PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Aneh


__ADS_3

...Xi...



.........


"Ara!"


Tapi saat itu juga dia menahan tanganku. Aku pun melihat tanganku yang dipegang olehnya. Xi tidak ingin aku pergi.


"Dengan cara apa agar kau mau menerimaku?" tanyanya lalu berbalik menghadapku.


Aku pun berbalik menghadapnya. "Pangeran, kau tampan. Carilah yang sepadan denganmu," kataku, lalu melepas pegangan tangannya. Aku beranjak pergi.


"Ara!"


Xi seolah tidak ingin aku pergi. Dia kembali mengejarku. Dia kemudian...


Pangeran ...?!


Saat itu juga kurasakan hangat tubuhnya menerpaku. Xi memelukku dari belakang. Dia melingkarkan kedua tangannya di perutku. Dan tentu saja hal ini sudah amat menyalahi aturan. Aku pun berusaha melepaskan diri darinya. Tapi dia semakin erat memelukku.

__ADS_1


"Pangeran, tolong lepaskan!" pintaku kesal.


"Ara, aku menyukaimu. Terimalah aku." Dia pun membenamkan wajahnya di bahuku ini.


Sungguh aku kesal bukan main. Dia sudah keterlaluan memperlakukanku. Kuinjak saja kakinya dengan sepatu tinggiku. Saat itu juga dia melepaskan pelukannya. Bersamaan dengan tanganku yang melayang keras ke pipinya. Sebuah tamparan kuberikan padanya.


"Pangeran! Kau keterlaluan!" Aku pun marah padanya.


Xi diam. Dia memegangi pipinya yang terkena tamparanku. Dia memerhatikanku.


"Ini peringatan untukmu. Tolong jangan ganggu aku. Aku tidak mempunyai perasaan apapun padamu. Tolong jaga sopan santunmu terhadap wanita jika kau memang seorang pria!" kataku lalu bergegas pergi darinya.


"Ara, tunggu!"


"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, Ara! Meskipun kau tidak pernah mencintaiku. Aku berjanji pada diriku sendiri!"


Dia berteriak keras ke arahku. Namun, aku tidak memedulikannya. Aku tak peduli karena dia sudah keterlaluan padaku. Aku tidak suka diperlakukan semena-mena olehnya. Aku bukanlah miliknya. Aku milik Rainku semata.


Sore harinya...


Aku terbangun dari tidur. Dan entah mengapa saat terbangun sudah berada di kamarku sendiri. Aku lupa apa yang terjadi tadi. Seingatku tadi melihat Xi di ruang tamu ruang rawat ratu. Lalu kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi. Apakah dia menghipnotisku?

__ADS_1


"Aduh, kepalaku sakit."


Aku beranjak bangun lalu meneguk air minum yang tersedia di meja. Aku pun duduk sebentar sambil menarik napas dalam-dalam. Tak lama kemudian Rain juga datang ke kamarku. Dia mengetuk pintu lalu segera masuk ke dalam. Dan ya, kulihat pakaian kerajaannya kotor semua. Aku pun segera menanyakannya.


"Rain?"


"Aku mandi dulu, Ara. Tunggu ya."


Dia pun segera masuk ke kamar mandi dan memintaku untuk menunggu. Sepertinya dia baru saja pulang dari latihan perang bersama para pasukannya di alam liar. Dan ya, aku menunggunya saja selesai mandi. Sambil mencoba mengingat kembali apa yang terjadi tadi.


Seingatku tadi melihat Xi di ruang rawat ratu.


Entah mengapa aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelah itu. Aku hanya teringat dengan pertemuanku di ruang tamu saja. Dan karena penasaran, aku lekas-lekas keluar kamar untuk mencari Olive. Kudapatkan dia sedang membawa sesuatu menuju ke arah kamarku. Lantas saja aku bergegas mendekatinya.


"Olive!" Aku berjalan cepat ke arahnya.


"Nona?"


Kami pun akhirnya bertemu di belokan koridor istana lantai. Dia tampak semringah seperti habis bertemu dan diberi kejutan oleh kekasihnya.


"Olive, aku ingin bertanya padamu," kataku, mengutarakan maksud tujuan menemuinya.

__ADS_1


"Ada apa, Nona? Apakah Nona membutuhkan sesuatu?" tanyanya padaku.


__ADS_2