PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Cuaca Buruk


__ADS_3

Aku menunjuk sebuah pohon yang tumbuh sendirian di sana. Jaraknya dekat dengan hutan Terusa tapi harus memutar arah untuk sampai ke sana. Katakanlah jika pepohonan itu tumbuh di garis batas kedua hutan negeri. Tabib pun mengerti maksudku.


"Itu pohon bidadari, Nona. Pohon itu sebenarnya milik Arthemis. Tapi sudah dihadiahkan kepada Terusa." Tabib menuturkannya padaku.


"Pohon bidadari?" Aku pun merasa heran mendengar namanya.


"Benar. Kami menyebutnya seperti itu. Jika ingin mengambil buahnya kita harus memutar arah agar tidak menyalahi aturan yang ada di perbatasan hutan ini." Tabib berkata lagi.


Arrghh ....


Saat itu juga entah mengapa aku merasa kesal sekali. Ingin mengambil buahnya saja harus sampai memutar arah. Padahal di perbatasan ini tidak ada yang berjaga. Apakah ini yang dinamakan kehidupan di istana?


Ya Tuhan, lelah sekali ternyata hidup di zaman kerajaan. Tidak bisa tidak mengikuti aturan.


Sebenarnya kami bisa saja langsung menuju ke pohon itu tanpa memutar arah. Toh, jarak sekitar satu kilometer dari perbatasan hutan merupakan tanah yang lapang. Tapi kembali lagi, kami tidak boleh menginjakkan kaki ke sana tanpa izin. Karena tanahnya sudah merupakan wilayah Arthemis.

__ADS_1


Sungguh menyebalkan semuanya harus mengikuti aturan. Tidak bisakah bersikap luwes saja agar memudahkan mencapai tujuan? Entah mengapa aku mulai kesal dengan sistem yang baku ini.


"Baiklah. Aku ikut saja."


Pada akhirnya aku pun mengikuti aturan yang ada. Lekas bergegas naik ke kuda lalu memutar arah untuk menuju ke pohon bidadari itu. Sedang raut wajahku menyiratkan kekesalan. Dan sepertinya Rain juga tahu. Dia tersenyum manis saat melihat ke arahku.


Sepulangnya dari hutan perbatasan...


Entah sudah jam berapa ini, kulihat langit tampak gelap di sana. Awan mendung berarak terlihat jelas di sekitar istana. Kami pun baru sampai di halaman belakangnya. Dan ya...


"Apa itu?!"


"Ara, cepat masuk ke istana!" Rain pun memintaku untuk lekas masuk ke istana.


Aku menurut lalu masuk ke istana bersamanya. Tak lupa juga buah dan daun yang kuambil dari hutan kubawa. Aku membawanya cukup banyak untuk obat ratu. Berharap ratu bisa segera sembuh.

__ADS_1


Ini aneh sekali. Apakah burung-burung itu memberi tanda akan bahaya yang datang?


Aku memikirkan hal ini sambil berjalan memasuki istana. Namun, tiba-tiba saja kudengar seorang prajurit berteriak dari kejauhan.


"Cepat tutup jendela dan pintu istana! Cepat!"


Tak tahu mengapa aku mendengar hal seperti itu. Aku dan Rain pun lekas masuk ke istana sebelum pintu dan jendelanya ditutup semua. Entah ada apa, rasa-rasanya sesuatu hal yang aneh mulai terjadi di sini. Dan tak lama kemudian...


"Rain!"


Aku segera memeluk Rain karena mendengar suara petir yang begitu menggelegar di langit. Rain pun segera memelukku.


"Tenang, Ara. Sepertinya hujan lebat tak lama lagi akan turun." Rain menenangkanku.


Sungguh jantungku ini berdebar kencang hingga seperti ingin melompat dari tempatnya. Bagaimana tidak, suara petir itu begitu kuat sekali. Sedang telingaku tidak mampu untuk mendengarnya.

__ADS_1


Suaranya menyeramkan sekali.


Aku pun begitu takut karena pikiranku mulai diselimuti oleh hal-hal yang aneh. Dan pada akhirnya Rain segera membawaku ke kamar untuk beristirahat dari perjalanan kami. Aku rasa memang butuh istirahat untuk menstabilkan pikiran ini. Aku khawatir sekali.


__ADS_2