
Setelah mengucapkan janji suci. Akhirnya Elma dan Rivan resmi menjadi suami istri. Big Boss Turner terlihat bahagia dan bisa bernapas lega. Berbeda dengan Eren yang kini memandang kakak dan kakak iparnya dengan tatapan kosong. Tubuh wanita itu memang ada di dekat Elma, tetapi hati dan pikirannya ada di Jepang.
Big Boss Turner memperhatikan Eren sejak tadi. Pria itu mulai curiga. Dia tahu kalau ada yang disembunyikan putrinya saat ini.
"Elma, Rivan. Daddy senang bisa minat kalian menikah. Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Daddy harap kalian bisa hidup rukun dan bahagia. Saling mencintai dan menghargai satu sama lain."
"Daddy, cepat sembuh." Elma memeluk ayah kandungnya dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Rivan hanya berdiri di sana tanpa tahu berbuat apa. Perhatian pria itu juga tertuju pad adik iparnya yang kini terlihat sedih dan tidak bersemangat.
"Dad, aku permisi dulu ya. Aku ingin telepon Lusi," pamit Eren. Big Boss Turner hanya mengangguk saja. Dia juga harus memberi wejangan kepada pengantin baru yang ada di hadapannya itu.
Setibanya di depan, Eren memandang Jonnas yang kini duduk sambil memberi arahan kepada anak buahnya. Pria itu mengakhiri obrolannya melihat Eren ada di sana.
"Nona, ada yang bisa saya bantu?"
"Aku butuh bantuanmu." Eren mengatur napasnya lalu memandang Jonnas lagi. "Tapi Daddy tidak boleh tahu masalah ini. Aku tidak mau kondisinya semakin memburuk. Bukankah Daddy memiliki pasukan tersembunyi yang selalu bisa diandalkan kalau Daddy dalam keadaan mendesak? Dimana mereka? Apa mereka masih ada?"
"Tentu masih ada, Nona. Tetapi sekarang mereka tidak akan muncul karena memang Big Boss belum membutuhkan mereka," jawab Jonnas apa adanya. Eren mengangguk pelan lalu berjalan mendekatinya.
"Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan mereka. Sepertinya aku membutuhkan bantuan mereka."
Jonnas mengeryitkan dahinya. "Maaf, Nona. Sayangnya mereka hanya mau diperintah oleh Big Boss saja. Bahkan perintah saya saja tidak didengarkan oleh mereka." Dia menahan kalimatnya sejenak. "Kalau boleh saya tahu, masalah apa yang anda hadapi hingga anda memerlukan bantuan pasukan khusus, Nona?"
"Tidak ada." Eren masih belum mau mengatakan yang sebenarnya terjadi. Wanita itu mengambil ponselnya yang berdering. "Nanti kita lanjutkan lagi." Dia segera mengangkat panggilan masuknya sambil berjalan ke tempat yang jauh agar obrolannya tidak bisa didengar oleh Jonnas.
"Ada apa Lusi? Kenapa baru sekarang menghubungiku? Apa kau berhasil menemukan keberadaan mereka?"
"Aku sudah berhasil menemukan Luis, Bos. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Tuan Zico tidak. Dia di tahan oleh kelompok Yakuza. Ternyata informasi yang saya dapat itu benar. Tuan Zico benar-benar terlibat dengan kelompok Yakuza."
Eren diam sejenak sembari memikirkan nasip pria yang baru saja menikah dengannya itu.
"Bos, bagaimana kabar anda? Apa Big Boss sudah sembuh?"
"Belum. Kondisi Daddy semakin buruk. Hari ini pernikahan Kak Elma. Kau tidak memiliki waktu untuk menyelidiki Rivan karena terlalu fokus dengan penyakit Daddy. Jadi, aku serahkan saja semua kepada Tuhan. Semoga Rivan sudah berubah dan tidak menyakiti Kak Elma."
"Bos, lalu bagaimana sekarang? Luis tidak mau pulang. Dia ingin segera menolong Tuan Zico."
__ADS_1
"Memang sebaiknya seperti itu. Biar aku saja yang ke sana menemui kalian. Untuk saat ini, carilah tempat persembunyian yang aman." Eren memandang ke arah Jonnas yang sejak tadi menguping pembicaraannya. "Nanti aku telepon lagi." Wanita itu segera memutuskan panggilan teleponnya dan memasukkan ponselnya ke saku.
"Yakuza? Anda memiliki masalah dengan Yakuza, Nona?"
"Jangan sampai Daddy tahu masalah ini." Eren tidak bisa menghindar lagi. Dia sudah tertangkap basah.
"Tapi masalah anda bukan masalah sepele. Big Boss harus tahu karena ini menyangkut keselamatan putrinya sendiri." Jonnas berusaha memaksa Eren agar mau menceritakan masalah ini kepada Big Boss Turner.
"Bagaimana dengan kondisi Daddy yang sekarang?"
Jonnas juga terlihat bingung. "Ada satu cara. Tapi, berhasil atau tidaknya tergantung usaha anda, Nona."
"Apa? Cepat katakan!"
"Minta Big Boss Turner untuk mewarisi semua kekuasaan yang ia miliki kepada anda. Dengan begitu anda bisa memimpin pasukan rahasia yang selama ini dimiliki Big Boss Turner!"
"Maksudmu geng rahasia yang selama ini melindungi Daddy?"
Jonnas mengangguk saja. Sedangkan Eren memandang ke arah lain dengan tatapan penuh arti. "Kali ini aku harus berhasil!"
...***...
"Apa Kak Elma tidak kembali malam ini? Kenapa lama sekali?" ucap Eren mencoba untuk mencairkan suasana.
"Dia sudah menikah. Mau kemana Rivan membawanya, tidak perlu kau khawatirkan lagi. Dia juga wanita yang pintar."
Eren kembali diam. Tangannya berpindah dari kaki kanan ke kaki kiri. "Apa bagian sini sakit, Dad?"
"Jangan suka buang-buang waktu. Cepat katakan apa yang kau inginkan, Eren."
Eren menahan gerakannya. Wanita itu mengukir senyum terpaksa dibibirnya. "Daddy selalu tahu maksud hatiku." Eren mengangkat tangannya agar menjauh dari tubuh Big Boss Turner. "Oke, baiklah. Daddy juga tahu kalau aku bukan orang yang suka basa-basi."
"Apa ini soal Rivan?" tebak sang Ayah. "Kau masih mempermasalahkan kakak iparmu?"
"NO!" jawab Eren cepat. "Tidak ada hubungannya dengan pria itu. Kak Elma dan dia sudah menikah, jadi aku tidak memiliki kekuasaan lagi untuk melarang mereka berduaan." Wajah Eren kembali jutek ketika menyebut nama Rivan. Sampai detik ini ternyata dia belum rela jika Rivan menjadi kakak iparnya.
"Lalu?" Big Boss Turner mengeryitkan dahinya.
"Daddy, Aku harap Daddy tidak salah paham dengan perkataanku ini. Bukankah Daddy sudah tua? Ya memang Daddy belum bisa dikatakan tua karena Daddy belum memiliki cucu. Tetapi sebaiknya kekuasaan yang selama ini Daddy pimpin, serahkan saja kepadaku. Aku janji akan menjaganya dengan baik. Jika aku berhasil memimpin sekelompok pembunuh yang selama ini Daddy miliki, maka aku jamin aku akan jadi wanita tidak terkalahkan!" Eren menahan kalimatnya. "Maksudku aku jadi bisa melindungi keluargaku. Ya, itu maksudku. Aku dan Zico akan menjadi sepasang suami istri yang tidak terkalahkan. Tidak akan ada seorangpun yang berani mengusik kami. Tapi jika Daddy tidak setuju, aku juga tidak akan memaksa. Bagaimanapun juga mereka milik Daddy. Daddy yang sudah melatih mereka selama bertahun-tahun sampai mereka memiliki kemampuan yang hebat seperti itu."
__ADS_1
"Kau meminta Daddy menyerahkan Black Crystal?"
"Bukan. Aku tidak ingin harta Daddy!" sahut Eren cepat.
Big Boss Turner tertawa. "Ternyata sampai detik ini kau masih belum mengerti apa arti dari black Crystal?"
"Black Crystal bukan berlian kesayangan Daddy?" Eren semakin serius.
"Ya. Mereka memang spesial dan berharga seperti berlian. Karena tanpa perlindungan dari mereka mungkin Daddy tidak bisa duduk di depanmu seperti sekarang. Sejak dulu Daddy selalu memiliki musuh. Ada banyak sekali orang yang mengincar nyawa Daddy. Tetapi Daddy bisa melalui semua itu. Beberapa hari ini Daddy sempat memikirkan nasib Black Crystal. Daddy sudah sakit-sakitan dan sudah seharusnya ada pengganti Daddy agar mereka bisa memiliki pemimpin yang baru. Bukan Daddy tidak mau menyerahkan Black Crystal kepadamu. Tetapi mereka tidak sama dengan geng mafia yang selama ini kau pimpin. Mereka tidak bisa diatur sesuai dengan apa yang kau inginkan jika mereka tidak menyukaimu. Sekeras apapun usaha Daddy untuk membuat mereka tunduk di bawah pimpinanmu, tetap saja jika mereka tidak suka melihatmu maka mereka tidak akan mau menuruti perintahmu."
"Black Crystal ini sekelompok manusia kan, Dad? Bukan hewan buas?" tanya Eren untuk kembali memastikan.
"Ya. Mereka manusia. Tapi manusia-manusia pilihan yang sulit untuk diatur. Bahkan mereka tidak bersatu di satu tempat saja. Jika kau tanya Daddy sekarang di mana mereka berada, Daddy juga tidak tahu di mana. Mereka sangat jago dalam menyamar. Dengan cara itulah mereka melindungi Daddy selama ini."
Kali ini Eren mengerti kalau Black Crystal memang sangat spesial hingga membuat Eren semakin tertantang untuk memilikinya.
Eren menunduk dengan wajah sedih. Sepertinya harapan untuk menguasai Black Crystal tidak akan menemukan titik terang. Kini wanita itu memikirkan cara lain untuk menyelamatkan suaminya dari hukuman para Yakuza.
"Apa kau ingin menggunakan Black Crystal untuk mengalahkan Yola?" tebak si Daddy lagi.
"Sekarang masalahku bukan lagi dengan Yola. Tetapi dengan Yakuza!"
"Yakuza?" Big Boss Turner kaget bukan main ketika nama Yakuza terucap dari bibir putrinya. "Bagaimana bisa kau berselisih paham dengan para Yakuza. Setahu Daddy kau tidak pernah berangkat ke Jepang." Big Boss Turner masih tidak habis pikir.
"Sudah seperti ini. Jadi tidak ada lagi yang bisa aku tutupi dari Daddy. Aku akan menceritakan yang sebenarnya terjadi. Beberapa hari yang lalu saat aku menyelamatkan Kak Elma dan bertarung dengan Yola. Di hari itu juga Zico pergi berpamitan untuk mengalahkan musuhnya yang bernama Roger. Awalnya aku pikir pertarungan antara Zico dan Roger ini sama seperti pertarungan yang terjadi di antara aku dan juga Yola. Tetapi aku salah. Lusi pergi untuk menyelidiki semuanya dan dari informasi yang didapatkan oleh Lusi ternyata Zico dijebak oleh Roger. Roger ini putra dari pemimpin Yakuza yang ada di Jepang. Karena tidak memiliki persiapan yang matang akhirnya Zico tertangkap dan sekarang aku sedang memikirkan cara untuk menyelamatkannya. Aku juga tidak mau menjadi janda. Aku baru saja menikah dengannya bahkan belum mengenalnya lebih jauh." Eren harap penjelasannya ini bisa membuat sang ayah memberi solusi terbaik baginya. Pikiran Eren benar-benar buntuh.
Big Boss Turner kini ikut berpikir. Tentu saja dia tidak akan diam saja melihat putrinya akan bertarung dengan kelompok Yakuza yang terkenal kejam dan tidak memiliki hati itu.
"Daddy akan bicarakan masalah ini dengan Black Crystal. Semoga mereka mau mengerti dan mau bekerja sama denganmu."
Wajah Eren terlihat berseri mendengar perkataan Ayah kandungnya. "Terima kasih, Daddy. Aku senang mendengarnya. Aku harap Black Crystal mau bekerjasama denganku. Aku janji akan menjadi pemimpin yang bertanggung jawab!"
"Tetapi Daddy belum bisa menyerahkan Black Crystal kepadamu. Daddy hanya meminta mereka untuk membantumu. Semoga saja masalah ini membuat Black Crystal memihakmu dan mereka mau menjadikanmu seorang pemimpin."
"Aku akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin. Aku tidak akan mengecewakan Daddy. Aku janji."
Eren beranjak dari kursi yang ia duduki lalu ia segera memeluk Ayah kandungnya tersebut. "Daddy ... Cepat sembuh ya. Aku tidak mau Daddy sakit seperti ini. Jika Daddy sehat, Daddy juga bisa membantuku."
Big Boss Turner tersenyum mendengarnya. "Daddy tidak akan mati sebelum melihat putri Daddy bahagia dengan pria pilihan Daddy," gumamnya di dalam hati.
__ADS_1