
"Kami akan buatkan pil penambah tenaga. Untuk sementara, Nona minum susu sapi yang sudah disterilkan ini. Besok pagi-pagi kami akan mengantarkan obatnya," tutur tabib istana kepadaku.
"Terima kasih, Tabib." Aku pun berterima kasih padanya. Tabib pun segera berpamitan pada kami.
Sungguh aku tidak tahu jika kelelahan sampai bisa menimbulkan hal seperti ini. Ilusi yang tidak-tidak, bahkan mimpi buruk terjadi. Mungkin benar jika aku terlalu terbebani pikiran sendiri. Dan mungkin juga memang harus merelaksasikan pikiran dengan berjalan-jalan sebentar. Tapi apa bisa melepaskan ketakutan yang sedang melanda hatiku ini? Sungguh aku memang sedang banyak pikiran.
Esok harinya...
Suara burung berkicau terdengar di telingaku. Sayup-sayup embusan angin juga bisa aku rasakan. Aku pun lekas bangun dari tidurku. Tidur pulas dengan melepaskan semua beban pikiran. Dan ya, rasanya sungguh menyenangkan. Aku ingin tidur nyenyak seperti semalam.
Rain dan Cloud memintaku untuk segera beristirahat setelah diperiksa oleh tabib istana. Semalam juga mereka mengatakan padaku untuk tidak memikirkan urusan pekerjaan dalam atau luar negeri. Mereka sepertinya mengerti bagaimana kondisiku yang sedang kelelahan ini. Dan ya, aku pun bersyukur karena cinta mereka masih menyelimuti hari-hariku. Walau nyatanya Rain lebih kusayangi dibanding kakaknya sendiri.
__ADS_1
Selepas diangkat menjadi raja, ternyata pangeran sulungku itu tidak menginginkan sikap yang formalitas dariku. Dia berkata, aku masih priamu. Dan ya, kata-kata itu begitu merenyuhkan hatiku. Bagaimana mungkin seorang raja mau mencintaiku yang berasal dari kalangan rakyat jelata? Tentu saja tidak akan bisa terjadi jika Tuhan tidak menghendaki.
Rain juga kini sudah baikan. Mungkin sekitar 70% dari kondisi tubuh sehatnya. Sehingga tinggal 30% Rain bisa kembali sehat seperti semula. Dan aku begitu senang dengan perubahan kesembuhan yang ada padanya. Ternyata pangeran bungsuku itu hanya bisa mengonsumsi obat-obatan dari negerinya. Aku pun bersyukur bisa melihatnya tersenyum ceria.
Perjalanan cinta kami telah melewati belasan purnama dan satu putaran matahari. Tak terasa waktu mengantarkan kami untuk menjalin cinta ini. Tapi ternyata, hatiku lebih memilih Rain dibandingkan yang lainnya. Aku merasa lebih mencintainya.
"Ara."
"Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baikan?" tanyanya seraya duduk di sisiku.
Aku tersenyum lalu mengangguk. Pangeranku pun mengusap kepalaku.
__ADS_1
"Pikiran itu berperan amat penting dalam kehidupan, Ara. 90% penyakit juga berasal dari pikiran. Kau harus pintar-pintar mengelola pikiranmu." Dia menasihatiku.
Aku tertegun sejenak. Mengalihkan pandangan darinya. Entah mengapa ingin mengungkapkan sesuatu pada si bungsu ini. Ya, siapa lagi kalau bukan Rain Sky.
"Rain ... kenapa kekuatanku belum pulih sempurna, ya? Hanya bisa digunakan saat terdesak saja?" tanyaku padanya.
Rain terdiam. Dia tampak memikirkan hal ini. Dia pun mengembuskan napasnya. "Mungkin Tuhan tidak ingin kau terlalu lelah, Ara. Berprasangka baik saja. Lagipula menggunakan kekuatan itu bisa membuatmu lemas, bukan?" tanya Rain padaku.
"Bagaimana kau tahu?" tanyaku balik.
Rain memegang tanganku. "Kak Cloud bercerita saat terjadi penyerangan di pelabuhan Angkasa. Katanya kau tidak sadarkan diri dengan rambut yang sudah terpotong di teras atap istana. Seperti habis bertarung saja." Rain menuturkan.
__ADS_1