster mendorong Eren. Lusi segera mengikuti rombongan suster itu. Begitu pun dengan Zico yang kini berjalan beberapa meter di belakang segerombolan suster tersebut. Dari posisinya berjalan, Zico bisa melihat jelas wajah Eren. Wanita itu harus menggunakan selang oksigen. Tangannya juga harus di infus.
Ketika semua orang masuk ke dalam ruangan tempat Eren di rawat, di saat itu Luis menahan tubuh Zico. Lagi-lagi dia menawari baju ganti untuk Zico dengan nada sesi memaksa.
"Bos, Nona Eren baik-baik saja. Anda tidak perlu mengkhawatirkannya hingga seperti ini. Sebaiknya sekarang anda segera ganti baju anda agar anda tidak jatuh sakit!"
"Kenapa dulu aku tidak bisa melakukan hal yang sekarang aku lakukan terhadap Eren. Jika dulu aku melompat dengan cepat ke dalam kolam renang mungkin sekarang Lyn masih ada di dunia ini."
Luis terdiam mendengar perkataan Zico. Ternyata lagi-lagi Zico memikirkan masa lalunya. Rasa bersalah itu kembali menyeruak ke permukaan hingga membuat Zico merasa dihantui dengan rasa penyesalan.
"Bos, semua sudah terjadi. Kelahiran dan kematian sudah ditentukan oleh Tuhan. Anda tidak bisa menyesali semua keadaan ini. Jika anda ingin maju, anda tidak perlu memandang ke belakang lagi dan menyesali semua yang sudah terjadi. Sebaiknya Anda mulai memperbaiki diri agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali."
Zico ingin marah. Namun dia tidak melakukan apapun. Pria itu merebut paper bag yang ada di genggaman tangan Luis lalu pergi untuk mencari tempat ganti. Luis memandang ke arah pintu ketika melihat Lusi muncul. Wanita itu menutup lagi pintu tempat Eren dirawat sebelum berdiri di hadapan Luis.
"Kau sendiri yang bilang kalau Tuan Zico trauma dengan kolam renang. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya untuk masuk ke dalam air. Tetapi berbeda dengan apa yang kulihat hari ini. Aku melihat jelas bagaimana Tuan Zico melompat untuk menyelamatkan nyawan Bos Eren."
"Ya, kau benar. Bahkan aku sendiri juga kaget ketika melihatnya. Sepertinya kehadiran Nona Eren membuat Bos Zico lupa akan trauma masa lalunya. Bukankah ini pertanda yang bagus? Aku berharap Bos Zico tidak lagi memiliki trauma agar tidak ada kelemahan pada dirinya yang bisa digunakan musuh untuk mengalahkannya."
Lusi menggangguk. "Sekarang Dimana Tuan Zico?Kenapa dia tidak ada di dalam ruangan untuk menemani Nona Eren? Bagaimanapun juga Bos Eren adalah istrinya."
"Bos Zico pergi untuk ganti pakaian. Bukankah pakaianmu juga basah? Kenapa kau tidak menggantinya dengan yang kering?"
Lusi menunduk memperhatikan penampilannya sendiri. Wanita itu memandang ke arah Luis lagi setelahnya. "Kau benar. Aku harus mengganti pakaianku. Tolong jaga Bos Eren selama aku pergi."
Luis menggangguk. Bersamaan dengan itu Lusi pergi untuk ganti. Dokter dan suster yang tadi mengantarkan Eren ke dalam ruang perawatan juga keluar dari ruangan tersebut. Mereka meminta Luis untuk masuk ke dalam agar bisa menjaga Eren dengan baik. Tetapi Luis menolak karena dia berpikir kalau tidak mungkin ada yang berani mencelakai Eren saat ini. Pria itu juga merasa segan jika hanya dia sendiri yang ada di dalam ruangan bersama dengan Eren.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Zico muncul dengan pakaian yang sudah rapi. Luis menunduk hormat di depan pria itu.
"Bos, dokter meminta anda untuk masuk ke dalam agar bisa menemani Nona Eren." Zico hanya mengangguk saja sebelum masuk ke dalam. Luis menghela napas lalu berjaga di depan. Sambil berjalan, pria itu kembali membayangkan Zico ketika melompat ke kolam renang lagi. "Ternyata trauma itu tidak membuat Bos Zico lupa caranya berenang. Tidak bisa dibayangkan apa yang terjadi tadi jika Bos Zico juga tenggelam di dalam kolam itu ketika ingin menyelamatkan Nona Eren."