PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Permintaan Darurat


__ADS_3

"Maafkan aku, Ara. Aku salah semalam." Dia pun semakin membuat pikiran ini tak karuan. Pikiran macam-macam itu mulai terlintas di benakku.


"Tidak, Rain. Aku yang seharusnya minta maaf, karena telah membebanimu dengan banyak ceritaku. Maafkan aku."


Butiran kristal bening itupun jatuh dari mataku. Jatuh membasahi bahu Rain yang kokoh. Pada akhirnya dia pun membalas pelukanku ini dengan perlahan. Tubuhnya seperti sulit digerakkan. Sepertinya aku memang harus pulang dulu ke Angkasa untuk mengabarkan berita ini kepada istana. Rain harus sembuh dulu.


Menjelang pertengahan malam...


"Ara ... Ara ... aku ingin pulang ...."


Itulah yang dikatakan berulang kali oleh Rain saat menjelang pertengahan malam. Aku pun bolak-balik mengompres dahinya karena demamnya semakin tinggi. Rain juga merasa mual sekali. Berulang kali dia ingin muntah tapi tidak mengeluarkan apa-apa dari dalam perutnya. Aku pun semakin cemas menjadi-jadi.


"Iya, kita kembali ke Angkasa besok ya," kataku dengan lirih.

__ADS_1


Baru kali ini di sepanjang perjalanan cinta kami, aku menemuinya seperti ini. Entah mengapa ramuan obat yang tabib buatkan seperti tidak berfungsi di tubuhnya. Aku pun harus meminta bantuan Olive untuk membuatkan ramuan herbalku sendiri. Rain meminum wedang jahe yang khusus kubuatkan untuknya. Dia tampak pucat dan tak bertenaga.


"Nona, apa perlu saya membangunkan raja?"


Olive menemaniku. Sedari tadi dia berada di kamarku. Dan ya sepertinya hari sudah akan berganti. Aku pun tak tahu apa yang harus kulakukan saat ini. Aku bingung, sungguh bingung mengapa Rain bisa jatuh sakit seperti ini.


"Bagaimana keadaan Yang Mulia Ratu?" tanyaku kepada Olive seraya duduk di pinggir kasur Rain. Rain tidak ingin kutinggal sama sekali. Dia ingin aku selalu berada di sisinya.


"Yang Mulia sekarang sudah berselera makan, Nona. Bintik-bintik di tubuhnya juga mulai mengecil. Tapi memang belum bisa beraktivitas seperti biasanya," tutur Olive kepadaku.


"Kau bisa menggantikan aku membuat ramuan untuk ratu?" tanyaku pada Olive yang berdiri tak jauh dariku.


"Memangnya Nona?" Dia tampak terkejut untuk menggantikan tugasku.

__ADS_1


"Besok pagi-pagi aku akan kembali ke Angkasa. Pangeran ingin pulang ke negerinya. Sehingga aku tak punya banyak waktu untuk membuat ramuan kesembuhan ratu lagi. Jadi bisakah kau yang menggantikannya?" tanyaku pada Olive.


Sungguh aku cemas sekali. Tak tahu harus


bagaimana saat ini selain menuruti keinginan pangeranku. Dan ya, akhirnya...


"Saya tidak tahu bagaimana caranya, Nona."


Olive pun tampak panik. Mungkin dia khawatir akan salah membuat ramuan. Apalagi ramuannya akan diberikan kepada ratu negeri ini.


Aku mengangguk, mengerti kegelisahannya. "Sekarang ambil semua bahan-bahan yang kubutuhkan. Aku akan mengajarimu di sini," kataku padanya.


Saat itu juga Olive mengerti. Aku pun segera memintanya untuk mencatatkan bahan-bahan apa saja yang diperlukan. Aku tidak ada jalan lain selain menitipkan ramuan ratu kepada Olive. Karena aku akan kembali ke Angkasa pagi-pagi.

__ADS_1


Lantas Olive pun menuruti semua instruksi dariku. Dia mencatat baik-baik bahan apa saja yang diperlukan dan segera mengambilnya di dapur istana. Dia juga memerhatikan bagaimana proses pembuatannya selepas semua bahannya sudah terkumpul. Dan ya, besok pagi aku akan kembali ke Angkasa. Tentunya tidak lupa untuk berpamitan pada raja.


__ADS_2