
Aku mengangguk. "Aku memang bertarung dengan siluman gagak hitam itu Rain." Aku menceritakan.
Rain mengusap kepalaku. "Sudahlah. Jangan pikirkan kekuatanmu yang belum pulih. Bisa digunakan saat terdesak saja itu sudah sangat bersyukur sekali. Artinya tidak hilang semuanya. Dan kau juga bisa beristirahat dari menguras pikiran." Rain menarikku agar merebahkan kepala di bahunya.
Aku mengangguk.
"Lekaslah bergegas. Aku ingin mengajakmu ke bukit pohon surga hari ini. Sudah lama sekali kita tidak ke sana." Dia mengecup kepalaku.
Kembali aku mengangguk. Rasanya tenang sekali jika bersamanya. Tak tahu mengapa Rainku ini begitu sempurna. Walau terkadang apa yang dikatakannya tidak bisa ditolak, tapi aku begitu menyayanginya. Aku tidak ingin kehilangannya.
__ADS_1
Rain, terima kasih.
Lantas aku pun bersiap-siap untuk berjalan-jalan ke bukit pohon surga. Aku akan ke sana dan berlibur bersama Rain hari ini. Semoga saja kabar gembira akan kudapatkan nanti. Tentang diriku dan negeri penuh cinta ini. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kami.
Sesampainya di bukit pohon surga...
Terkadang jika melihat langit yang bertaburan bintang, aku merasa seperti sebutir debu di tengah padang pasir. Bagaimana mungkin debu bisa menyombongkan diri di antara milyaran pasir yang terbentang luas. Begitu juga denganku yang diberi kelebihan oleh Tuhan. Aku merasa hal itu tidak perlu untuk dipublikasikan. Walau nyatanya, lambat laun mereka juga mengetahuinya. Seperti Zu dan Shu di Asia. Mereka diam-diam memerhatikan kelebihanku ini. Entah jika Xi. Aku tidak ingin terlalu memikirkannya.
"Udara begitu segar, Ara."
__ADS_1
Kini aku sedang berjalan bersama Rain menuju pohon surga yang ada di sana. Jarak kami sekitar sepuluh meter jauhnya. Kami pun turun dari kuda dengan membawa beberapa bekal untuk bersantai. Aku juga membawa sapu lidi untuk membersihkan lingkungan di sekitar sini. Dan ya, seperti biasa kuda Rain itu dibebaskan untuk mencari rumput sendiri. Kuda hitam yang kekar dan juga tangguh seperti pemiliknya.
"Kau ingin memakan buah surga? Tapi aku tidak yakin bisa mengambilnya banyak, Rain."
Kuungkapkan keresahan yang ada di hatiku.
Sungguh semenjak kekuatanku itu tak bersisa, aku jadi kurang percaya diri untuk melakukan sesuatu di luar logika. Contohnya saja saat datang ke sini, aku tidak yakin bisa mengambil banyak buahnya. Yang mana biasanya bisa sampai sepuluh buah dalam satu kali permintaan. Tapi entah jika sekarang, aku mencobanya saja demi Rain. Karena dia ingin sekali memakan buah surga ini.
Buah surga adalah buah tin jika di duniaku. Nama lain buah itu adalah buah ara, sama seperti namaku. Mungkin karena namanya sama, jadinya aku dipercaya untuk merawat pohon surga ini. Dan ya, aku pun lekas-lekas menyapu daun yang berguguran menggunakan sapu lidi. Aku sengaja membawanya dari istana. Namun, tak berapa lama kulihat Rain seperti berat melangkahkan kaki ke dekat pohon surga ini. Dia seperti gemetaran sendiri.
__ADS_1