Putri Tangguh

Putri Tangguh
Perjuangan Suami


__ADS_3

Zico memandang satu persatu pria bersenjata yang ada di hadapannya. Dia merasa yakin dengan pasukan yang kini ia miliki dan pasukan milik Eren. Mereka semua pasti bisa mengalahkan musuh yang baru saja datang. Namun kini satu-satunya hal yang sangat dikhawatirkan oleh Zico adalah Eren. Wanita itu masih terpuruk tetapi kini keluarga dari musuh masa lalunya muncul secara tiba-tiba. Zico tidak mau sampai istrinya celaka.


"Lusi, tolong bawa Eren pergi dari sini. Tempat ini tidak aman!" perintah Zico kepada Lusi yang saat itu berada tidak jauh dari posisi mereka berada. Wanita itu langsung saja berjalan menghampiri Eren karena ingin mengajaknya meninggalkan lokasi pemakaman.


"Tidak! Aku akan tetap berada di sini!" tolak Eren mentah-mentah. Lusi yang tadinya ingin menyentuh tubuh Eren menahan gerakannya. Wanita itu menatap ke arah Zico lagi sebelum memandang wajah Eren.


"Di sini terlalu berbahaya. Pergilah bersama Lusi ke tempat yang aman. Biar aku saja yang menghadapi mereka." Zico berusaha untuk membujuk Eren agar mau pergi dari sana.


"Bukankah kau sendiri yang bilang padaku. Kau akan selalu menjagaku di manapun dan kapanpun. Jadi apalagi yang harus aku takutkan? Jika hari ini aku bertarung dengan mereka maka aku tidak pernah khawatir akan celaka karena suamiku ada di sisiku." Eren memandang ke depan lagi. Dia mencari pasukan Black Crystal yang tiba-tiba saja menghilang entah kemana.


Kalimat yang baru saja dikatakan Eren berhasil membuat Zico bungkam. Pria itu tidak tahu harus bicara apa lagi. Meskipun ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya namun ia bertekad untuk melindungi Eren bagaimanapun caranya.


"Baiklah. Tapi aku memiliki satu syarat. Jangan pernah jauh-jauh dariku. Apapun yang terjadi tetaplah berada di sisiku. Dengan begitu aku bisa melindungimu dari mereka." Zico menatap Eren dengan begitu serisu. Pria itu ingin Eren menepati janjinya.


Tanpa pikir dua kali Eren menyetujui syarat yang diajukan oleh suaminya. "Baiklah."


Zico langsung menggenggam tangan Eren. Mereka sama-sama memandang ke depan. Lusi segera mengeluarkan senjata api dan memberikannya kepada Eren. Begitupun dengan Luis yang kini sudah bersiap untuk melawan musuh mereka.


Keluarga Yola memang sengaja datang ke wilayah pemakaman karena mereka ingin memanfaatkan kesempatan tersebut. Mereka tahu kalau semua orang sedang terpuruk dan itu merupakan momen yang bagus untuk mengalahkan Eren dan juga yang lainnya.


"Bagaimana dengan Kak Elma. Aku juga sangat mengkhawatirkannya," bisik Eren kepada Zico.


Zico juga terdiam. Dia tahu kalau Rivan bukan pria yang hebat dalam bertarung. Jika saja musuh mereka ada yang tahu kalau kini Elma dan Rivan dalam perjalanan pulang maka hal itu bisa menjadi bumerang bagi mereka semua.


"Luis, kejar mobil Elma. Pastikan mereka dalam keadaan aman!" perintah Zico kepada Luis.

__ADS_1


"Tapi Bos. Bagaimana dengan anda? Saya ingin di sini membantu anda!" Luis terlihat tidak setuju dengan ide yang diberikan oleh Zico. Pria itu ingin menjaga dan memastikan Zico dalam keadaan aman.


"Pergilah. Hanya kau yang bisa kupercaya saat ini," ucap Zico lagi.


"Biar saya saja yang menjaga Nona Elma, Tuan," ujar Lusi menawarkan diri. Hal itu membuat Luis memandang ke arah Lusi. Entah kenapa tiba-tiba saja pria itu merasa khawatir jika harus Lusi yang turun tangan langsung untuk menjaga Elma.


"Saya permisi, Bos. Saya akan menjaga Nona Elma," ucap Luis. Pria itu pergi dengan tatapan tidak terbaca.


"Sebenarnya apa yang dia pikirkan?" umpat Lusi di dalam hati. Wanita itu menghela napas kasar sebelum memandang lagi ke depan dengan tatapan waspada.


"Mereka ahli dalam membuat bom jadi perhatikan setiap gerakan mereka. Benda sekecil apapun berpotensi menimbulkan ledakan."


"Kita harus membawa mereka pergi menjauh dari sini. Tempat seperti ini tidak pantas untuk dijadikan arena pertarungan." Zico menggenggam erat tangan Eren dan membawanya jalan ke depan. Mereka akan membawa musuh mereka menjauh dari lokasi pemakaman.


"Apa yang kalian inginkan?" Eren menatap satu persatu lawan di depannya. Wanita itu berharap bisa melakukan negosiasi agar tidak ada pertarungan di sana.


"Namanya Roxy. Dia kakaknya Yola. Dia pasti yang memimpin penyerangan hari ini," jelas Eren agar Zico mengerti dengan identitas lawan yang akan ia hadapi.


"Roger adalah orang yang harus bertanggung jawab atas kematian Yola. Bukankah kalian sudah berhasil membunuhnya? Lalu, kenapa kami harus terseret ke dalam masalah ini? Malam itu Yola sendiri yang datang mengantarkan nyawanya!"


"Kau pikir kau percaya dengan semua omong kosongmu?" sahut Roxy sambil tertawa meledek.


Zico melirik salah satu pria bersenjata di depannya. Dia fokus ke arah bola kecil yang ada di genggaman pria itu.


"Eren, pria nomor tiga dari kiri. Bukankah dia memegang bom?" bisik Zico.

__ADS_1


Eren memperhatikan pria yang dimaksud oleh Zico. Wanita itu menghela napas melihat bom yang sudah pasti tidak lama lagi akan dilempar ke arah mereka.


"Serang!" teriak Zico kepada anak buahnya. Sedangkan Eren belum memberi perintah apapun hingga anak buah miliknya masih berdiri pada posisinya berada. Termasuk Lusi.


Roxy menatap pria yang memegang bom. Lalu dia memberi perintah agar bom itu segera dilempar ke arah pasukan milik Zico yang ingin menyerang.


DUARRR DUARRR


Zico segera menembak tangan pria yang sedang memegang bola kecil tersebut. Hingga pada akhirnya bola itu terlepas dari genggamannya. Roxy dan pasukannya terbelalak kaget melihat bom itu jatuh ke tanah. Bom itu sudah di atur kalau akan meledak setelah lima detik menyentuh tanah.


"Berhenti!" teriak Zico.


Roxy dan pasukannya berlari untuk menyelamatkan diri. Zico tersenyum bahagia melihatnya. Tidak dengan Eren yang justru sudah tidak sabar untuk menghabisi Roxy dan anak buahnya.


DHOMMM


Bom itu meledak ketika Roxy dan pasukannya berhasil menghindar. Meskipun daya ledaknya tidak besar, tetapi bom itu bisa menewaskan puluhan orang yang ada di sekitarnya.


"Eren, biar aku yang mengatasinya. Kau jangan melakukan apapun!" perintah Zico lagi.


Eren hanya diam saja. Ketika Zico melepas genggamannya dia justru menatap ke arah Lusi yang masih setia mendampinginya.


"Lusi, sepertinya masalah di sini bisa di atasi. Bantu Luis menjaga Kak Elma. Aku mengkhawatirkan mereka," bisik Eren.


Lusi menatap Eren dengan wajah bingung. Namun memang sampai detik ini juga Lusi sangat mengkhawatirkan keselamatan Elma dan Rivan.

__ADS_1


"Baik, Bos. Jaga diri anda!" Lusi segera pergi meninggalkan Eren. Bersamaan dengan itu, Eren menonton suaminya yang kini bertarung dengan sengit melawan Roxy.


"Aku tahu, ini akan sulit. Tapi aku yakin kau pasti akan menang Zico."


__ADS_2