
Satu jam kemudian...
Rain pergi sebentar untuk menemui Raja Terusa. Sedang aku bergegas mandi setelah dirinya. Kami sudah sempat makan malam tadi. Dan kini aku sedang menunggunya mendata para prajurit Terusa.
Selama makan malam, aku belum berani mengatakan apa yang terjadi tadi. Karena khawatir Rain akan salah berprasangka terhadapku. Terlebih dia masih mempunyai urusan dengan raja. Jadi ya, aku menunggu waktu yang tepat saja. Waktu di mana dia bergembira dan aku bisa sedikit bercerita.
Malam ini aku mengenakan pakaian kerajaan berbahan dasar sutra. Sangat jatuh dan berwarna ungu cerah. Tapi khusus malam, aku hanya memakai pelembab saja. Dan juga lip balm agar bibirku tidak terlalu kering. Maklum sudah tidak ada kegiatan, jadinya bermake up ringan.
"Manisan ini ternyata enak sekali."
Aku pun mencicipi manisan dari Xi. Duduk di teras kamar sambil menunggu Rain datang. Dan kulihat beberapa prajurit ada yang sedang berpatroli di kawasan kamarku ini. Di bawah sinar bulan yang semakin terang. Mungkin tak lama lagi juga purnama akan datang.
Manisan dari Xi ini berupa campuran berbagai macam buah-buahan yang sudah dikeringkan. Aku pun mencicipi berbagai macam buah yang ada. Ada mangga, jambu, kiwi, nanas dan yang lainnya. Satu per satu hingga tak sadar jika pangeranku sudah datang.
__ADS_1
"Sedang apa?" tanyanya sambil berjongkok di belakangku.
"Rain? Sudah selesai?" tanyaku padanya.
Rain mengangguk. Dia kemudian duduk di sampingku. "Sepertinya kerja keras kami sudah membuahkan hasil, Ara." Rain mengungkapkannya padaku.
"Sungguh? Bagaimana kau bisa yakin?" Aku pun segera menyeka mulutku. Kusingkirkan sejenak manisan yang ada di tanganku ini.
Rain mengangguk. Dia tersenyum padaku. "Prajurit Terusa ternyata cepat menangkap strategi pelatihan yang kuberikan pada mereka. Dan kini kami sudah sampai di setengah jalan. Mungkin dalam satu bulan kita bisa berpindah ke negeri yang lain." Rain menceritakannya dengan senang.
"Aku juga. Sepertinya penyakit yang diderita ratu sudah perlahan-lahan menghilang. Tapi aku belum bisa menjamin kapan hilang sempurnanya. Daun bidadari dan buahnya itu bereaksi cepat terhadap tubuh ratu. Dan ya, sekarang tinggal bintik-bintik kecil saja." Aku mengatakannya.
Rain mengusap kepalaku. "Kau memang bisa diandalkan, Ara. Aku yakin padamu." Dia memberi apresiasi dan semangat pada diriku.
__ADS_1
Aku mengangguk lalu memeluknya tanpa ragu. "Rain."
"Ya?" Kami pun berpelukan di bawah sinar rembulan.
"Ada yang mengganjal di hatiku berkaitan dengan penyakit Yang Mulia dan juga ratu," kataku padanya.
"Hm, apa itu? Katakan saja, Ara. Aku akan mendengarkannya," ucapnya sambil memelukku.
Sungguh tiada hari tanpa cinta di antara kami. Tiada waktu tanpa bermesraan seperti ini. Rain sudah menganggapku seperti ratunya sendiri. Dia tidak ragu untuk memelukku. Begitu juga aku yang menganggapnya sudah seperti rajaku. Aku tidak bisa menolak apa yang dipinta atau diucapkannya.
Aku mengangkat wajah lalu duduk tegak di sampingnya. Aku melepaskan pelukannya. "Rain, apa tidak ada yang aneh dengan yang diderita Yang Mulia atau ratu negeri ini?" Aku mengajaknya berpikir.
"Aneh?" Dia tampak tak mengerti.
__ADS_1
Aku menghela napas lalu mengembuskannya dengan cepat. "Begini." Aku pun mulai mengutarakannya. "Pada saat raja teracuni, obat penawarnya hanya dimiliki oleh dua negeri. Yaitu Asia dan Arthemis. Masih ingat dengan bunga malaikat itu?" tanyaku padanya.