
Kini di pikiranku hanya ada satu, aku ingin mengetahui siapa sebenarnya jodohku. Apakah Rain? Cloud? Atau Zu? Atau jangan-jangan malah Xi, pangeran dari Negeri Arthemis itu?
Sungguh rahasia Ilahi memang tidak bisa diduga ataupun diprediksi. Aku sendiri kelimpungan memikirkan hal ini. Entah siapa yang akan menjadi ayah dari anak-anakku, satu hal yang kupercaya dan yakini sampai saat ini jika Tuhan sudah menuliskan sesuatunya berpasangan. Begitu juga denganku.
"Rain, Cloud, sedang apa kalian?"
Aku memiringkan badan dan melihat gulingku sendiri. Kupeluk bak memeluk Rain dan Cloud bersamaan. Rasa rindu ini ternyata harus ditepiskan karena urusan kerajaan. Dan aku harus dapat menerimanya. Aku harus menyadari jika mereka juga mempunyai urusan yang tidak bisa ditinggalkan.
"Tidur sajalah."
Acara pesta ulang tahun putri negeri ini sudah usai. Aku tidak terlalu mengikutinya karena sibuk dengan urusanku sendiri. Dan kini aku akan memejamkan mata untuk beristirahat sejenak dari lelahnya aktivitas hari ini. Aku harap esok hari akan lebih baik lagi. Ya, semoga saja. Doaku untuk semua yang membaca kisah ini.
Esok harinya...
Suara burung bersiul di depan jendela kamarku. Suaranya terdengar imut sekali. Mungkin dia adalah anak burung yang baru bisa bersiul dan meramaikan pagi. Aku pun lekas bangun dan membuka jendela kamarku. Dan ternyata ada seekor burung pipit yang singgah di sini. Dia amat cantik dengan bulu yang seperti pelangi.
__ADS_1
"Hei, selamat pagi. Warnamu indah sekali."
Aku mencoba mengajaknya bicara. Dan dia terus saja bersiul untukku. Senang rasanya walau tak mengerti bahasanya. Melihatnya bisa terbang bebas saja sudah luar biasa. Meramaikan suasana pagi di istana ini. Aku pun mencoba untuk menyentuhnya.
"Eh, dia terbang!"
Ternyata burung pipit ini hanya sekedar ingin membangunkanku. Dia tidak ingin kusentuh. Setelah pergi jauh, dia pun terbang melalang buana di angkasa. Aku pun tersenyum melihatnya.
"Eh, ada yang mengetuk pintu?"
"Siapa ya?"
Lekas saja aku beranjak membukakan pintu yang jaraknya tidak jauh dari jendela kamarku. Kugulung rambutku lalu bergegas membukakannya. Dan ternyata, Lara lah yang datang ke kamarku.
"Lara?" Aku terheran melihat kedatangannya. Tapi kulihat dia tampak cemas pagi ini.
__ADS_1
"Nona, boleh saya masuk?" tanyanya padaku.
Aku mengangguk. Segera mempersilakannya masuk. Tak tahu ada apa gerangan dia pagi-pagi datang ke kamar ini, aku terima saja. Mungkin ada sesuatu hal yang ingin dia sampaikan padaku.
Beberapa menit kemudian...
Jendela sengaja kubiarkan terbuka agar angin pagi masuk dan bersikulasi di kamarku. Aku pun duduk di kursi panjang bersama Lara. Aku ingin mengetahui apa alasannya pagi-pagi datang ke kamarku.
"Nona Ara, sebenarnya saya ingin mengatakan sesuatu pada Nona." Dia membuka pembicaraan pagi ini.
Wajahnya tampak cemas sekali. Entah apa yang terjadi padanya semalam, aku juga tak tahu. Karena selepas bicara dengan Zu, aku segera kembali ke kamarku. Itu pun diantarkan olehnya. Dia tidak mengizinkanku untuk mengikuti pesta sampai selesai. Dan memintaku untuk segera beristirahat saja.
"Ada apa, Lara? Katakan saja," pintaku.
Lara menelan ludahnya. Dia seperti harap-harap cemas mengatakannya padaku. Kulihat dia juga mengambil napas dalam-dalam sebelum memulai pembicaraan ini.
__ADS_1