
Esok paginya...
Pagi ini aku terbangun lebih awal. Selepas makan malam bersama raja, aku pun kembali ke kamar ditemani Rain. Dan ya, Rain menemaniku sampai tertidur pulas. Sedang dia sendiri entah ke mana setelahnya. Tapi sebelum tidur kami memang sempat bercakap-cakap sebentar. Membahas permasalahan yang terjadi di negeri ini.
Di meja makan raja menceritakan jika ratu sedang mengalami kondisi sakit yang aneh. Aku sendiri belum tahu apa karena belum melihatnya secara langsung. Tapi dari cerita yang raja sampaikan padaku, aku bisa menarik kesimpulan jika penyakit ratu bukanlah penyakit medis. Melainkan penyakit non medis yang memang harus ditangani secara spiritual. Entah bagaimana, aku akan melihatnya terlebih dulu hari ini.
"Baiklah. Pakai gaun berwarna krim saja."
Di istana manapun memang diharuskan untuk bersikap formal dan juga baku. Tata cara makan, minum, berbicara bahkan sampai bercanda pun ada aturannya. Dan mungkin aku sudah terbiasa dengan hal itu. Sampai-sampai aku lupa bagaimana gaya bercanda di duniaku sendiri. Aku terbawa suasana istana sehingga hampir tak ingat lagi duniaku. Dan ya, terlebih ada kedua pangeranku di sini. Membuatku semakin lupa bumi sendiri.
__ADS_1
Sejujurnya aku rindu akan ayah dan ibu. Aku juga merindukan kedua adikku. Tapi portal belum bisa kembali terbuka setelah energiku terkuras habis untuk melawan sihir waktu itu. Dan ya, kini aku hanya bisa menunggunya. Menunggu waktu bisa bertemu kembali dengan keluargaku.
"Pakai lipstik merah saja."
Hari ini aku mengenakan make up yang lebih cerah agar penampilanku terlihat elegan dan juga berkelas. Sepatu perak juga menemani langkah kakiku berputar-putar di depan cermin. Tak lupa juga kusemprotkan parfum kesukaanku ke seluruh tubuh. Aku rasa sudah siap untuk menjalani hari ini. Ya, pertama-tama aku akan menemui Rainku terlebih dulu. Barulah menjenguk ratu bersamanya. Jadi mari kita mulai aktivitas hari ini.
Beberapa menit kemudian...
Aku dan Rain berjalan bersama menuju ruang rawat ratu yang berada di lantai dua istana. Selepas dari kamar, aku segera menemui Rain yang sedang melatih pasukan di belakang istana. Dan ternyata Terusa mempunyai lapangan yang sangat luas di belakang istana. Semua alat latihan perang juga tersedia di sana. Ratusan prajurit Angkasa pun ikut membantu para prajurit Terusa berlatih. Mereka sarapan pagi bersama di sini. Begitu juga dengan Rain, sang panglima. Ternyata dia sudah makan pagi.
__ADS_1
"Ya. Sekitar pukul tujuh. Nanti kau sarapan sendiri, Ara. Tak apa ya?" tanyanya seraya berjalan bersamaku.
Aku mengangguk.
Tadi aku memang bangun sebelum matahari terbit. Mungkin sekitar pukul lima kurang waktu duniaku. Setelah bangun aku juga tidak langsung lekas-lekas mandi, aku bermeditasi terlebih dahulu. Hingga akhirnya olahraga kecil kulakukan baru setelah itu mandi. Dan kini matahari baru saja terbit di ufuk timur. Mungkin sekitar enam pagi waktu duniaku.
"Rain, raja tampak biasa-biasa saja semalam. Padahal ratunya sedang sakit." Aku berbicara seperti itu padanya. Tak terasa kami pun sudah sampai di istana.
Rain tersenyum. "Begitulah seorang pria, Ara. Dia menutupi kesedihannya dan tidak ingin ada orang yang tahu karena tidak ingin terlihat lemah." Rain memberi tahuku sambil menaiki anak tangga menuju lantai dua.
__ADS_1
Rain ....
Saat itu juga aku tersadar akan maksud kata-katanya. Begitu jugalah yang dia lakukan selama ini untukku. Berusaha berlapang dada dengan memberikan senyumannya padaku. Padahal di dalam hatinya sangat sedih sekali, atas keputusan ayahnya yang akan menikahkan kami bertiga. Sungguh aku tak tahu harus berkata apa-apa lagi padanya. Aku merasa sangat bersalah.