PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Menjenguk Ratu


__ADS_3

"Di mana ruangannya, Rain?"


Tak lama kami juga sampai di lantai dua istana ini. Aku pun segera mengalihkan pembicaraan agar dia tidak mengingat lagi apa yang terjadi pada kami. Ya, hanya hal itu yang bisa kulakukan agar Rainku tidak bersedih. Bagaimanapun aku memang lebih mencintainya dibandingkan yang lain. Tapi semua kembali kepada pemilik skenario ini. Aku pun hanya bisa menanti. Kepada siapa jiwa dan raga ini akan dimiliki?


Sesampainya di ruang rawat Ratu Terusa...


Astaga!!!


Satu kata itulah yang kuucapkan di dalam hati saat masuk ke dalam ruangan rawat ratu. Bagaimana tidak? Ruangan ratu dipenuhi oleh bau amis yang entah dari mana asalnya. Kulihat ratu juga terbujur lemah tak berdaya di atas kasurnya. Kulitnya berbintik-bintik besar dan berwarna merah. Mirip seperti biduran jika di duniaku. Tapi hal yang kulihat ini lebih mengerikan sekali. Dan pastinya amat menyiksa ratu sendiri.


Kedatanganku ini tentu saja membuat energi negatif yang ada di sekitar kamar ratu bertabrakan dengan energi positifku. Ratu pun tampak membelalakan matanya saat melihat kedatanganku. Seperti terkejut dengan kedatanganku ini. Tapi saat jendela kamar dibuka dan sinar matahari menyorotnya, dia jadi lemas seketika. Seperti energi negatif di dalam tubuhnya terbakar sendiri. Dan ya aku menarik kesimpulan jika ratu memang terkena sihir. Namun, belum bisa dipastikan sihir jenis apa yang menimpanya.

__ADS_1


"Nona, perkenalkan saya Olive. Saya yang akan menemani Nona di istana." Seorang pelayan wanita menghampiriku saat tiba di ruangan rawat ratu.


"Terima kasih. Tolong jaga istriku. Bantu dia jika butuh apa-apa." Rain pun segera menyahutinya.


Rain?!


Saat itu juga aku terbelalak mendengarnya.


"Baik, Pangeran."


"Ara, aku tinggal berlatih dulu ya." Rain pun berpamitan padaku.

__ADS_1


Aku mengangguk. "Semangat, Sayang," kataku, memberikan semangat padanya. Saat itu juga kulihat Rain tersentak dengan kata sebutanku untuknya. Dia kemudian tersenyum lalu mengusap kepalaku ini. Dia pun pergi berlalu.


Aku melambaikan tangan padanya. Olive pun melihat kemesraan yang terjadi. Mungkin dia memakluminya akan siapa gerangan aku ini. Ya, sepertinya kabar pernikahan kami memang sudah tersebar di mana-mana. Tak terkecuali dengan Xi sendiri yang sudah mengetahuinya. Tapi anehnya, kenapa Xi masih menanyakan status resmi akan hubunganku? Benar-benar membingungkan sekali.


"Nona Ara, kami dengar Nona mempunyai keahlian di bidang pengobatan herbal. Apakah Nona bisa membantu meracikkan obat herbal untuk ratu kami?" tanya Olive kepadaku.


Aku tersenyum padanya. "Aku akan berusaha semampunya. Mungkin bisa dimulai dengan menceritakan riwayat penyakit ratu terlebih dahulu," kataku padanya.


"Baik, Nona. Saya akan menceritakan riwayat penyakit ratu kepada Nona. Mari."


Olive pun mengajak ku duduk di teras luar ruangan rawat ini. Yang mana berhadapan langsung dengan Rain yang sedang melatih pasukan di bawah sana. Aku pun jadi betah berbincang lama-lama di sini karena bisa melihat pangeranku di sana.

__ADS_1


Sudah, Ara! Kerja dulu! Bucinnya nanti lagi!


Lantas aku pun mulai bekerja dengan mendengarkan riwayat penyakit ratu terlebih dahulu. Sedang ratu bersama tabib dan pelayan wanitanya berada di dalam ruangan rawat. Aku sendiri akan fokus untuk mengobati ratu baru kemudian yang lainnya. Semoga saja bisa cepat terselesaikan dengan baik. Aku berharap itu.


__ADS_2