Putri Tangguh

Putri Tangguh
Ada Jalan


__ADS_3

Zico mempercepat langkah kakinya ketika dia melihat beberapa bangunan rumah. Ternyata ada sebuah desa di depan sana. Pria itu berharap ada yang bisa menolongnya nanti. Eren sudah tidak bersuara lagi. Wanita itu benar-benar kedinginan. Dia hanya pasrah dan mempercayakan nyawanya terhadap Zico kali ini.


"Eren, kita pasti akan selamat," ucap Zico. Pria itu berjalan lebih cepat lagi hingga akhirnya mereka tiba di sebuah gerbang yang menjadi pintu masuk ke desa tersebut. Zico berdiri sejenak sebelum melangkah lebih cepat lagi. "Lihatlah. kita menemukan rumah. Kita bisa berlindung dari dinginnya salju di rumah itu." Pria itu berjalan menuju ke salah satu rumah yang ada di desa tersebut.


"Permisi! Apa ada orang di dalam?" Zico berusaha untuk berpamitan sebelum masuk. Karena tidak ada jawaban sama sekali, akhirnya Zico memutuskan untuk menerobos masuk.


Pria itu menurunkan Eren dan membaringkan Eren di atas ranjang kayu yang ada di dalam rumah tersebut. Tidak lupa ia menyelimuti Eren dengan jaket sebelum memperhatikan rumah itu.


"Dimana ini?" tanya Eren bingung. Dia berusaha untuk duduk namun lagi-lagi Zico menahan tubuhnya agar tetap berbaring.


"Sebaiknya kau istirahat saja. Aku akan mencari kayu agar kita bisa membuat api di sini."


Zico menunjuk ke tempat perapian yang ada di kamar tersebut. Dia merasa jauh lebih tenang sekarang. Solusi agar Eren tidak kedinginan sudah ditemukan. Pria itu tidak perlu khawatir lagi. Dia yakin setelah ini kondisi Eren akan kembali membaik.


"Jangan pergi jauh-jauh. Cepat kembali," ucap Eren masih dengan nada yang lemah.


"Baiklah." Zico segera pergi meninggalkan Eren. Pria itu menutup pintu rumah dengan rapat sebelum memeriksa rumah kosong yang lainnya.


"Apa dia sudah pergi?" batin Eren. Ketika Zico sudah menghilang, Eren berusaha untuk bangkit dan berdiri. Wanita itu juga tidak mau diam saja melihat suaminya kesulitan. "Rumah ini benar-benar menjadi penolong bagi kami. Setidaknya sekarang aku tidak merasa menggigil lagi." Eren segera meletakkan jaket Zico yang sejak tadi ia jadikan selimut di atas tempat tidur. Wanita itu berusaha untuk memeriksa keadaan rumah tidak berpenghuni tersebut.


Eren berjalan menuju ke kamar mandi. Wanita itu mengernyitkan dahi melihat air yang ada di sana sudah dalam keadaan beku.


Setelah memeriksa kamar mandi, Eren berjalan menuju ke dapur. Wanita itu tersenyum melihat ada kompor di dapur tersebut. Tanpa pikir panjang, ia segera menghidupkan kompor tersebut.


Wajahnya berseri ketika kompor itu masih bisa digunakan. Eren langsung meletakkan kedua tangannya di depan api yang menyala di atas kompor sambil tersenyum bahagia. "Setidaknya ada api yang bisa menghangatkan tubuhku saat ini."


Bersamaan dengan itu Zico muncul sambil membawa beberapa kayu yang ia temukan dari rumah kosong lainnya. Pria itu sempat khawatir ketika dia tidak menemukan Eren berbaring di atas tempat tidur.


"Eren!" teriak Zico. Eren segera mematikan kompor dan berjalan menuju ke tempat Zico berada.

__ADS_1


"Ada apa? Apa kau berhasil menemukan kayu?" tanya Eren sebelum duduk di kursi yang ada di dekat perapian.


"Kenapa kau turun? Bukankah aku sudah melarangmu?" Zico mulai merapikan kayu yang ia bawa.


"Maaf. Aku sudah merasa jauh lebih baik. Kenapa kayunya sedikit sekali?"


"Ya. memang hanya segini kayu yang kita miliki. Tapi setidaknya kayu ini bisa bermanfaat untuk menghangatkan tubuh kita. Apa kau baru saja memeriksa rumah ini?"


"Aku ingin memastikan kalau rumah ini aman bagi kita. Oh ya, di dapur ada kompor. Tadi aku sempat menghangatkan diri dengan api yang ada di kompor tersebut."


Zico berjongkok lalu menyusun kayu-kayu itu untuk dijadikan perapian. "Sebaiknya kau duduk saja di sini, biar aku yang bekerja."


"Baiklah," jawab Eren pasrah. Wanita itu duduk di salah satu kursi kayu yang ada di rumah tersebut sambil memandang Zico yang kini terlihat sibuk sendiri. "Kita hanya perlu menghidupkannya." Zico berdiri lalu merogok sakunya mencari sesuatu.


"Jika kau tidak mempunyai korek api, kau bisa menggunakan kompor itu untuk mendapatkan api," ucap Eren memberi solusi. Hingga akhirnya membuat Zico tersenyum. Pria itu segera berlari menuju ke dapur untuk mendapatkan api dari kompor.


Setelah hampir 5 menit berjuang, akhirnya perapian itu jadi juga. Kini Zico dan Eren duduk berdampingan di depan api untuk menghangatkan diri.


"Apa kau menyesal liburan denganku?"


Eren menggeleng kepalanya. "Aku sama sekali tidak menyesal. Semua ini terjadi juga karena kesalahanku. Kalau sejak awal aku memberitahumu kalau ada yang mencurigakan mungkin kita tidak sampai naik ke kereta gantung dan terjebak di atas dan masuk ke dalam jurang ini."


"Tetapi perapian ini juga tidak cukup menghangatkan kita sampai besok pagi. Jika dilihat kembali rumah ini juga tidak memiliki aliran listrik. Itu berarti nanti malam kita akan gelap-gelapan." Zico berusaha memberi tahu keadaan yang akan mereka hadapi nanti.


"Aku sama sekali tidak keberatan. Yang aku takutkan ada binatang buas di dekat sini. Desa ini seperti ditinggal secara tiba-tiba. Lihat saja dari perabotannya yang masih utuh. dan itu membuatku sedikit tidak nyaman. Pasti terjadi sesuatu sebelumnya hingga warga yang sempat tinggal di sini meninggalkan desa ini."


Zico juga memperhatikan keadaan rumah itu dengan seksama. Seperti yang dikatakan Eren sebelumnya, perabotan di dalam rumah yang kini mereka tempati memang masih utuh. Biasanya jika seseorang pindah rumah pasti dia akan membawa barang-barangnya ikut pindah juga.


"Oh iya, bukankah rata-rata perabotan di dalam rumah ini menggunakan bahan kayu? Kita bisa membakarnya untuk dijadikan api," ucap Eren dengan wajah berseri.

__ADS_1


"Kau benar!" Zico langsung beranjak dan mengumpulkan barang-barang berbentuk kecil yang terbuat dari kayu. Pria itu akan membakarnya hingga perapian mereka tidak akan pernah mati sampai besok pagi.


***


Malampun tiba. Eren dan Zico masih duduk di depan perapian. Cuaca semakin dingin. Mereka tidak mau pergi kemanapun lagi. Perut mulai lapar namun tidak ada yang bisa mereka makan saat itu. Eren sudah memeriksa ke dapur. Tidak ada bahan makanan yang bisa mereka jadikan makan malam. Kini sepasang suami istri itu hanya bisa menunggu bala bantuan datang.


"Eren, ceritakan padaku. Bagaimana kehidupan keluargamu. Dari apa yang aku dengar, keluargamu adalah keluarga yang harmonis. Apa memang seperti itu? Lalu sejak kapan kau mengenal dunia mafia?" Tiba-tiba saja Zico tertarik untuk mengetahui cerita masa lalu istrinya.


"Aku tidak tahu keluarga yang dikatakan harmonis itu keluarga seperti apa. Yang aku tahu, selama ini aku, Kak Elma dan Daddy saling menyayangi satu sama lain. Setelah mommy pergi, Daddy semakin protective terhadap kami. Lalu bagaimana denganmu? Soal Lyn?" Eren masih penasaran sebenarnya suaminya itu memiliki berapa adik. Apa memang hanya Lyn saja.


"Usia Lyn sama sepertimu. Jika dia masih hidup dia juga akan cerewet seperti kau ini," jawab Zico sambil tertawa kecil. Baru ini dia mengucapkan nama Lyn nama ada rasa penyesalan di dalam hatinya lagi. Biasanya ketika nama Lyn terucap, trauma itu kembali menyeruak hingga membuat Zico terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Aku yakin, dia adalah wanita yang cantik." Eren merangkul lengan Zico. Kini wanita itu sudah tidak canggung lagi ketika ingin dekat-dekat dengan suaminya.


Zico memandang Eren yang kini tersenyum bahagia. Pria itu juga ikut tersenyum. Eren merasa kalau sejak tadi Zico memandangnya. Wanita itu memiringkan kepalanya ke kanan dengan posisi sedikit mendongak.


"Ada apa?"


Zico memegang pipi Eren dan mengusapnya dengan lembut. Pria itu mengatur debaran jantungnya yang tidak karuan. Getaran cinta mulai tumbuh. Zico benar-benar kewalahan untuk mengendalikannya.


"Zico ...."


Zico menarik dagu Eren sebelum mendaratkan bibirnya di sana. Eren terdiam. Wanita itu meremas jaket Zico yang ada di sampingnya. Secara perlahan Eren memejamkan mata sebelum membalas ciuman suaminya.


Zico membimbing Eren agar duduk di atas pangkuannya. Mereka berdua berpangutan untuk waktu yang lama. Eren benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. Begitupun dengan Zico. Mereka terbawa suasana sampai-sampai lupa dimana kini merasa berada.


Zico menyudahi cumbuhan mereka ketika mendengar suara helikopter "Apa kau mendengarnya?"


Eren mengangguk. Ketika dia ingin menyingkir, tiba-tiba saja Zico menahan pinggangnya. "Kita harus memberi kode agar mereka tahu kalau kita ada di sini."

__ADS_1


Eren mengangguk lagi. Wanita itu ingin bangkit. Lagi-lagi Zico menahannya. Lalu menatapnya dengan serius. "Ada apa?"


"Aku mencintaimu...."


__ADS_2