PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Kecewa


__ADS_3

"Pa-pa-pangeran ...?!" Aku tak percaya dengan hal yang dia katakan.


Dia berjalan mendekat ke arahku. Dia juga menatapku dengan tatapan yang tidak seperti biasanya. Dia juga tersenyum padaku.


"Aku merasa nyaman saat bersamamu, Ara. Aku ingin kita lebih dekat lagi. Tapi jika di sini hal itu tidak mungkin terjadi. Apalagi jika kau ikut ke Asia. Sangat-sangat tidak mungkin. Di Angkasa juga aku tidak mempunyai izin lama untuk tinggal di sana. Maka, bisakah kau memberiku izin untuk membawamu berkelana?" tanyanya yang membuatku menelan ludah.


Sungguh menjelang siang ini aku dikejutkan dengan permintaan seorang putra mahkota yang notabene dari sebuah negeri yang berperang dingin dengan Angkasa. Aku merasa ada sesuatu hal besar yang akan segera terjadi bilamana kedekatanku ini diteruskan. Tapi kemungkinan juga masalah besar menungguku jika aku menolaknya. Sungguh aku tidak kuat lagi menghadapi semua ini. Aku ingin menyerah saja.


Haruskah kukatakan jika aku adalah calon ratu Angkasa?


Aku pusing sekali. Aku pikir hanya Zu dan setelah itu tidak ada lagi. Tapi kini bertambah Xi. Apakah aku harus menutup diri sehingga tidak ada pangeran yang bisa mendekatiku? Sungguh keadaan ini membuat kepalaku terasa sakit sekali. Aku butuh bantuan seseorang untuk memilih.

__ADS_1


"Em, Pangeran. Sebenarnya aku—"


"Zu telah mengatakan semuanya padaku." Dia menyela perkataanku.


"Semua?!" Saat itu juga aku terbelalak kaget mendengarnya.


"Ya." Dia mengangguk. "Dia memintaku untuk tidak mendekatimu. Karena kau adalah calon ratunya. Apa itu benar, Ara?" tanyanya serius.


"Aku ... aku tidak tahu harus berkata apa tentang hal itu, Pangeran Xi. Aku tidak berani menjawabnya," kataku, menanggapi.


"Lalu apa kalian ada ikatan resmi?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Sungguh detak jantungku tidak stabil dicecar pertanyaan seperti ini. Aku bingung harus menjawab apa. "Em, Pangeran. Aku rasa kita baru kenal. Aku juga sekarang mau siap-siap untuk kembali ke Angkasa." Aku mengalihkan pembicaraan.


Xi menunduk. Dia seperti memahami apa maksud kata-kataku. Dari raut wajahnya tersirat kekecewaan yang besar. Mungkinkah dia menyukaiku?


"Baiklah. Aku keluar. Terima kasih, Ara." Dia pun berlalu dariku.


Xi berjalan meninggalkanku tanpa menoleh sedikitpun. Dia bergegas keluar kamar lalu menutup pintunya dari luar. Sedang aku memikirkan hal yang baru saja terjadi. Keadaanku kini semakin rumit tak terkendali. Tak tahu mengapa semuanya bisa seperti ini. Aku pun duduk di pinggir kasur lalu menarik napas dalam. Aku kewalahan menghadapi cerita ini.


Ya Tuhan, jangan sampai terjadi perseteruan di antara mereka. Aku khawatir terjadi perkelahian yang membuat masing-masing negeri ikut andil dalam perseteruan. Jika hal itu benar akan terjadi, maka lebih baik aku kembali saja ke duniaku. Aku tidak ingin terjadi keributan di antara mereka. Aku mengalah saja agar mereka tidak ada yang mendapatkanku.


Entah mengapa aku mulai posesif. Rasa-rasanya ingin melarikan diri dari situasi ini. Tapi aku juga sadar jika portal belum bisa kembali terbuka. Sehingga aku masih harus menunggu Tetua Agung terlebih dahulu. Barulah aku bisa kembali ke bumiku.

__ADS_1


Sungguh aku ingin semuanya bahagia. Tapi apalah daya diriku sebagai manusia biasa. Aku mempunyai keterbatasan dalam menghadapi masalah. Tapi aku juga berharap jalan keluar kan selalu ada. Aku ingin mereka bahagia.


__ADS_2