Putri Tangguh

Putri Tangguh
Dia Lelaki Payah


__ADS_3

Elma akhirnya berhasil mendapatkan mobil untuk pergi. Wanita itu kini melajukan mobilnya sendiri sambil sesekali memperhatikan keadaan sekitar yang sudah sangat gelap. Elma tahu jika Eren dan Daddynya sampai tahu kalau ia kabur keluar kota, maka mereka berdua pasti akan marah besar. Namun Elma tidak memiliki pilihan lain saat ini. Dia butuh waktu untuk sendiri. Meskipun ia tidak pernah berpacaran apalagi sampai jatuh cinta kepada pria, tetapi tetap saja ia merasa sakit hati ketika tahu calon suaminya tidak hadir di acara pernikahan. Bahkan sudah menghamili seorang wanita.


Elma ingat akan tempat yang cocok untuk dijadikannya tempat untuk bersembunyi. Lokasinya ada di tengah hutan. Pada saat malam hari memang tempat itu terlihat sangat menyeramkan. Tetapi ketika siang hari suasana di sana bisa menjadi tempat yang begitu menyenangkan.


Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, Elma akhirnya tiba di hutan yang akan menjadi tempatnya untuk beristirahat. Wanita itu sedikit ragu melihat hutan yang kini gelap gulita. Biasanya ia selalu datang ke tempat itu bersama dengan Eren. Tetapi kali ini dia harus datang sendirian tanpa persiapan apapun.


Elma memberhentikan mobilnya di jalanan yang ada di hutan tersebut. Kini wanita itu tidak bisa melajukan mobilnya lebih jauh lagi karena jalannya sudah berakhir. Elma harus turun dan jalan kaki menuju sebuah rumah yang tidak jauh dari posisinya berada.


Ketika ingin membuka pintu, tiba-tiba Elma dibuat kaget melihat kemunculan seorang pria yang kini mengetuk-ngetu kaca mobilnya. Elma yang panik tidak jadi membuka pintu. Dia terus saja memandang pria yang kini mengetuk pintu mobilnya dan memohon untuk segera membukakan pintunya.


"Siapa dia? Kenapa dia bisa ada di sini? Apa dia orang jahat?" tanya Elma di dalam hati. Wanita itu terus saja memandang pria tersebut tanpa mau membukakan pintu.


"Tolong bukakan pintunya. Tolong aku." Pria itu mengatupkan tangannya dengan wajah memohon. Elma menghela nafas sambil memejamkan mata. Wanita itu tidak pernah tega melihat orang lain menderita. Meskipun kini keputusan yang ia ambil sangat beresiko, tetapi pada akhirnya Elma membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan pria itu untuk masuk ke dalam.


"Terima kasih. Terima kasih," ucap pria itu setelah dia berhasil masuk ke dalam mobil Elma. Pria asing itu bersandar sambil mengatur napasnya. Dia terlihat pucat seperti kehabisan cairan. Elma berinisiatif untuk memberikan pria itu sebotol air mineral.


"Siapa kau? Kenapa kau bisa ada di tempat ini?" Secara diam-diam Elma memegang belati yang selalu disimpan Eren di samping jok. Senjata itu bisa bermanfaat jika dalam keadaan mendesak.


"Aku diculik dan dibuang di tempat ini. Aku sudah berulang kali mengitari tempat ini tetapi tidak juga menemukan jalan keluar," ucap Pria itu sebelum meneguk air minum yang baru saja diberikan oleh Elma.


"Bukankah di tengah hutan ada sebuah rumah? Di sana fasilitasnya sangat lengkap. Kau bisa menggunakan alat-alat yang ada di dalamnya untuk bertahan hidup," ucap Elma dengan penuh percaya diri. Karena sekarang tujuan wanita itu juga ke rumah tersebut.


"Rumah?" Pria itu diam sejenak sambil berpikir. "Ha ya, Rumah yang baru saja terbakar itu bukan?"


"Baru saja terbakar?" pekik Elma sambil melebarkan kedua matanya. Padahal wanita itu juga ingin mengunjungi rumah itu. Tetapi sekarang dia mendapat kabar buruk.


"Ya. Awalnya aku juga senang bisa melihat rumah itu. Aku berlari untuk menghampirinya. Tapi tiba-tiba saja api menyala dengan begitu besar dan melahap rumah itu hingga habis. Aku sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan rumah itu terbakar. Tapi melihat lokasi rumah itu yang ada di tengah hutan, sepertinya seseorang sengaja membakar rumah tersebut. Tidak mungkin rumah itu terbakar secara tiba-tiba."


Wajah Elma berubah menjadi tidak semangat. Sekarang wanita itu tidak tahu harus ke mana lagi karena jika ia menginap di hotel keberadaannya akan mudah dilacak oleh Eren.

__ADS_1


"Kenapa kau harus ada di hutan semalam ini. Apa yang terjadi? Bukankah tempat ini sangat menyeramkan?" tanya pria itu penasaran.


"Aku ingin menenangkan diri. Aku butuh tempat yang sangat sunyi dan pastinya jauh dari keramaian," ucap Elma tanpa memandang.


"Dilihat dari penampilanmu sepertinya kau ini baru saja patah hati, bukan? Apa pacarmu baru saja memutuskan hubungan kalian?" tebak pria itu asal saja.


"Itu bukan urusan anda!" Elma ingin menghidupkan mobilnya dan pergi meninggalkan hutan namun wajah wanita itu terlihat kebingungan ketika mobilnya tidak bisa hidup lagi. "Apalagi sekarang?" gumamnya di dalam hati.


"Apa ada masalah?" tanya pria itu juga dengan wajah yang bingung.


"Mobilnya tidak bisa hidup lagi," jawab Elma dengan wajah polosnya.


Pria itu terlihat tidak tahu harus berbuat apa. "Tapi aku juga tidak tahu tentang mobil. Maafkan aku. Kali ini aku tidak bisa membantumu."


Elma bersandar lalu menghela nafasnya. Ia tidak menyangka akan terjebak dengan pria asing di dalam hutan seperti ini.


Pria itu geleng kepala dengan tatapan tidak setuju. "Di luar sangat dingin. Aku tidak mau tidur di luar. Aku tidur di sini saja. Aku janji tidak akan mengganggumu." Pria itu memperlihatkan wajah yang bersungguh-sungguh.


"Tidak bisa. Aku tidak bisa percaya dengan orang asing. Apa lagi seorang pria."


"Kalau begitu hanya satu solusinya. Sebaiknya kita berdua tidak tidur sampai pagi. Aku tidak mau keluar karena aku takut dengan binatang buas."


Elma lagi-lagi mengatur napasnya ketika melihat tingkah laku pria yang ada di sampingnya. Pria itu sama sekali tidak bisa di handalkan. Elma sendiri saja jauh lebih berguna daripada pria yang kini duduk di sampingnya.


"Kalau begitu, bantu aku memperbaikinya!" Elma membuka pintu mobil.


"Apa yang mau kau lakukan?"


"Aku akan memeriksa mesin mobilnya. Apa kau bisa mengemudikan mobil?" Elma masih menahan kakinya.

__ADS_1


"Ya. Tentu saja aku bisa mengemudikan mobil," jawab pria itu dengan penuh percaya diri.


"Bagus. Setidaknya kau sedikit berguna," ucap Elma sebelum turun.


Pria itu mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Elma. "Apa kau bilang?" teriaknya sedikit protes. Namun ia tidak bisa marah-marah karena kini posisinya Elma adalah malaikat penolongnya.


Elma memeriksa mesin mobil dengan begitu teliti. Namun wajahnya terlihat frustrasi ketika ia tidak menemukan kesalahan di sana. Hingga akhirnya wanita itu bersandar di depan mobil sambil memandang kegelapan yang ada di depannya.


"Hari ini aku sial sekali. Sudah tidak jadi menikah. Terjebak di hutan pula ... sama pria asing lagi!" gumamnya di dalam hati. "Padahal selama ini aku tidak pernah menyakiti orang lain. Aku selalu menjaga perasaan orang lain. Kenapa tiba-tiba aku diberi hukuman seperti ini?"


Pria tadi keluar dari mobil lalu mendekati Elma. Dia tahu kalau mereka tidak akan bisa kembali karena Elma gagal membetulkan mobil.


"Kita belum kenalan. Siapa namamu?" tanya pria itu sambil mengulurkan tangannya.


"Namaku Elma," jawab Elma apa adanya.


"Elma? Kenapa namanya mirip dengan wanita yang akan aku nikahi hari ini. Tapi jika dilihat dari satu sikapnya ia sama sekali tidak mencerminkan kalau seorang putri mafia. Bukankah biasanya Putri mafia terkenal kasar. Aku yakin kalau wanita ini berbeda dengan Elma yang akan aku nikahi hari ini. Tapi bagaimana nasib wanita itu jika aku gagal menikah dengannya. Mereka pasti akan marah-marah kepada keluargaku. Tapi ada untungnya juga karena aku gagal menikah dengan wanita pilihan mama dan papa. Setidaknya kini aku menemukan wanita cantik yang baik hati sesuai dengan kriteriaku," ucap pria itu dengan penuh berbangga diri. "Kau tidak ingin bertanya siapa namaku?"


Elma memandang pria itu sejenak sebelum memandang ke depan lagi. "Siapa nama anda, Tuan?"


"Namaku ...." Lagi-lagi pria itu menahan kalimatnya. "Aku tidak mungkin memberitahu wanita ini kalau namaku adalah Rivan Johnson. Aku juga belum tahu sebenarnya tujuan wanita ini apa. Bisa jadi ia komplotan dari penculik yang sudah membawaku ke sini. Untuk jaga-jaga sebaiknya aku simpan identitasku," gumam pria itu di dalam hati.


"Apa kau lupa dengan namamu sendiri?" celetuk Elma tanpa memandang.


"Tentu saja aku tidak lupa. Tapi aku malu untuk menyebutkannya. Aku yakin kau akan tertawa geli ketika mendengarnya nanti. Dan itu membuatku malu."


"Aku janji tidak akan tertawa ketika mendengarkannya. Sekarang cepatlah katakan siapa namamu." Elma memandang pria itu dengan serius.


"Namaku Gato."

__ADS_1


__ADS_2