PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Makan Malam


__ADS_3

Sungguh aku tak kuasa menahan tangis karena takut kehilangannya. Rain begitu berarti untukku. Dia adalah segalanya bagiku.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Dia terus mengusap punggungku.


Sungguh aku tak tahu harus berkata apa. Yang jelas aku tidak ingin mimpi itu sampai terjadi. Aku ingin Rain tetap bersamaku, sesulit apapun keadaannya. Satu putaran matahari telah kami lewati bersama. Dan itu bukanlah waktu yang sebentar untuk kami. Aku tidak ingin kehilangannya. Selamanya dan sampai akhir masa.


Malam harinya...


Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Tapi sepertinya beberapa hari ini aku mengalami halusinasi yang buruk. Aku juga tidak tahu bagaimana cara mengobatinya. Tapi yang kurasakan saat ini adalah perasaan was-was di setiap waktu. Aku merasa tidak tenang dalam menjalani aktivitasku. Apa mungkin ini akibat dari rasa lelahku?


Sungguh kami berada di Terusa belum lama. Mungkin hanya sekitar satu minggu saja. Tapi di waktu yang sebentar itu membuatku mengalami beberapa kejadian aneh. Dari mulai kedatangan Xi, pembicaraan kami, sampai Rain jatuh sakit karena tergigit ular tak berbisa. Sungguh aku tak habis pikir akan hal ini.

__ADS_1


Saat ini aku sedang berkaca di depan cermin besar yang ada di kamar Rain. Aku baru saja mandi dan mengenakan gaun sutera berwarna putih. Entah mengapa aku menyukai warna putih akhir-akhir ini. Dan ya, Rainku sudah tampak baikan setelah meminum ramuan obat dari para tabib Angkasa. Sepertinya dia memang hanya cocok meminum obat yang berasal dari tanah negeri ini. Mungkin karena efek dari kecintaannya pada negeri. Sehingga untuk urusan obat saja harus dari negeri ini.


"Ara, kau sudah selesai?"


Rain datang, masuk ke dalam kamar dan sudah mengenakan pakaian kerajaannya. Jubah berwarna merah dan celana kerajaan berwarna putih. Dengan sabuk pedang di sisi kiri pinggangnya. Dan ya, wajahnya terlihat lebih berseri kali ini. Aku pun dengan senang menyambutnya.


Rain duduk di pinggir kasur. "Kak Cloud mengajak kita untuk makan malam bersama. Dia sebentar lagi akan datang." Rain mengatakannya padaku.


Rain tersenyum. "Kau terlalu lelah akhir-akhir ini, Ara. Jangan pikirkan urusan kerajaan. Ayah juga sudah mengangkat tiga menteri baru untuk membantu mengurus negeri ini. Nanti kita berkenalan dengan mereka, ya." Rain menenangkanku.


Saat itu juga aku mengangguk. Rasanya menteri negeri ini akan semakin banyak saja. Entah siapa yang diangkat oleh raja untuk menjadi menteri, aku ingin mengetahuinya segera.

__ADS_1


"Rain!"


Tak lama kudengar suara ketukan di pintu kamar Rain. Dan suara itu sangat kukenal sekali. Suara itu adalah suara Cloud. Putra sulung kerajaan ini.


"Dia sudah datang." Rain pun beranjak bangun untuk membukakan pintu. Saat pintu dibuka, saat itu juga Cloud melihatku sedang duduk di depan cermin kamar Rain.


"Ara?" Cloud tampak terkejut.


"Cloud." Aku pun berdiri untuk menyambut kedatangannya.


Raut wajah Cloud tiba-tiba berubah saat tahu aku berada di kamar Rain. Dan ya, sedari tadi ternyata aku memang berada di sini. Aku ketiduran di sofa selepas Cloud mengajak ku berbincang tadi pagi. Dan Rain segera mengangkatku ke kasur lalu tidur bersamanya. Benar-benar tidur tanpa melakukan apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2