PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Mata Batin


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Aku duduk bermeditasi di depan teras istana ruang rawat ratu ini. Mencoba menyelaraskan frekuensi dengan alam semesta raya. Kuhirup udara pagi sambil membayangkan apa yang terjadi di istana ini. Dan tak lama kemudian aku berhasil memasuki alam bawah sadarku dalam beberapa kali helaan napas. Aku pun membiarkan alam semesta menuntunku.


"Ini?"


Tak berapa lama aku seperti berada di sebuah ruangan yang berwarna abu-abu. Aku pun melihat siluet istana ini. Di mana aku hanya bisa melihat gambar hitam dari apa yang ada di hadapanku. Aku pun melihat ada burung gagak yang singgah di atas istana ini. Tepatnya di atas kamar ratu. Aku juga seperti melihat ratu di sana dikarenakan dia bermahkota. Dan tak lama gagak yang berada di atas atapnya pun berbunyi keras. Membuat ratu merasa terganggu dengan suaranya. Ratu pun mencoba keluar dari kamar untuk melihat keadaan di luar.


"Astaga!"


Saat itu juga burung gagak itu menyerang ratu. Seperti memang sengaja menunggu ratu keluar dari kamarnya. Dan tak lama ratu pun tidak sadarkan diri. Dia terjatuh di teras kamarnya sendiri. Para pelayan pun mulai berdatangan dan membawa ratu kembali masuk. Tabib istana juga didatangkan. Tapi ternyata saat ratu tersadarkan, ratu tidak menjawab apa-apa. Dia seperti merasa baik-baik saja.

__ADS_1


"Hah ... hah ...."


Aku pun kembali tersadar dari apa yang kulihat ini. Seperti biasa, napasku terengah-engah seperti habis berlari. Dan ya, keringat juga mulai bercucuran dari keningku. Seperti berusaha keras untuk mengetahui apa yang terjadi. Padahal yang kulihat di depan mata hanya tampilan siluetnya saja. Tidak seperti sebelumnya yang jelas dan terang benderang.


"Ini aneh. Seperti ada kekuatan yang menghalangiku untuk melihat kejadian yang sebenarnya."


Lantas aku pun beranjak berdiri lalu menemui ratu yang sedang ditunggu oleh pelayan dan juga tabib istana. Aku mencoba mengecek sendiri tubuhnya. Tabib dan pelayan yang berjaga pun mengizinkannya. Lalu kemudian...


Saat mencoba mengecek denyut nadi ratu, saat itu juga jariku seperti tertusuk duri yang tajam. Kulihat jariku tapi ternyata tidak ada darahnya. Apakah ini hanya sebatas perasaanku saja? Atau memang yang sebenarnya? Tidak salah lagi jika ratu terkena sihir lewat perantara burung gagak itu. Aku pun mencoba menanyakan kebenaran ratu pingsan kepada tabib istana.


"Tabib, apakah benar Yang Mulia pernah tidak sadarkan diri sebelumnya?" tanyaku pada tabib yang berjaga.

__ADS_1


"Benar, Nona. Dari mana Nona tahu?" jawab tabib itu.


Seketika aku menelan ludahku. Ternyata kebenaran itu kudapatkan pagi ini. "Apakah di sini ada pohon ara?" tanyaku lagi kepada tabib yang berjaga dengan menjaga sedikit jarak dari ratu agar tidak terganggu istirahatnya.


"Pohon ara? Maksud Nona pohon surga?" Tabib balik bertanya padaku.


Aku mengangguk. Kulihat tabib pun seperti cemas sendiri. "Kami pernah mencoba menanamnya waktu itu, Nona. Tapi ternyata tidak bisa tumbuh di sini. Hanya Angkasa saja yang memilikinya. Bahkan pihak Angkasa juga sulit untuk mendapatkan buah atau daunnya. Hanya orang tertentu saja yang bisa mengambilnya." Tabib menjelaskan padaku.


Jadi begitu ....


Aku pun tersadar dengan apa alasanku datang ke dunia ini. Ternyata dipercayakan untuk menjaga pohon surga itu. Tapi masalahnya, apakah aku harus kembali ke Angkasa untuk mengambilnya lebih dulu? Sedang jarak perjalanan memakan waktu yang tidak sebentar. Sungguh aku diterpa dilema kebingungan.

__ADS_1


"Tabib, apakah ada akar-akaran atau jenis tumbuhan yang mempunyai getah beracun di negeri ini?" tanyaku pada tabib.


__ADS_2