
"Tidak. Aku tidak mau!" tolak Eren mentah-mentah. Jangankan sampai melakukannya. Masih membayangkannya saja sudah membuatnya geli. "Bukankah kau ini tidak suka bersentuhan dengan wanita? Kenapa sekarang kau ingin melakukan hal seperti itu? Apa prinsipmu ini sudah goyah sejak kau menyadari kalau istrimu ini ternyata sangat cantik dan menggoda?" Eren sebenarnya sudah kebingungan saat ini. Namun dia masih berusaha untuk membuat Zico melupakan keinginannya.
"Ya. Aku memang tidak suka di sentuh oleh wanita. Tapi kau istriku. Aku harus memilikimu sebelum orang lain yang merasakannya!"
PLAKKKK
Sebuah tamparan keras mendarat cantik di pipi Zico. Eren benar-benar tersinggung mendengarnya.
"Kau! Berani sekali kau menamparku!" ketus Zico mulai emosi.
"Itu belum seberapa. Mulutmu ini perlu diberi pelajaran agar tidak mengucapkan kalimat menyakitkan yang bisa melukai perasaan orang lain!" Eren mengepal kuat tangannya. Jika saja pria yang berdiri di hadapannya bukan suaminya sendiri, mungkin dia sudah membunuh pria itu dengan belatih.
"Kau sakit hati? Dimana letak perkataanku yang menyakiti hatimu? Aku ini suamimu. Aku meminta hakku sebagai seorang suami. Kenapa kau bilang aku menyakitimu?" Zico sama sekali tidak merasa bersalah.
"Tidak ada cara lain. Aku harus kabur dari kamar ini. Apapun caranya!" gumam Eren di dalam hati. Wanita itu tiba-tiba saja menendang perut Zico. Lalu dia berputar untuk kabur dari sana.
Tetapi dengan cepat Zico memegang tangan Eren. Hingga pada akhirnya pertarungan antara suami istri itu pun terjadi. Suasana kamar yang tadinya nyaman dan damai kini berubah menjadi arena pertarungan.
"Berhentilah!" ujar Zico mulai lelah. Pria itu bisa saja mengalahkan Eren. Tetapi dia tidak mau menyakiti istrinya.
"Tidak!" ketus Eren. Dia masih berusaha untuk mengalahkan Zico agar bisa kabur. Hingga pada akhirnya Zico berhasil mengangkat tubuh Eren dan meletakkannya di atas pundaknya.
"Lepaskan. Zico Rodriguez! Aku akan membalasmu!" teriak Eren. Dia terus saja berontak agar Zico menurunkannya.
Zico menekan titik saraf Eren agar Eren tidak bisa berontak lagi. Walaupun begitu, Eren tetap bisa berbicara. Bahkan berteriak. Hingga membuat telinga Zico terasa sakit.
"LUSI! TOLONG AKU! LUSI!"
Mendengar keributan dari lantai atas membuat Luis dan Lusi keluar dari kamar mereka masing-masing. Tanpa pikir panjang mereka segera naik ke tangga. Namun, setibanya di depan kamar Luis justru memegang tangan Lusi agar tidak mendobrak pintu kamar tersebut.
__ADS_1
"Kenapa kau menghalangiku? Bos Eren meminta bantuanku," ketus Lusi.
"Tapi di dalam ada Bos Zico. Bagaimana kalau ini hanya perkelahian dalam rumah tangga?" Luis masih ragu-ragu untuk mendobrak pintu. Dia takut melakukan kesalahan.
"Hei, jangan selalu mengandalkan Tuan Zico. Bagaimana kalau Tuan Zico sudah tidak sadarkan diri?"
Luis kali ini setuju dengan pemikiran Lusi. "Baiklah. Kita dobrak pintu ini bersama-sama."
Lusi mengangguk. Dia mengumpulkan seluruh tenaganya sebelum sama-sama mendobrak pintu kamar itu. Hanya sekali dorongan saja pintu itu berhasil dibuka.
Lusi dan Luis segera memutar tubuh mereka ketika mereka melihat pemandangan yang tidak layak untuk di lihat.
"Maaf, Bos," ucap Luis menyesal.
"Berani sekali kau menerobos masuk tanpa izin dariku, LUIS!" teriak Zico.
Saat itu posisinya Zico ada di atas tubuh Eren. Memang mereka masih menggunakan busana. Namun, dari posisi mereka berdua di atas ranjang, Luis dan Lusi sudah tahu kira-kira apa yang ingin dilakukan oleh sepasang suami istri tersebut.
Lusi memejamkan matanya karena bingung. Saat ingin berputar tiba-tiba saja Luis memegang tangan Lusi dan membawanya keluar kamar. Mereka tidak lupa untuk menutup pintu kamar itu agar tertutup rapat lagi.
"Aku harus menolong Bos Eren," ucap Lusi kesal.
"Mereka sudah menikah. Aku yakin Bos Zico tidak akan menyakiti Nona Eren. Percayalah padaku."
Lusi memandang ke arah pintu lagi. Dengan berat hati wanita itu ikut dengan Luis untuk pergi menjauh dari kamar itu.
Eren memandang wajah Zico yang kini menatapnya dengan serius. Meskipun pria itu belum melakukan apapun, tetap saja sudah membuat Eren merasa ketakutan.
"Please, jangan lakukan ini. Beri aku waktu. Aku belum siap," bujuk Eren berharap Zico mau mengerti dan tidak memaksanya.
__ADS_1
"Sepertinya dia benar-benar ketakutan. Aku sudah terlalu kasar padanya," gumam Zico di dalam hati. Pria itu segera duduk di tepian ranjang. Dia sudah membuat Eren bisa bergerak bebas seperti semula.
Eren juga duduk di samping tempat tidur. Wanita itu mengatur napasnya yang terputus-putus. "Aku tahu perbuatanku ini salah. Tidak seharusnya aku menolakmu. Tapi ... seumur hidupku aku belum pernah sedekat ini dengan seorang pria. Entah seperti apa yang kini aku rasakan ketika tadi kau memaksaku untuk melakukannya. Aku tahu kalau aku ini istrimu. Aku janji akan menjaga harga dirimu sebagai suamiku." Eren memandang ke arah Zico. "Kita tidak saling kenal sebelumnya. Bagaimana kalau mulai sekarang kita belajar untuk saling mengenal satu sama lain?"
Zico mengernyitkan dahi mendengar ide yang dikatakan oleh Eren. "Baiklah. Maafkan aku karena sudah memaksamu tadi. Aku terlalu emosi ketika mengingat perkataan Roger di tebing tadi. Sekarang pergilah mandi. Kau bisa istirahat di kamar bawah. Biar aku saja yang tidur di kamar yang sudah berantakan ini."
Eren mengangguk. Wanita itu melangkah menuju ke tangga yang akan menghubungkannya ke kamar bawah. Eren sekarang merasa jauh lebih tenang dan lega karena sudah berhasil bicara dari hati ke hati.
"Ternyata dia tidak sejahat yang aku pikirkan," gumam Eren di dalam hati.
...***Lusi masih terus saja memandang ke belakang karena mengkhawatirkan keadaan Eren. Meskipun sekarang bosnya itu berada satu kamar dengan suaminya sendiri, tetapi tetap saja ia merasa tidak percaya. Ingin sekali ia segera membebaskan Eren dari kamar itu....
Berbeda dengan Luis yang terus saja berjalan dengan santai. Pria itu yakin kalau bosnya tidak akan mungkin melukai Eren. Karena sejahat-jahatnya Zico tidak akan mungkin tega untuk melukai wanita yang sudah ia nikahi.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan Nona Eren karena dia akan baik-baik saja di dalam kamar itu." Luis berjalan menuju ke arah mini bar yang tidak jauh dari tangga.
"Kenapa kau bisa bicara seperti itu?" tanya Lusi. Wanita itu segera mengikuti Luis dari belakang. "Oh iya kalau aku boleh tahu. Apakah kau sudah lama ikut dengan Tuan Zico?"
"Ya. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah lama ikut dengan Nona Eren."
"Aku sudah cukup lama ikut dengan Nona Eren. Maka dari itu aku sangat kaget ketika mendengar kabar kalau dia akan menikah dengan Tuan Zico karena memang selama ini yang aku tahu dia tidak pernah dekat dengan pria manapun."
"Kalau begitu sama seperti Bos Zico. Dia juga tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Selama hidupnya hanya ia habiskan untuk melindungi dirinya sendiri dari bahaya. Dia memiliki banyak sekali musuh. Roger hanya salah satunya saja. Bahkan tidur saja dia tidak pernah nyenyak. Bagaimana mungkin dia bisa memikirkan seorang wanita dan menjalin hubungan serius dengannya. Aku sendiri sempat tidak yakin kalau Bos Zico akan menikah. Tadinya aku pikir Bos Zico akan menikah dengan putri seorang pengusaha sukses atau wanita sederhana.Tetapi ternyata Bos Zico menikah dengan Putri seorang mafia besar. Bisa dikatakan Aku tidak terlalu senang awalnya. Bukan karena aku tidak menyukai Nona Eren, tetapi aku mengkhawatirkan keselamatan Bos Zico. Kau pasti tahu sendiri persaingan dalam dunia mafia sangat kejam. Tadinya aku berpikir kalau wanita yang dinikahi Bos Zico sudah menjalin hubungan dengan pria lain dan pria lain itu tidak suka dengan pernikahan mereka. Bukankah ini akan menimbulkan masalah baru? Tetapi setelah aku tahu cerita yang sebenarnya aku tidak lagi mempermasalahkannya. Justru sekarang aku mendukung pernikahan Nona Eren dan juga Bis Zico." Luis menuang anggur merah ke dalam gelas kristal masih kosong lalu ia meneguknya secara perlahan. Setelah itu ia juga menuang ke arah gelas yang ada di dekat Lusi lalu memberikannya kepada Lusi.
"Terima kasih," ucap Lusi. "Kalau aku pikir-pikir lagi sepertinya mereka berdua sangat cocok. Tapi sayang mereka berdua begitu keras kepala hingga akhirnya mereka sulit untuk bersatu." Lusi juga meneguk minuman yang baru saja diberi oleh Luis.
"Tapi aku yakin suatu saat nanti mereka pasti akan bersatu menjadi sepasang suami istri yang harmonis. Momen seperti itu sangat aku nanti-nanti karena aku ingin melihat Bos Zico tersenyum dan hidup dengan tenang layaknya orang normal. Tidak lagi berada dalam ketakutan karena terus-menerus memikirkan musuh yang mengincar nyawanya."
"Ya. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka," ucap Lusi sambil tersenyum.
__ADS_1
Luis membalas senyuman Lusi sebelum memandang ke arah lain. Sekarang pria itu tidak merasa sendiri lagi karena ketika menjaga Zico, sudah ada Lusi di sampingnya yang akan selalu mendengar cerita yang selama ini tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun.