PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Cintaku


__ADS_3

Tiba-tiba saja atmosfer sekitar berubah sendu. Entah mengapa rasa takut akan kehilangan dirinya begitu besar melanda hatiku. Haruskah kukatakan isi hatiku ini? Rain tidak ingin kulemah karena hal yang belum terjadi.


"Adakah seseorang yang bisa kau percaya untuk mengemban tugas sebagai seorang panglima tinggi di istana?" tanyaku begitu saja.


"Ara, kenapa kau menanyakan hal itu?" tanyanya terheran.


Aku tersenyum. Senyum palsu untuk menutupi kesedihan yang tiba-tiba melanda hati ini. "Aku ingin menikah. Kita berdua," kataku yang membuat Rain menegakkan tubuhnya seketika.


"Ara ...."


Saat itu juga Rain menelan ludahnya. Matanya pun berkaca-kaca dengan apa yang kukatakan ini. Sebuah pilihan akhirnya kujatuhkan padanya.


Rain memelukku. Dia meraih tubuhku yang masih lemah ini. Aku pun membalas pelukannya. Hangat tubuhnya seolah membakar semangatku untuk terus menjalani hidup ini.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ara. Maafkan aku ...."


Sesaat kemudian aku merasakan ada yang jatuh di bahuku. Terasa dingin di saat kondisi tubuhku seperti ini. Dan perlahan-lahan sesuatu yang dingin itu mengalir dari bahu menuju ke punggungku. Saat itu juga aku menyadari jika Rainku menangis.


"Rain ...."


Entah mengapa aku juga ingin menangis. Malam ini terasa begitu sedih untuk kami. Apakah ini pertanda alam akan masalah besar yang akan menimpa kami? Apakah kami akan berpisah untuk selamanya? Sungguh aku tidak kuat walau hanya untuk membayangkannya saja. Aku sudah terlanjur mencintainya. Karena dialah cinta yang bisa menerimaku apa adanya. Dengan segala kekuranganku, dengan segala kesalahan yang pernah kuperbuat.


Ya Tuhan, tolong jangan pisahkan kami.


Malam harinya...


Rain memperlakukanku bak istrinya. Dia amat bertanggung jawab terhadapku. Dia mengelap badanku yang masih lemah ini dan juga membantuku untuk mengganti gaun. Dia juga menyisiri rambutku dan mendandaniku. Ya, walaupun dandanannya jauh dari kata sempurna, tapi aku amat menghargai usahanya itu.

__ADS_1


Bagiku, Rain adalah yang terbaik di antara yang terbaik. Perjalanan cinta kami amat didominasi oleh dirinya. Dan sepertinya aku sudah membuat keputusan yang tepat untuk memilihnya. Walau nyatanya Rain seperti tidak percaya dengan keputusan yang kuambil ini. Dia juga masih memberatkan rakyat-rakyatnya.


Aku menyayanginya. Aku nyaman bersamanya. Pada akhirnya hatiku bisa juga memilih. Keikhlasan hatinya untuk merelakanku bersama Cloud patut untuk diapresiasi. Karena kenyataannya semua pria tidak ingin diduakan. Tapi Rain dengan gagah berani merelakan. Hal itulah yang membuat hatiku semakin mantap memilihnya. Cintanya benar-benar murni kepadaku. Dan aku merasakan itu.


"Sudah siap untuk makan malam bersama raja, Sayang?" tanyanya setelah selesai mendandaniku.


Aku mengangguk. Dia pun mengusap pipiku.


"Kalau kau sakit, aku jadi kurang konsentrasi, Ara. Kau harus selalu sehat ya." Dia menatapku penuh cinta dan harapannya.


Aku mengangguk kembali. Rasa haru pun mulai menyelimuti hati ini.


"Baiklah. Kita ke ruang makan istana sekarang ya."

__ADS_1


Rain pun membantuku berdiri dari atas kursi rias ini. Dia memegangi kedua tanganku dengan hati-hati. Dia menjagaku agar tidak terjatuh lagi. Dialah cintaku, Rain Sky. Dan selamanya akan menjadi cintaku.


__ADS_2