PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Tolong Mengerti Aku


__ADS_3

"Rain, kau mau apel? Kukupaskan, ya?"


Di hadapanku sedang ada Rain yang menyantap makan siangnya. Tapi sungguh pria ini sejak dari istana bunga sampai detik ini hanya diam saja. Dia pun lekas-lekas menyelesaikan santap siangnya. Aku jadi tak enak sendiri karenanya. Rain pasti marah karena sempat melihat Zu menggandeng tanganku tadi.


"Rain ...." Aku pun menyapanya lagi.


Bukannya menjawab pertanyaanku, Rain malah cepat-cepat menyudahi makannya. Dia pun pergi meninggalkanku menuju anjungan kapal. Aku juga lekas-lekas mengejarnya. Aku tidak bisa membiarkannya diam begitu saja. Dia sangat berarti untukku.


"Rain, tunggu!" Aku pun tak lagi memedulikan makan siangku.


Perjalananku ke Angkasa masih panjang. Mungkin masih setengah perjalanan lagi. Tapi rasanya sudah tidak kuat jika didiamkan seperti ini. Aku ingin bicara kepada Rain. Terlebih titah raja telah mengikat kami.


"Rain ...."

__ADS_1


Kulihat pangeran berjubah merah itu berdiri di anjungan kapal seraya menatap samudera yang luas. Aku pun segera menghambur ke pelukannya. Aku memeluknya dari belakang. Kulingkarkan kedua tangan ini di perutnya. Sontak Rain pun menoleh ke arahku sejenak. Sepertinya dia juga tidak bisa berlama-lama mendiamiku.


"Rain, maaf. Aku tidak tahu jika ada Zu ataupun Xi di sana." Aku mulai membuka pembicaraan ini.


Rain diam. Dia diam tanpa bergerak sama sekali. Pada akhirnya aku pun kesal padanya. Kukepas pelukanku lalu berbicara di hadapannya. "Rain!" Aku pun memeluknya kembali dengan melingkarkan kedua tangan ini di lehernya. "Maafkan aku." Aku pun berbicara seperti itu kepadanya.


Perlahan-lahan detak jantungnya bisa kudengar. Detak jantung yang begitu bergemuruh di dalam hatinya. Aku bisa merasakan itu. Aku tahu bagaimana Rainku. Kami sudah lama bersama dan mengetahui sifat masing-masing. Aku rasa memang lebih mencintainya daripada yang lain.


"Rain, kalau kau diam saja, maka aku akan kembali ke duniaku. Aku tidak akan datang lagi ke sini." Aku mengancamnya.


"Rain, aku—"


"Aku tidak menyukainya, Ara." Dia seperti menyinggung Zu.

__ADS_1


"Maaf." Aku pun menundukkan kepala ini di hadapannya.


"Ara, sudah berapa kali kubilang. Jika Cloud bukan kakakku, tentu saja sudah kusingkirkan dirinya. Aku berusaha mengalah pada keadaan. Tapi kenapa keadaan semakin mendesakku? Tak bisakah hanya aku seorang yang memilikimu?" tanyanya yang membuatku sedih seketika.


Aku terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Aku juga sadar dengan cerita yang begitu berliku ini. Pada akhirnya kutarik napas panjang lalu membuat keputusan.


"Baiklah. Kita kembali ke duniaku saja. Kita tinggalkan dunia ini dan tidak kembali lagi. Bagaimana?" Aku mengajaknya untuk tinggal di duniaku.


Saat itu juga kulihat Rain menelan ludahnya. Dia pun memalingkan pandangannya dariku. "Kau tahu tugasku di sini, Ara." Dia mengingatkanku akan siapa dirinya. Saat itu juga aku menjadi serba salah.


Rain adalah seorang panglima. Dia tidak mungkin meninggalkan negerinya untukku. Dia memikirkan keamanan rakyat-rakyatnya. Dan aku sadari itu. Dia tidak bisa memikirkan dirinya sendiri. Keamanan rakyat Angkasa berada di tangannya.


"Maafkan aku, Rain. Aku terlalu gegabah dalam berbicara."

__ADS_1


Pada akhirnya aku mengaku salah, lalu lekas beranjak meninggalkannya. Namun, saat itu juga Rain memegang tanganku. Dia tidak ingin aku pergi dari sisinya. Aku pun berbalik melihatnya. Dan dia...


"Aku mencintaimu."


__ADS_2