
Xi pun tersenyum. Kami menikmati dansa sampai satu putaran lagu. Dan akhirnya dansa pertama diselesaikan. Para hadirin pun bertepuk tangan untuk para dansawan dan dansawati yang telah berpartisipasi. Aku juga meletakkan tangan kanan di dada ini lalu membungkukkan sedikit badan ke arah para hadirin. Kutunjukkan jika aku tamu kehormatan istana.
"Ara!"
Namun, tiba-tiba saja ada yang memanggilku. Teriakan suara seorang pria yang sepertinya kukenal.
Suara ini???
Sejenak aku mengingat. Sejenak kemudian aku segera tersadar siapa gerangan yang memanggilku. Lantas saja aku melihat ke asal suara. Dan ternyata seorang pangeran berjas hitam melangkah cepat ke arahku. Dia adalah Zu, putra mahkota sekaligus calon Raja Asia.
Astaga, gawat!
Sontak aku pun menelan ludah karena tak percaya. Ternyata dia juga datang ke pesta ini. Segera saja aku menjauhkan diri dari Xi. Aku tidak ingin menambah masalah lagi.
Beberapa saat kemudian...
__ADS_1
Zu datang menghampiri kami dengan langkah kaki yang tergesa. Putra mahkota Asia itu memasang wajah tak enak dipandang di hadapanku. Hingga akhirnya dia tiba di hadapan kami. Saat itu juga jantungku berpacu cepat tak menentu. Aku khawatir terjadi sesuatu.
"Hei, Kawan. Kau ke mana saja? Acara sudah memasuki inti." Tanpa merasa bersalah, Xi pun mengatakannya.
Ke mana saja? Itu berarti?!
"Aku sedang ke ruang Menteri Dalam Negeri. Kau sendiri sedang apa di sini?" Zu tampak ketus sekali.
"Em ...," Xi menghirup udara dengan cepat. "Aku baru saja selesai berdansa dengan Ara. Kau sudah kenal dengannya?" Xi menunjukku. Saat itu juga aku menelan banyak-banyak ludahku.
Zu menoleh ke arahku. Dia menatapku dengan tatapan tajam. "Sepertinya gadis yang kau ajak dansa ini sedang menghadapi masalah besar. Biarkan aku bicara padanya." Zu memegang tanganku.
Astaga, gawat!
"Zu, tunggu!" Xi pun berusaha menahannya.
__ADS_1
"Nanti kita bicarakan lagi."
Zu tidak menggubrisnya. Dia hanya berpesan seperti itu. Sontak para undangan yang hadir pun ikut memerhatikan kami. Pembawa acara juga segera mengalihkan suasana yang terjadi dengan membacakan atensi.
"Pangeran, sakit!"
Aku sendiri terus ditarik oleh Zu. Entah mau dibawa ke mana, aku juga tidak tahu. Aku tidak bisa mengelaknya sama sekali. Hingga akhirnya kami tiba di taman belakang istana ini. Saat itu juga dia melepas cengkeramannya pada tanganku.
"Pangeran!" Aku pun merasa kesal dengannya.
"Ara, kau benar-benar keterlaluan!" Dia memarahiku.
"Pa-pangeran ...?"
Saat itu juga kulihat sisi lain dari dirinya yang dipenuhi amarah. Dia bertolak pinggang sambil mengalihkan pandangannya sejenak dariku. Dia juga mengembuskan napasnya kuat-kuat. Hatiku semakin ikut tak karuan dibuatnya.
__ADS_1
Dia menghela napasnya. "Aku mencarimu saat akan kembali ke Asia. Tapi kau pergi begitu saja tanpa pamit padaku. Ara, jelaskan padaku apa yang membuatmu seperti itu?" Dia bertanya dengan raut wajah yang kesal.
Tentu saja pertanyaannya membuatku merasa bersalah. Bagaimana tidak, aku memang pergi tanpa pamit padanya. Aku tidak mempunyai sopan santun kepadanya. Tapi hal itu bukanlah kulakukan tanpa alasan, melainkan karena tidak mau dibawa ke Asia. Aku masih ingin berada di Angkasa. Sialnya, sesampainya di Angkasa malah diminta untuk ke Negeri Bunga. Benar-benar melelahkan sekali.