
Menjelang petang...
Hujan deras mengguyur istana ini. Aku pun mencoba melihat apa yang terjadi dari balik kaca jendela kamarku. Dan ternyata, langit gelap disertai kilatan petir masih terlihat jelas di angkasa. Aku pun lekas menutup jendela karena takut. Aku tidak bisa melihat hal-hal seperti ini.
Tadi saat di perbatasan hutan, keadaan langit tampak cerah dan tidak ada tanda-tanda akan hujan. Tapi saat pulang ke istana, entah mengapa awan gelap sudah menyelimutinya. Dan ya, sepertinya Rain juga tidak bisa berlatih di ruang terbuka bersama pasukannya. Mereka diistirahatkan sementara waktu sampai awan hitam tidak ada lagi di angkasa. Dan kini pangeranku itu baru saja keluar dari kamar mandi. Dia menumpang mandi di sini.
"Terusa seringkali dilanda seperti ini, Ara."
Rain mengatakan sambil mengambil pakaian kerajaannya dari dalam lemari. Dia memang sengaja menitipkan semua keperluannya di sini. Maklum, kami sedang mabuk cinta. Jadi semuanya berbagi. Baik itu lemari ataupun kasur tidur ini.
"Lalu apa maksudmu memintaku untuk segera masuk saat melihat kawanan burung itu?" tanyaku sambil mengambil teh hangat yang telah disediakan di atas meja.
"Itu pertanda akan terjadi pergantian musim yang ekstrem, Ara. Aku tidak ingin kau sampai sakit karena perubahan iklim tersebut." Rain mengenakan pakaiannya. Aku pun duduk di kursi yang ada di kamarku.
__ADS_1
"Rain, entah mengapa aku sedikit heran dengan pohon yang ada di perbatasan hutan tadi." Aku mulai mengeluarkan unek-unekku.
"Pohon berwarna biru?" tanyanya seraya mengenakan celana.
Aku menggelengkan kepala. "Bukan. Pohon yang ada di kawasan hutan Arthemis. Yang berdiri sendiri itu," kataku lagi.
"Maksudmu?" Dia mulai bergegas mengenakan pakaiannya lalu mendekatiku.
Aku meneguk tehku lalu meletakkan gelasnya ke meja. "Kenapa mereka menyebutnya dengan sebutan pohon bidadari? Apakah memang pernah ada bidadari yang berteduh di pohon itu?" tanyaku pada Rain.
"Sayang, itu hanya istilah saja. Memangnya kau tahu jenis pohon apa yang ada di sana tadi?" Rain bertanya padaku.
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Pohon apa itu?" tanyanya kembali.
"Itu pohon Bidara, Rain. Bidara Cina kalau di duniaku. Buahnya mirip seperti buah apel, tapi bentuknya kecil seperti buah zaitun. Daun-daunnya bisa dipergunakan untuk menangkal sihir." Aku menjelaskan padanya.
Rain mengangguk-angguk. "Oh, jadi karena hal itu kau bersikeras untuk mengambilnya sampai rela memutar arah?" tanya Rain padaku.
Aku mengembuskan napas lelah. "Di dunia ini terlalu banyak aturannya. Kadang aku pusing sendiri. Bagaimana jika kita kembali ke duniaku?" tawarku padanya.
Rain tersenyum. Dia duduk di sampingku. Dia mengangkat tubuhku lalu didudukkan di atas pangkuannya. "Andai aku bukan pangeran, apakah kau masih mau denganku?" Dia tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Rain ...?" Saat itu juga aku jadi merasa bersalah dengan pertanyaanku.
"Andai aku bukan panglima tinggi, masihkah kau mencintaiku?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Rain, apa maksudmu? Aku tidak pernah melihatmu dari—"
Belum sempat meneruskan kata-kata, Rain menciumku. Saat itu juga aku tersadar akan keinginan yang sesungguhnya dari dalam hatinya. Tapi dia juga tidak bisa berlaku egois kepada rakyatnya. Aku mengerti posisi Rain saat ini. Tapi tidak adakah cara lain untuk kami agar bisa selalu bersama? Sungguh aku ingin bersamanya. Dialah pemilik hatiku sesungguhnya.