
"Rain, kau di mana? Rain! Jangan membuatku panik, Rain!"
Jantungku semakin berdetak kencang karena kehilangan jejaknya. Aku pun mencoba menormalkan laju napas ini agar bisa tenang kembali. Tak lama suatu tempat pun teringat di benakku. Lantas saja aku segera pergi ke sana.
Di teras atap kediaman Rain...
Aku berlari tergesa-gesa menuju teras atap kediamannya. Aku menaiki beberapa anak tangga lalu membuka pintu untuk sampai ke sana. Dan ternyata...
"Rain!"
Kulihat pangeranku itu sedang menatap istana dari pagar teras. Dia pun menoleh ke arahku. "Ara?" Dia menyapaku yang sedari tadi mencarinya.
"Rain, aku mencarimu tahu!"
Aku pun kesal padanya. Rasanya lututku ini lemas sekali. Aku sangat mengkhawatirkannya, tapi dia seenaknya pergi tanpa bilang padaku. Jika bukan karena cinta, tentunya aku sudah marah padanya. Tapi, cinta di hati ini begitu besar. Aku pun tak sanggup berlama-lama marah. Mungkin dia juga tidak ingin mengganggu tidurku.
Rain tersenyum kepadaku. Senyum manis yang mencuri hati ini. Dia kemudian merentangkan kedua tangannya di hadapanku. "Kemarilah, Ara. Peluk aku," katanya seraya tersenyum bahagia.
__ADS_1
Jarak kami lumayan jauh. Mungkin ada sekitar dua puluh meter dari ujung ke ujung teras atap ini. Dan ya, aku membalas senyumnya. Aku pun mulai melangkahkan kaki ke arahnya. Dengan perasaan bahagia, kusambut pelukannya. Namun, saat itu juga...
"Rain, awas di belakangmu!" Tiba-tiba saja kulihat seekor gagak hitam besar terbang ke arahnya.
"Ara! Ara!!!"
Gagak hitam itu menyambar Rain. Dalam sekejap Rain pun dibawa pergi oleh gagak itu. Sontak aku berteriak kencang, tak peduli lagi menimbulkan kebisingan di istana atau tidak.
"Rain! Rain!!!!" Aku pun berteriak sekencang mungkin. "Tolooonggg!!!"
Aku berteriak kencang meminta pertolongan. Aku juga berlari cepat untuk mengejar burung gagak itu. Berharap bisa menarik kaki Rain agar lekas turun. Tapi, nyatanya aku tak mampu.
"Ara!!!"
Kedua tangan Rain berada di cengkeraman kaki burung gagak hitam itu. Rain pun semakin pergi menjauh dariku. Saat itu juga hatiku terasa pilu. Aku seperti kehilangan udaraku.
"Rain ...!!!"
__ADS_1
Dan pada akhirnya aku menangis sambil meneriakkan namanya. Entah mengapa tidak ada satu prajurit pun yang mendengar teriakanku ini. Rain pun hilang dari pandangan mataku.
"Rain ... jangan tinggalkan aku ...."
Aku menangis tersedu-sedu. Jatuh berlutut di teras atap kediamannya ini. Aku merasa bodoh sekali. Kenapa sampai tidak bisa menolong Rainku? Mana kemampuan yang kupunya dulu?
"Rain ... Rain ...." Air mataku pun tak mampu terbendung lagi. Aku menangis, terisak dalam keheningan dan kehampaan hati ini.
"Ara, Ara." Tak lama, perlahan-lahan aku mendengar suaranya. Suaranya yang memanggil namaku. "Ara, bangun, Ara. Kau kenapa?" Pipiku pun terasa ditepuk-tepuk olehnya. Saat itu juga aku mulai tersadar sedang berada di mana ini.
"Rain ...."
Aku pun membuka kedua mata. Dan kulihat pangeran kesayanganku itu masih berada di sisiku. Lekas saja aku memeluknya. Memeluk dengan erat dan sepenuh hatiku.
"Rain, jangan tinggalkan aku." Kata-kata itulah yang pertama kali kuucapkan padanya. Dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipi ini.
"Ara, kau kenapa?" Rain pun bertanya seperti itu. Sepertinya aku baru saja mengalami mimpi buruk tentangnya.
__ADS_1
"Rain, aku takut ...." Aku pun membenamkan wajahku ini di bahunya. Di bahu kokoh seorang pangeran kesayanganku. Rain pun mengusap punggungku.