
"Di manapun aku, aku milikmu. Sejauh apapun pergi, jiwaku akan kembali padamu, Ara. Aku mencintaimu." Dia berkata seperti itu padaku.
Entah mengapa kata-katanya itu seperti sebuah tanda untukku. Tapi aku tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak tentangnya. Aku harus tetap berada di vibrasi positif agar yang tertarik juga positif. Aku tidak boleh membiarkan energi negatif menguasai diriku.
"Rain, aku juga mencintaimu."
Lantas kukecup bibirnya. Kunikmati betapa lembut bibir yang seringkali membuatku semakin memperdalam rasa cinta ini. Hingga akhirnya kami pun terhanyut dalam suasana. Saling beradu di tengah gejolak asmara yang membara. Aku pun rela dijamahnya begitu saja. Apakah aku sudah gila? Atau sedang dimabuk cinta? Sungguh aku ingin selalu bersamanya. Bersama hujanku tercinta, Rain Sky.
Esok paginya...
__ADS_1
Pagi hari telah datang setelah semalaman diterpa hujan. Dan kini aku sedang sibuk mengobati ratu yang sudah terbangun dari tidurnya. Aku pun mencoba memberikan pengobatan pada luar tubuhnya. Aku juga meminta ratu untuk sering-sering menjemur badan pada waktu pagi. Alhasil hal yang kukatakan ini mendapat respon tak biasa dari ratu. Tapi aku mencoba untuk memakluminya, karena nyatanya ratu memang terkena sihir.
Pagi ini aku menyayur bening daun bidara yang kudapatkan dari hutan. Aku juga membuat campuran getah buah dan daunnya yang kutumbuk menjadi satu lalu kuoleskan pada tubuh ratu. Alhasil bintik-bintik merah itu mulai meresponnya. Tubuh ratu jadi gatal-gatal seketika. Dia pun mencaciku.
Ya, ratu meminta kepada suaminya untuk mengusirku. Tapi karena sebelumnya sudah menceritakan kepada raja perihal yang diderita ratu, raja pun tampak mengerti respon dari istrinya itu. Hingga siang hari datang lalu memintaku untuk segera beristirahat dari pengobatan yang kulakukan, barulah aku bisa tenang sejenak.
Kini aku sedang minum kopi di perpustakaan istana Terusa. Tapi tidak sendiri, melainkan bersama Olive yang menemani. Percakapan singkat pun terjadi pada kami. Tentang bagaimana hubungan kedua negeri selama ini. Dan saat kutanyakan kepada Olive apakah mengenal Xi atau tidak, tentu saja dia dengan antusias menanggapinya. Olive ternyata mengenal putra mahkota dari Negeri Arthemis itu.
"Kau menyukainya?" tanyaku sambil menyeruput kopi ini.
__ADS_1
Olive mengangguk. Dia begitu senang saat aku membicarakan Xi. Seperti tekena hipnotis saja. Dia bak seorang fans K-Pop yang bertemu dengan idolanya. Aku pun jadi tak habis pikir, kenapa aku sendiri biasa-biasa saja terhadapnya. Padahal banyak orang lain yang memujanya.
"Em ... di buku ini tertulis jika pohon bidadari berasal dari Arthemis. Apakah di istana tidak menanamnya?" tanyaku kepada Olive.
Olive pun segera menjawabnya. "Memang benar, Nona. Tapi pohon bidadari itu tidak bisa tumbuh jika tidak dipupuki oleh darah manusia," terang Olive kepadaku.
"Ap-apa?!" Saat itu juga aku seperti salah mendengar jawaban.
"Benar, Nona. Pohon itu tidak bisa tumbuh jika tidak memenuhi persyaratannya," katanya lagi.
__ADS_1
Sejenak aku terdiam memikirkan hal ini. Mana mungkin pohon bidara Cina harus dipupuki oleh darah terlebih dahulu baru bisa tumbuh? Sungguh hal ini sangat menyeramkan sekali. Aku pun baru tahu jika di sini seperti itu. Tapi sungguh tidak masuk akal sama sekali.
"Em, bisa tolong jelaskan padaku apa maksudnya secara rinci?" tanyaku kepada Olive.