
Eren segera duduk di atas tempat tidur dengan wajah khawatir. Wanita itu kembali bernapas lega ketika melihat Zico ada di hadapannya. Tanpa pikir panjang Eren segera memeluk Zico. Bahkan sangat erat hingga membuat Zico menahan sakit atas luka diperutnya yang ditekan oleh Eren.
"Aku baru saja mimpi buruk!" ujar Eren cepat. Dia masih memejamkan mata sembari mengatur napasnya.
"Mimpi buruk?" Zico mengusap punggung Eren. Dia masih berusaha menunggu istri tenang.
"Sangat buruk," sahut Eren. Dia melepas pelukannya lalu menatap wajah Zico. "Aku bermimpi kalau Daddy sudah tiada. Roxy datang menyerang kita. Lalu kau tertusuk belatih. Zico, apa aku tidur terlalu lama sampai bermimpi buruk seperti itu?"
Zico terdiam sejenak. Dia juga bingung harus menjelaskan darimana dulu. Pria itu tersenyum kecil lalu mengusap pipi istrinya. Dia mengambil segelas air yang ada di nakas dan memberikannya kepada Eren.
"Minumlah agar kau jauh lebih tenang."
Eren mengangguk sebelum meneguk air itu secara perlahan. Sambil meminum air dia memperhatikan tempatnya berada saat ini. Eren segera menurunkan gelasnya ketika dia tahu kalau kini sudah berada di rumah Zico.
"Kenapa kita di sini? Bukankah kita masih berlibur?"
Zico mengambil gelas di tangan Eren dan mengembalikannya ke nakas.
"Kau tidak bermimpi Eren. Semua memang terjadi. Daddy sudah tidak ada. Roxy memang sudah mencelakaiku. Tapi tusukannya tidak terlalu dalam hingga aku masih bisa terlihat baik-baik saja." Zico berusaha untuk menjelaskannya secara perlahan. "Kak Elma ada di rumah sakit. Dia memang membutuhkan perawatan dokter."
"Bagaimana dengan Roxy? Apa dia kabur?" Eren ingin tahu nasip orang yang sudah berhasil mencelakai suaminya.
"Aku berhasil mengalahkannya. Bahkan aku sendiri yang memastikan kalau dia sudah tidak bernyawa lagi. Aku sudah janji padamu untuk selalu melindungimu Eren. Dan sekarang aku sudah menepati janjiku."
Eren segera membuka kemeja hitam yang dikenakan Zico. Wanita itu ingin memeriksa luka di perut suaminya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" protes Zico.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Aku hanya ingin memeriksa luka diperutmu," protes Eren dengan tatapan sinis.
"Aku pikir kau-" Zico tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Apa?"
__ADS_1
"Merindukan sentuhanku," sahut Zico dengan senyuman licik.
Eren diam saja. Dia memegang perban di perut Zico dengan wajah sedih. "Apa benar baik-baik saja? Apa tidak sebaiknya kau istirahat saja?"
Zico memegang tangan Eren. Dia mengecup tangan wanita itu dengan mesra. "Ayo kita ke rumah sakit. Jangan pikirkan luka ini. Aku bisa menahannya."
Eren mengangguk setuju. Dia juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Elma. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan kakak kandungnya.
...***...
Luis dan Lusi duduk di kursi yang ada di depan tempat Elma di rawat. Di dalam ruangan itu sudah ada Rivan yang menjaga Elma. Mereka berdua tidak diizinkan oleh Zico untuk pulang. Zico berpesan agar mereka tetap di sana sampai dia dan Eren tiba.
"Tuan Zico terkena tusukan. Lalu seseorang memukul Bos Eren dengan balok kayu. Kenapa mereka berdua bisa seceroboh itu? Aku masih tidak menyangka kalau Bos Eren bisa ceroboh seperti ini!" protes Lusi. Rasanya dia tidak terima mendengar kabar kalau Eren sempat cedera.
"Entahlah! Bahkan Bos Zico bisa terkena tusukan. Lawannya itu anak kemarin sore. Bagaimana bisa dia kalah?" sahut Luis dengan wajah khawatir.
"Dia tidak kalah. Mereka menang. Roxy sudah tewas dan sepertinya keluarga Yola tidak akan berani mengusik ketenangan Bos Eren lagi karena satu-satunya orang yang selalu mereka handalkan hanya Roxy," jelas Lusi apa adanya.
"Baguslah." Luis mengusap wajahnya dengan tangan. Ketika memandang ke samping dia segera berdiri karena menyambut kedatangan Zico dan juga Eren.
"Dimana Kak Elma?" tanya Eren cepat.
"Ada di dalam. Nona Elma hanya demam biasa. Dokter bilang hari ini juga bisa pulang jika demamnya sudah turun dan di rawat di rumah, Bos." Lusi melirik ke perut Zico sejenak sebelum memandang Eren lagi. "Anda sudah sehat, Bos?"
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
"Kami juga baik-baik saja, Bos," jawab Lusi.
"Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam," ajak Eren. Wanita itu merangkul lengan suaminya dan membawanya masuk ke dalam ruangan tempat Elma di rawat.
Lusi memandang ke arah Luis sebelum masuk. Karena tadi Eren sempat meminta mereka berdua masuk, mau tidak mau Luis juga masuk ke dalam ruangan tempat Elma di rawat.
Eren mengukir senyuman lega ketika melihat Elma sudah duduk di atas tempat tidur. Rivan sedang menyuapi wanita itu untuk makan bubur.
__ADS_1
"Kakak!" Eren segera berlari. Dia melepaskan tangan Zico yang sempat di rangkul.
"Eren, akhirnya kau datang. Kakak sangat mengkhawatirkanmu." Elma juga segera menyambut pelukan Eren. Dua wanita itu terlihat saling berpelukan untuk melepas kesedihan mereka.
"Apa kakak baik-baik saja?" Eren berusaha memeriksa suhu tubuhnya. Tetapi memang wanita itu sudah tidak demam lagi.
"Kakak sudah sembuh. Dokter sudah mengizinkan kakak pulang." Elma menyelipkan rambut Eren di balik telinga. "Daddy sudah tidak ada. Sekarang hanya tinggal kita berdua. Kakak harap kita bisa selalu akur."
Eren mengangguk. Sebenarnya dia belum siap dengan kepergian ayah kandungnya. Tetapi mau bagaimana lagi? Tidak ada satu manusiapun yang bisa melawan takdir. "Setelah mempertemukan kita dengan pasangan kita yang sekarang, Daddy pergi. Sepertinya dia memang sudah punya firasat kalau dia tidak lama lagi," sahut Eren dengan wajah sedih.
Elma mendekati telinga Eren. "Kau dan Zico sudah dekat?"
Eren mengukir senyuman sebelum mengangguk malu-malu. "Bagaimana dengan kakak?"
Elma memandang ke arah Rivan sebelum tersenyum. "Sepertinya aku memang sudah jatuh cinta sejak pertama kali kami bertemu. Pernikahan kami berjalan dengan begitu indah."
Zico dan Rivan saling memandang. Mereka berdua hany bisa mendengar tanpa bisa ikut bergabung dengan obrolan istri mereka.
"Baga kalau kita segera hamil? Sepertinya akan sangat menyenangkan jika kita lalui kehamilan kita bersama-sama," tawar Elma. Dia sengaja mengatakan kalimat konyol seperti itu agar Eren tidak sedih lagi.
"Kakak, kakak apaan sih!" Eren menunduk sedih lagi.
"Eren, kita pasti bisa melewati semua ini bersama-sama." Elma memeluk Eren dan mengusap lengannya.
"Aku hanya sedang berpikir. Bagaimana caranya agar bisa segera hamil!" sahut Eren tiba-tiba hingga membuat Zico tersenyum.
Elma melebarkan kedua matanya. "Eren!" teriak Elma. Dua wanita itu tertawa lepas. Mereka memang lagi sedih karena baru saja kehilangan. Tetapi mereka berdua berusaha untuk saling menguatkan dan kembali bangkit. Mereka tahu kalau Daddy mereka juga tidak akan suka melihat mereka terus menerus menangis.
"Kak, ayo kita pulang," ajak Eren dengan rengekan.
Elma mengangguk. "Nanti kita tidur berdua ya?"
"Baiklah." Eren dan Elma berpelukan lagi. Masih ada genangan air mata di sana. Namun mereka berdua berusaha untuk kuat.
__ADS_1
"Daddy pernah bilang kalau dia tidak akan pernah mau pergi meninggalkan kami sebelum kami dewasa dan bertemu dengan sosok yang rela mengorbankan nyawanya demi kami. Tidak aku sangka, dia benar pergi setelah kami mendapatkannya. Dad, tenang ya di sana. Aku dan Kak Elma baik-baik saja. Suami kami sangat mencintai kami...."