Putri Tangguh

Putri Tangguh
Dia Zico?


__ADS_3

Eren akhirnya kembali tertidur ketika matanya dipaksa untuk terpejam. Wanita itu bangun lagi ketika jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Eren sempat kaget awalnya karena dia bangun kesiangan. Zico yang tadi malam ada di sampingnya juga sudah hilang entah kemana.


"Aku kesiangan," gumam Eren.


Wanita itu cepat-cepat turun dari tempat tidur. Lagi-lagi Eren menahan langkah kakinya ketika melihat Zico keluar dari kamar mandi. Pria itu menatap Eren dengan tatapan tidak terbaca. Dia melangkah mendekati posisi Eren kini berada.


"Kau sudah bangun?"


"Kenapa kau tidak membangunkanku?" Tatap Eren dengan wajah protes.


"Untuk apa aku membangunkanmu? Apa kau ini pekerja kantoran yang harus bangun pagi?"


Eren terdiam karena perkataan Zico ada masuk akalnya juga. Untuk apa dia bangun pagi sedangkan ia tidak terikat kontrak kerja dengan perusahaan manapun. "Menyingkirlah! Aku mau mandi," ketus Eren.


Lagi-lagi Zico menahan tubuh Eren dengan cara memegang tangannya. Dia berdiri di hadapan Eren lalu menatap wanita itu dengan begitu serius. "Bersiap-siaplah. Hari ini kita akan pergi untuk berlibur."


"Ke mana?" tanya Eren kurang setuju.


"Ke mana saja," jawab Zico tanpa beban. Pria itu segera pergi meninggalkan kamar. Eren masih berdiri di posisinya dengan wajah bingung. Lagi-lagi wanita itu berpikir kalau ada yang berbeda dari suaminya. Zico yang ia kenal adalah pria yang sangat dingin dan tidak memiliki perasaan. Bagaimana mungkin sekarang ia berkata dengan tutur kata yang sopan.


"Aku masih tidak percaya kalau dia adalah suamiku," gerutu Eren sembari berjalan ke kamar mandi.


Di luar, Zico berjalan menuju ke arah meja makan. Pria itu juga harus memeriksa masakan Luis pagi ini. Belum tiba di dapur saja Zico sudah ingin tertawa ketika ia membayangkan Luis memasak di dapur.


"Bos, anda sudah bangun?" sapa Luis. Pria itu sudah berdiri di pinggiran meja makan dengan pakaian yang sudah rapi.


Zico melirik ke arah meja makan yang kini dipenuhi dengan aneka makanan yang masih hangat. Pria itu melangkah lebih dekat lagi. Dengan cepat Luis menarik satu kursi untuk mempersilahkan Zico duduk di sana.

__ADS_1


"Apa Nona Eren tidak ikut sarapan bersama anda, Bos?"


"Dia baru saja bangun." Zico memperhatikan lagi makanan yang ada di meja. "Kau yang memasak semua ini?" tanya Zico tidak percaya. Tadinya dia hanya menghukum Luis untuk memasak satu jenis makanan saja. Tetapi kini justru ada beberapa jenis makanan yang sudah tersaji di meja makan.


"Ya, Bos. Saya yang memasak semua makanan ini. Saya harap anda menyukainya." Dari ekspresi wajah Luis sudah terlihat tidak menjanjikan. Namun sayangnya Zico tidak menyadari akan hal itu.


Zico mengambil sendok lalu mencicipi makanan yang paling dekat dengan posisinya. Pertama kali makanan itu masuk ke dalam mulutnya, wajah Zico terlihat tidak bersahabat.


"Memang masakan saya ini tidak seenak masakan koki yang biasa mengelola makanan di rumah ini, Bos. Tapi setidaknya saya sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik."


Perkataan Luis membuat Zico menjadi tidak tega untuk mengatakan kalau makanan itu sama sekali tidak enak. Tetapi justru karena makanan itu tidak enak, jadi Zico percaya kalau memang masakan itu dimasak oleh tangan Luis sendiri.


"Aku akan membawa Eren berlibur hari ini. Kau dan Lusi tidak perlu ikut. Kalian jaga rumah saja." Zico beranjak dari kursi itu. Pria itu tidak mau melanjutkan sarapan paginya karena memang makanan itu sangat tidak cocok dengan lidahnya. Meskipun begitu dia tidak mau menghukum Luis lagi.


"Saya akan tetap mengirimkan sniper untuk melindungi Anda, Bos," ucap Luis lagi. Pria itu tidak akan tenang jika membiarkan Zico pergi tanpa pengawasannya.


"Bukan begitu bos. Tetapi-"


"Siapkan mobil. Setelah Eren selesai mandi, kami akan langsung berangkat. Mungkin kami akan makan di luar saja. Masakanmu ini terlalu pedas!" Zico segera pergi meninggalkan dapur. Pria itu kembali masuk ke dalam kamar untuk menjemput Eren.


Luis tersenyum bahagia melihat Zico pergi meninggalkannya. Pria itu kembali mengingat perjuangannya ketika masak tadi pagi. Sebelum mulai memasak, Luis sempat menemui Lusi dan meminta solusi. Pria itu tidak mau sampai Zico kecewa dengan masakan yang nantinya dia buat.


Namun ketika Luis bercerita dengan Lusi, justru Lusi memberi solusi yang di luar dugaan. Wanita itu justru meminta Luis untuk memasak makanan yang tidak enak agar Zico dan Eren memutuskan untuk sarapan di luar. Meskipun awalnya ragu pada akhirnya Luis mengikuti saran yang diberikan oleh Lusi. Dan kini pria itu merasa senang karena rencananya berhasil. Dia yakin kalau setelah ini Zico tidak akan memintanya untuk memasak makanan lagi.


...***...


Eren duduk di depan meja rias sembari mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah. Wanita itu melirik Zico melalui cermin di depannya sebelum memandang ke arah lain.

__ADS_1


Zico memandang Eren lalu berjalan mendekatinya. Eren sempat bingung awalnya. Namun wanita itu berusaha memasang ekspresi tenang agar Zico tidak tahu kalau sebenarnya kini dia merasa gugup.


"Kita berangkat sekarang," ajak Zico.


Eren terlihat tidak setuju. Wanita itu mematikan hairdryer nya lalu beranjak. "Bagaimana dengan Lusi? Aku belum bertemu dengannya pagi ini."


"Lusi mengalami cedera akibat pertarungan tadi malam. Sebaiknya Kau tidak perlu menemuinya karena itu hanya akan mengganggu waktu istirahatnya saja."


"Apa kau ada di lokasi kejadian saat Yola ingin menyerang kami?" Eren segera menjauh dari kursi lalu berdiri di hadapan Zico. "Aku tidak ingat apapun. Bisakah kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi malam? Bagaimana dengan Yola? Apa dia kabur lagi seperti biasa?" Eren berharap besar kalau kini Zico mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Wanita itu sudah tewas di tangan Roger." Sebenarnya Zico malas sekali menyebutkan nama Roger. Namun mau bagaimana lagi? Dia harus memberitahu Eren Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.


"Roger ada di lokasi kejadian?" tanya Eren semakin bingung.


Wanita itu memandang ke samping sambil berpikir keras. Dia berusaha untuk mengingat apa yang terjadi tadi malam. Namun sekeras apapun usahanya tetap saja ia tidak bisa mengingat apapun. Pengaruh obat itu sungguh luar biasa hingga membuat Eren tidak mengenali dirinya sendiri.


"Apa kau mengkhawatirkannya?" tebak Zico asal saja. Ekspresi wajah Eren terlihat berubah ketika Zico membahas soal Roger.


"Aku senang karena akhirnya wanita itu lenyap dari muka bumi ini. Dengan begitu aku tidak perlu susah-susah memikirkannya. Tetapi kematian Yola juga bukan pertanda baik bagi kita. Keluarga besar Yola adalah gangster yang sangat kuat. Mereka tidak akan tinggal diam jika tahu Yola tewas di tangan kita."


"Wanita itu tidak tewas di tangan kita. Tetapi tewas di tangan Roger. Itu berarti Roger yang akan bertanggung jawab atas semua perbuatan yang sudah ia lakukan." Zico diam sejenak. Kini pria itu tahu tujuan utama Lusi meminta Roger untuk menghabisi nyawa Yola.


"Ya, kau benar. Kalau begitu sekarang aku bisa bernapas dengan tenang." Eren mengukir senyuman manis. Hal itu membuat Zico tersentuh melihatnya. "Bukankah tadi kau bilang kita akan pergi berlibur. Kita bisa berangkat sekarang. Aku sudah siap." Wajah Eren terlihat berseri. Zico merasa tidak sia-sia karena sudah mengajak Eren liburan hari ini.


Zico merapikan penampilannya lagi. Kebetulan ada cermin di depannya. Pria itu sedikit membuat ruang di lengannya agar Eren mau merangkulnya. Namun sepertinya Eren sama sekali tidak peka dengan kode yang diberikan oleh Zico. Wanita itu justru jalan sendirian ke depan dan meninggalkan Zico sendirian di dalam kamar.


"Bisa-bisanya dia pergi begitu saja!" Zico sendiri hanya menghela napas kasar sebelum mengikuti Eren dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2